
Menjelang siang, rumah begitu nampak sepi. Hal itu terjadi lantaran keluarga besar Jaka memilih jalan jalan menghabiskan waktu mengunjungi tempat wisata yang ada di kota ini. Hampir semuanya ikut pergi. Di rumah itu, hanya terlihat Jaka yang mengawasi orang orang sedang mengangkut perlengkapan tenda dan panggung pengantin ke sebuah truk. Pembongkaran sudah selesai di lakukan. Hanya tinggal mengangkut kemudian mereka pergi dari rumah Jaka.
"Mas, kami permisi dulu, yah?" Pamit salah satu tukang yang melakukan pembongkaran.
"Oh sudah selesai, Mas?" Tanya Jaka.
"Sudah." Jawab orang itu.
"Baiklah, makasih ya Mas." Setelah menjabat tangan Jaka, orang orang itupun melangkah menuju truk dan tak butuh waktu lama truk tersebut melesat meninggalkan rumah Jaka.
Jaka segera masuk. Matanya memandang keliling ruangan, tak terlihat sang istri disekitar sana. Jaka menyimpulkan kalau sang istri berada di lantai atas.
Saat Jaka menyadari rumah terasa sepi, Mata Jaka tiba tiba berbinar. Tampaknya dia mendapatkan ide bagus. Jaka memeriksa sekali lagi keadaan rumah dari depan hingga belakang. Dan ternyata rumah memang benar benar sepi. Jaka segera mengunci pintu dan dengan tersenyum riang dia langsung melangkah menuju lantai atas.
Saat kakinya sampai di lantai atas, Jaka melihat sang istri tengah duduk dan sangat serius menatap layar ponsel. Dengan senyum sumringah, Jaka langsung berjalan ke arahnya sembari melepas kaos dan duduk tepat. Tanpa basa basi, Jaka langsung menurunkan resleting baju istrinya yang berada dipunggung.
"Sayang!" Pekik Melati. Dia kaget saat tiba tiba Jaka duduk di belakangnya dan menurunkan resleting bajunya, "Sayang mau ngapain?"
"Mau merayakan ulang tahun, Yang." Melati seketika tersadar saat dia mengetahui tujuan suaminya setelah mendengarkan jawaban Jaka.
__ADS_1
Melati pun pasrah saja saat satu persatu yang menempel di badan dia dilepas oleh suaminya. Mau menolak pun percuma, pasti tetap ujung ujungnya Melati yang kalah.
"Berdiri, Yang!" Titah Jaka dan lagi lagi Melati menurutinya. Dengan lincah Jaka membuka pengait celana yang Melati pakai dan sekali tarik, dua lapis kain penutup terlepas dari tempatnya. Kini tubuh seksi itu benar benar tidak memakai apa apa.
"Sini, Yang. Duduk disini? Tapi menghadap sini, yah?" Perintah Jaka lagi. Sang istri masih setia menurutinya.
Melati duduk dipangkuan Jaka dengan badan. Dua benda kembar itu nampak begitu indah bertengger ditempatnya tepat di depan wajah sang suami.
"Aku kangen banget dengan si kembar, Yang." Ucap Jaka. Begitu selesai berbicara, Mulutnya langsung mengecup puncak si kembar satu persatu.
"Apa nggak ada orang, Yang?" Tanya Melati yang mulai merasakan kenikmatan permainan bibir suaminya.
"Aman. Mereka paling nanti pulang sore." Jawab Jaka disela sela menikmati si kembar dengan rakusnya.
"Ya untuk hari ini. Tapi untuk besok, tidak. Kalau besok ada yang tidak ikut, kita pindah ke rumahmu yang sepi. Biar kita bebas nggak pakai apa apa tanpa ada pengganggu."
"Waduh."
Jaka melanjutkan kegiatannya. Dia benar benar seperti kelaparan. Dengan rakus mulutnya menerkam si kembar bergantian. Hasrat keduanya pun semakin lama semakin membumbung tinggi.
__ADS_1
"Turun bentar, Yang. Aku mau lepas baju." Pinta Jaka sejenak menghentikan kegiatan memakan si kembar. Melati pun menurutinya. Dia turun dari pangkuan Jaka dan suaminya dengan cepat melepas semua yang melekat di tubuhnya. Setelah terlepas semua, Jaka kembali duduk meraih tubuh sang istri ke posisi sama seperti yang tadi. Dan kembali mulut Jaka terus memakan si kembar satu persatu. Kadang aktifitas itu juga diselingi dengan perang bibir yang begitu panas.
"Mau makan si tembem nggak, Yang?" Tawar Melati.
"Nggak lah, si tembem udah basah banget. Takut kamu meraih puncak pas dimulut. kasian benih anak kita terbuang sia sia. Padahal kamu lagi masa subur." Mendengar jawaban sang suami, senyum Melati terkembang. Baru satu hari menjadi suaminya, Jaka sudah langsung memikirkan sang anak.
"Masukin, Yang. Aku udah kangen banget sama punya kamu." Rintih Melati. Nafasnya sudah menderu tak beraturan.
Tanpa menjawab, Jaka menghentikan kegiatannya. Tangannya langsung memegang anaconda dan mulai mengarahkan kepala anaconda ke bibir sitembem yang sudah sangat basah. Sebelum masuk, kepala anaconda di gerak gerakkan di bibir si tembem sejenak. Setelah itu perlahan lahan kepala anaconda mulai membelah si tembem. Tanpa menungu perintah, Melati langsung menurunkan badannya perlahan. perlahan lahan kepala anaconda mulai menembus ke dalam si tembem. Dan tak butuh lama seluruh badan anaconda dengan sukses masuk memenuhi lubang si tembem. Melati mulai menggerakkan badannya naik turun dengan suara rintihan yang begitu menggoda. Jaka pun tak berdiam diri. Pinggangnya juga naik turun menyodok si tembem hingga mentok.
"Enak banget, Yang." Desis Melati. Jaka tidak menimpalinya. Dia terlalu sibuk dengan si kembar dan membuat tanda merah di semua permukaan sisi si kembar.
Pelan pelan tubuh Melati bergerak naik turun, dan lama kelamaan gerakan tubuh itu pun terlihat semakin cepat. Erangan dan rintihan keluar dari bibir keduanya.
"Kamu cantik banget saat kayak gini, Yang." Racau Jaka.
"Terus, Yang. Agak cepat sedikit."
"Oke."
__ADS_1
Plok, Plok, Plok.
...@@@@@...