
Tak seperti biasanya, hari ini pasar begitu terlihat ramai sekali. Bukan karena membludaknya pengunjung, namun ini adalah efek dari keputusan yang di ambil pemerintah daerah di kota. Terlihat beberapa pedagang sedang berdemo menolak keputusan yang dibuat Pemerintah Daerah. Dalam peraturan tertulis kalau mulai hari ini, pedagang yang berjualan di depan toko harus segera dikosongkan karena tempat itu akan kembali difungsikan menjadi lahan parkir seperti yang seharusnya. Para pedagang tidak terima karena mereka merasa sudah bertahun tahun memakai lahan itu dengan biaya yang cukup mahal tang sering para preman pungut dan juga bayar karcis harian kepada pihak pengelola pasar.
Berkali kali demo sempat memanas. Namun beruntung, tidak ada keributan besar sehingga suasana tetap terlihat aman dan terkendali.
Jaka, Dodit dan Melati, hanya bisa memandang iba kepada para pedagang yang berdemo tepat di depan kios. Tak terbayangkan betapa beratnya hidup mereka jika kehilangan lahan untuk mengais rejeki. Mereka memang salah, karena lahan itu memang sebenernya buat lahan parkir. Namun mereka tak peduli dan merasa memiliki tempat tersebut karena mereka menempati lahan tersebut sudah bertahun tahun tanpa masalah.
"Kasian mereka ya, Bang? Mana diantara mereka ada pedagang yang ngambil dagangan di tempat istriku lagi." Ucap Dodit yang berdiri disebelah Jaka dengan kedua tangan bertumpu pada etalase.
"Berapa orang yang ikut jualan kue buatan istrimu, Dit?" Tanya Jaka yang posisinya hampir sama dengan pria disebelahnya.
"Ada tujuh, Bang. Yang tiga jualan di pasar ini." Jawab Dodit.
"Berarti Risma bikin kuenya banyak banget dong, Dit?" Tanya Melati. Dia kini duduk di kursi kasir setelah tadi melihat Demo.
"Iya, makanya aku merasa kasian jika teringat dulu. Dia benar benar capek sendirian, nggak ada yang bantuin gitu." Cicit Dodit. Dia berbalik badan dan tubuhnya dia perosotkan hingga dia terduduk di lantai.
"Lah? Terus kalau sekarang?" Tanya Jaka masih dalam posisi yang sama.
"Kalau sekarang mending, karena aku selalu bantuin dia. Abis makan malam tiap sambil santai, kita mempersiapkan bahan. Yang awalnya selesai jam sebelas malam, sejak aku bantu, jam sembilan sudah selesai. Begitu pun paginya. Dia bangun jam dua, aku jam empat atau lima bangun, terus bantuin ngerjain sisanya." Terang Dodit.
"Wah! Suami teladan kamu, Dit." Puji Melati. Dia dan suaminya benar benar bangga dengan Dodit, meski usianya masih muda, dia benar benar menjadi pria yang bertanggung jawab.
__ADS_1
"Iya dong, harus! Apalagi aku lagi ada target, Mba." Balas Dodit jumawa.
"Target? Target apaan?" Tanya Melati lagi. Dahinya berkerut menatap Dodit. Begitu juga Jaka. Meski bukan dia yang bertanya, namun dia juga ikut penasaran.
"Pokoknya satu atau dua bulan ini, benih yang aku semburkan, salah satunya harus ada yang jadi anak, Mba." Seketika Melati dan Jaka tergelak mendengar perkataan Dodit.
"Astaga, Dit! Kirain target apaan? Eh tapi ada benarnya juga kok, Dit. Benihku juga harus jadi bayi." Ucap Jaka. Kini dia ikut ikutan duduk sama seperti Dodit.
"Wah! Berarti, Bang Jaka, lembur terus dong?" Tanya Dodit merasa senang karena ada pria yang sepemikiran.
"Iya dong, Dit. Sebelum tidur main dulu." Balas Jaka.
"Kalian lagi apa apaan sih? Kayak gitu diceritain?" Oceh Melati. Dia merasa geli mendengar sang suami dan sepupu seenaknya membahasa masalah benih.
"Bang Jaka, biasanya pake gaya apa kalau maen?" Tanya Dodit. Wajahnya serius menatap suhunya.
"Ya macam macam gaya, Dit. Tapi seringnya sih abang yang di atas. Kata Melati, Abang, gantengnya beda kalau lagi diatas dia." Oceh Jaka tanpa peduli sang istri yang tatapannya tidak bisa diartikan.
"Wah kok sama ya, Bang. Tapi Risma lebih suka gaya yang duduk di pangkuanku, Bang. Bawah sodok atas kenyot. Katanya mantap dan aku terlihat sangat tampan pas posisi seperti itu . Apalagi pas mau nyembur katanya tampanku beda. Risma nggak berhenti memuji ketampananku." Celoteh Dodit.
"Dodit!" bentak Melati. Seketika kedua pria itu menghentikan obrolannya dan menatap Melati dengan tatapan penuh tanya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih, Yang? kok teriak teriak?" Tanya Jaka tanpa ada rasa salah.
"Kalian yang kenapa? Kayak gitu di cerita ceritain! Malu tahu!" Sungut Melati.
"Kenapa mesti malu? Kan kita ngobrolin istri sendiri bukan wanita lain? Ya kan, Dit?" Bela Jaka dan diperkuat dengan anggukan Dodit.
"Tapi apa harus cerita hubungan ranjang segala gitu? Kan bisa bahas yang lain?" Tanya Melati dengan wajah benar benar emosi.
"Loh? Namanya juga ngobrol, Yang. Emang apa salahnya ngobrol tentang hubungan ranjang?" Jaka masih tak mau mengalah.
"Tahu ah! Nyebelin!" Melati beranjak menuju lantai atas dengan kesal. Sementara Jaka dan Dodit terdiam dan merasa heran.
"Bang, Mba Mel marah tuh." Ucap Dodit.
"Tenang, bentar lagi pasti marahnya hilang." Balas Jaka sambil berdiri.
"Gimana caranya?" Tanya Dodit lagi dan dia juga ikutan berdiri.
"Dengan ini, pasti luluh dia." Balas Jaka sambil nunjukin ketiaknya. " Aku ke atas dulu, Dit. Aku yakin, setelah istriku cium ketiak, terus kita..." Lanjut jaka dan dia segera pergi menyusul sang istri meninggalkan Dodit yang sudah paham dengan apa yang Jaka katakan.
"Bang! Jangan main di toko dong? Bang Jaka! Jangan bikin aku iri? BANG JAKA!!!"
__ADS_1
...@@@@@...