ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Setelah Itu..


__ADS_3

Puas melakukan ronde ke dua, kini keduanya nampak berbaring dengan Anaconda masih tertancap pada belahan si tembem. Di rengkuhnya tubuh sang perempuan ke dalam pelukannya.


Nafas yang tadi memburu kini berangsur normal kembali. Keduanya terdiam melepas rasa lelah yang penuh kenikmatan.


Bibir sang wanita yang kebetulan berada tepat di hadapan dada sang pria berkali kali melayangkan kecupan pada dada bertato yang menjadi daya tarik penambah ketampanan sang pria.


"Yang, rencananya kita mau menemui perempuan bernama Ayu jam berapa?" Tanya Melati dengan tatapan mengarah ke dada bidang milik kekasihnya.


"Jam 6 aja abis maghrib. Sekarang jam berapa sih?" Tanya Jaka.


"Nggak tahu, jam tiga mungkin. Emang nanti kamu akan ngomong apa, Yang? Apa kamu akan menceritakan hubungan kita?" Tanya Melati lagi.


"Jujur sih, Yang. Aku aja bingung mau ngomong apa. Orang aku nggak kenal banget. Tapi ya ngga ada salahnya kan, Yang. Kalau kita jujur aja tentang hubungan kita. Biar dia nggak terlalu berharap." Balas Jaka dan Melati hanya mengangguk sebagai tanda dia paham dengan apa yang di katakan kekasihnya.


Melati tiba tiba melepas pelukannya dan dia segera bangkit.


"Mau kemana?" Tanya Jaka memegangi tangan Melati.


"Mau makan, Yang. Lapar. Kamu mau makan juga nggak?" Tawar Melati.

__ADS_1


"Suapin." Rengek Jaka dan Melati hanya tersenyum simpul kemudian dia beranjak ke meja makan mengambil makanan yang sudah siap sejak tadi pagi.


Melati segera mengambil piring dan mengisinya dengan nasi, oseng kangkung, ayam goreng dan tahu krispi. Tak lupa juga dia mengambil segelas besar air minum lalu membawanya ke dalam kamar.


Jaka yang sedari tadi berbaring, segera bangkit dan duduk begitu melihat Melati masuk ke dalam kamar dengan membawa sepiring makanan.


Acara makan sepiring berdua pun di mulai dengan di iringi candaan seputar perjalanan kisah asmara mereka.


Sementara di tempat lain. Hujan tak menghalangi semangat seorang pemuda mengantarkan barang pesanan ke rumah langganan. Beruntung sang bos selalu menyediakan fasilitas penunjang seperti jas hujan jadi pemuda itu tak terlalu basah kuyup.


Sampai di tempat tujuan, pemuda itu di buat tercengang. Lagi lagi dia melihat pintu terbuka padahal di luar hujan begitu lebat.


"Mba Risma!" Teriaknya memanggil sang pemilik rumah namun tak terdengar sahutan.


"Mba! Mba Risma!" Teriaknya sekali lagi.


"Iya! Sebentar!" Kali ini terdengar sahutan dari dalam yang membuat pemuda itu merasa lega.


Namun saat pemuda itu masuk dan hendak duduk tiba tiba dia di kejutkan dengan suara.

__ADS_1


"Aakhh!" Terdengar sang pemilik rumah berteriak hingga membuat pemuda itu terkejut. Pemuda itu bangkit.


"Mba Risma? Kenapa?" Teriaknya tanpa berani mendekat.


"Kaki ku terkilir, Dit. Aduh!" Pekiknya dengan suara yang lumayan keras.


"Butuh bantuan nggak, Mba? Kalau butuh aku masuk." Teriak Dodit. Namun tak ada sahutan dari dalam hingga membuat Dodit panik.


"Mba? Gimana? Butuh bantuan nggak?" Teriak Dodit lagi.


"Nggak, Dit! Mba bisa sendiri!" Jawab Risma dan itu membuat Dodit bisa bernafas lega.


Namun rasa lega itu tak berlangsung lama karena dari dalam sayup sayup terdengar suara rintihan menahan sakit. Dodit pun merasa panik. Pemuda itu terdiam sembari berpikir.


"Sepertinya Mba Risma butuh pertolongan?" Gumamnya.


Dengan mempertimbangkan keadaan yang ada, Dodit akhirnya memberanikan diri melangkah masuk ke dalam rumah Risma. Matanya berkeliling mencari sosok yang terdengar sedang mengaduh. Diarahkannya langkah dan pandangannya menuju dapur. Dan saat Dodit sampai di dapur. Matanya membulat sempurna melihat keadaan perempuan itu.


"Mba Risma!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2