ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Mitos Keluarga Jaka..


__ADS_3

Jam di dinding menunjukkan pukul satu siang lebih sedikit. Udara diluar nampak tidak terlalu panas. Suasana begitu hening. Hanya ada dua manusia meringkuk diatas karpet dengan penuh keringat dan tanpa memakai apa apa. Keduanya baru saja menuntaskan malam pertama yang tertunda dan menggantinya siang pertama mereka setelah sah menjadi suami istri.


Sang pria menatap langit langit dengan berbantalkan lengan tangannya. Sedangkan sang wanita sedang asyik menghirup salah satu sisi ketiak suaminya yang berbulu lebat penuh keringat. Hampir semua bagian ketiak itu tak ada yang terlewat dari indra penciumannya.


"Bulunya makin lebat ya, Yang?" Tanya sang istri di sela sela menikmati aroma asam tubuh sang suami, Jaka.


"Sepertinya, Yang. di rapiin dikit ya?" Balas sang suami dan tentu saja reaksi sang istri yaitu Melati langsung mengangkat kepalanya sedikit dan menatap tajam suaminya.


"Jangan!" Seru Melati. Dia mengangkat jarinya dan dengan gemas menusuk pipi Jaka berapa kali, "Jangan! Jangan! Jangan! Jangan!"


Jaka tergelak sambil menutupi pipinya dengan tangan. Setiap membahas bulu ketiak, reaksi Melati memang sangat berlebihan. Namun Jaka tak pernah marah. Malah semakin bangga.


"Padahal kalau dirapiin dikit juga pasti tumbuh lagi, Yang?" Tukas Jaka ketika sang istri kembali ke posisi semula yaitu hidung menempel di bulu ketiak Jaka.


"Nggak mau, malas nungguin." Jaka menggeleng mendengar jawaban sang istri.


"Ini ketiak yang satu nggak dicium? Bau asem banget ini?" Tanpa bersuara, Melati beranjak melewati tubuh suaminya dan langsung menempel di ketiak yang satunya. Jaka tersemyum dengan mata yang masih menatap langit langit. Dia terdiam membiarkan sang istri menghirup aroma asam di ketiaknya sampai puas.


Setelah merasa puas dengan kedua ketiak suaminya, Melati kembali beranjak. Namun kali ini posisinya dia tengkurap di atas tubuh sang suami. Mata mereka beradu dan sejenak bibir mereka saling serang.

__ADS_1


"Yang ambilin bantal kursi itu, tanganku nggak nyampe?" Tunjuk Jaka ke arah atas. Melati pun menurutinya. Dia beranjak sedikit dan mengambil bantal kursi kemudian memberikan ke suaminya dan Melati kembali tengkurap diatas tubuh Jaka.


"Yang, itu yang di dalam kamar, tiga karung, isinya amplop semua apa?" Tanya Melati.


"Iya." Jawab Jaka dan kini dia melingkarkan tangannya ditubuh sang istri.


"Banyak benar? Punya kamu doang apa bukan?" Tanya Melati lagi.


"Punya aku aja. punya emak dan bapak ada di kamar bawah." Jawab Jaka dan Melati manggut manggut.


"Yang, aku boleh tanya?" Ucap Melati.


"Tanya apa?" Balas Jaka.


"Aku sendiri juga kurang tahu, Yang. Tapi Bapak, Pakde dan Om om ku pernah cerita. Dulu katanya, saat tujuh hari almarhum eyang mau nikah, setiap malam hari bermimpi aneh. Katanya eyang seperti di perkosa gitu. Tapi tidak jelas wajahnya." Balas Jaka.


"Terus?" Tanya Melati penasaran.


"Eyang tujuh malam berturut turut mimpi yang sama. Dan setiap selesai selalu sosok yang memperkosa itu bilang, katanya keturunan eyang selalu akan berkecukupan rejeki dan mempunyai wajah yang sangat rupawan sampai tujuh turunan, Yang. Nah, eyang cuek aja karena eyang pikir itu hanya mimpi. Eh nggak tahunya saat Pakde Rohman lahir, eyang sangat terkejut, Pakde Rohman masih bayi saja tampan banget. Namun eyang berpikir itu hanya kebetulan. Dan eyang semakin takjub setelah beberapa tahun kemudian Bapak lahir, trus si kembar Om Rizki dengan Om Rizik dan terakhir Tante Rumina. Dua saudara eyang keturunannya biasa aja. Kamu lihat kan kemarin?" Jelas Jaka.

__ADS_1


"Iya, yah? Berarti kalau kita punya anak? Bisa bisa, anak kita juga sangat tampan dan cantik, dong?" Tanya Melati dengan wajah berbinar.


"Ya kamu bisa lihat anaknya Yanti, Yang. Udah terlihat kan? Gimana wajahnya?"


Ah iya, Altaf juga ketampannya sudah terlihat dan juga anaknya Bang Judika, Bang janu dan Mba Juwi." Ucap Melati lagi dengan rasa kagum yang tak surut.


"Ya gitu, Yang. Makanya, besok kita seharian bikin anak. mumpung semua lagi pergi. Tapi kalau semua nggak pergi, kita ke rumah baru kamu, Yang." Tukas Jaka.


"Loh? Kenapa ke rumah aku? Disini kan sama aja, Yang?" Tanya Melati heran.


"Di sini kita nggak fokus bikin anak kalau ada orang. Kalau dirumah baru kamu kan sepi. Kita bisa setiap saat ada kesempatan. Lagian kan aku sudah bilang, aku nggak akan mengijinkan kamu memakai baju dan itu besok." Jawab Jaka dengan tegas dan Melati membalasnya dengan cebikan bibir.


"Dih! Masa kayak gitu masih diinget inget aja? Nggak ada kerjaan banget." Sungut Melati dan Jaka hanya tergelak.


"Kan biar kita cepat punya anak? Bukankah semakin sering kita berusaha, maka peluang punya anaknya semakin besar. Apa lagi kamu bilang kalau habis datang bulan adalah masa paling subur." Balas Jaka. Tangannya membelai wajah sang istri.


"Iya, iya." Sungut Melati.


"Ya udah, mumpung mereka belum pada pulang, kita lanjut ronde kedua. Sini, kasih aku cium?"

__ADS_1


Melati pun menurut. Dia memajukan kepalanya dan menempelkan bibirnya ke bibir suaminya. Perang bibir itu semakin liar dan ronde kedua pun dilaksanakan.


...@@@@@...


__ADS_2