ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Ada Yang Ngaku Ngaku..


__ADS_3

Mata Juna membelalak. Dia cepat cepat mengangkat kepalanya. Juna juga kembali berusaha melepas cengkraman itu dan kali ini berhasil. Sekarang tinggal melepaskan tangan yang tertindih.


Di perhatikannya kembali wajah terlelap Wulan. Merasa aman, Juna pun kembali berusaha menarik tangannya. Ketika dia sedang bersusah payah, kepala Wulan berpindah posisi dengan sendirinya dan akhirnya tangan Juna pun terlepas.


"Gila! sampai kebas gini!" Keluh Juna.


Dia segera berdiri dan kembali ke atas dan merebahkan tubuhnya. Di rabanya bibir sendiri dan Juna tersenyum simpul.


"Lumayan, dapat pipi." Gumamnya dan dia pun mulai memejamkan mata dengan senyum terkembang sempurna.


###


Tak terasa waktu terus bergulir dan kini pagi telah menyapa.


"Eughh."


Terdengar lenguhan berat seorang laki laki. Lenguhan pertanda orang itu bangun dari tidurnya. Matanya mengerjap dan perlahan terbuka. Saat matanya terbuka, laki laki itu terdiam dan mengenang kembali peristiwa yang terjadi semalam. Meskipun hanya kecupan, nyatanya itu cukup membekas di hati pria bernama Arjuna.


Dia pun bangkit dan segera beranjak turun. Ternyata Wulan juga sudah terbangun dan dia telihat sedang duduk di kursi yang semalam dia duduki.


"Udah bangun?" Tanya Juna dan Wulan menoleh.


"Sudah." Jawabnya singkat.


"Bagaimana keadaan kakimu?" Tanya Juna lagi dan dia juga duduk di kursi yang semalam dia duduki.


"Seperrtinya memar. Badan juga pada sakit." Jawab Wulan sambil tersenyum.


"Ya udah tunggu sebentar, aku akan mencari sarapan." Ucap Juna.


"Nggak usah, mending aku pulang saja. Keluargaku pasti sedang khawatir." Sergah Wulan.


"Yakin? Atau perlu aku antar?" Tawar Juna.


"Nggak perlu. Aku takut terjadi fitnah. Apalagi proses perceraianku sedang berjalan. Aku takut ntar aku yang di tuduh selingkuh." Tutur Wulan.


"Terus?"


"Gini aja, aku minjam uangmu sepuluh ribu aja buat naik mini bus. Motorku nanti tolong kamu ambil dan taruh saja disini buat jaminan hutangku. Ntar kalau aku sudah baikan, aku kesini lagi." Jawab Wulan. Juna nampak berpikir sejenak.


"Baiklah kalau itu mau kamu." Juna pun mengambil uang di laci dan memberikan sejumlah yang di pinjam Wulan.


"Maaf ya, Mas. Baru kenal udah bikin repot." Ucap Wulan merasa tak enak.


"Menolong wanita cantik, nggak masalah buatku." Ucap Juna.


"Bahasa buayanya muncul lagi tuh." Ledek Wulan dan mereka pun tertawa.

__ADS_1


"Ya sudah, aku anter kamu sampe depan pasar aja yah? Sepertinya kaki kamu akan susah buat jalan."


"Makasih."


Juna pun membuka pintu kios dan mengeluarkan motornya kemudian tak lama kemudian Wulan mengikutinya. Beruntung, suasana sekitar masih terlihat sepi, jadi Juna tenang saja saat Wulan keluar kios.


Seperti apa yang dikatakan, Juna mengantar Wulan hingga ke depan jalan masuk pasar. Bahkan Juna pun menemani Wulan menunggu mini bus engkel yang akan mengantarkan Wulan menuju kotanya.


Tak lama kemudian bis yang dimaskud pun datang. Juna melambaikan tangannya dan bus berhenti.


"Makasih ya, Mas." Ucap Wulan sebelum naik.


"Udah cepetan naik." Perintah Juna dan dengan senyum terkembang, Wulan menuruti perintah itu. Bis pun melaju membawa calon janda pergi.


"Apa mungkin jodoh aku janda juga? Kalau jandanya kayak Wulan, nggak apa apa deh aku rela. Tak dapat Melati, Wulan pun oke dah." Gumam Juna senyum senyum sendiri. Dia pun kembali menaiki motornya dan melaju menuju kios.


Sementara itu di tempat lain di pagi yang sama.


Kluntang kluntang kluntang.


Sebuah nada telfon berbunyi dan nada itu sontak membuat tubuh yang masih lelap dalam tidurnya terbangun. Pemilik ponsel pun meraba kesekitar tempat tidur mencari ponselnya. Bibir si pemilik ponsel tersenyum saat mata kantuknya melihat nama si penelpon dan dengan segera dia menggeser tombil hijau.


"Hallo, sayang." Sapanya dengan suara khas bangun tidur.


"Baru bangun, Yang?" Tanya suara dari sebrang sana.


"Iya, Yang." Jawab si penerima telfon.


"Siapa yang nganggur, sayang? Justru sekarang aku tuh malah makin sibuk." Balas si penerima telfon.


"Sibuk ngapain?" Tanya suara dari seberang.


"Sibuk mikirin kamu lah, dari bangun tidur sampai mau tidur lagi." Balas si penerima telfon sembari senyum senyum.


"Gombal banget yah." Balas suara dari seberang sambil senyum senyum pula.


"Astaga! Ini jujur loh, Yang?" Ucap si penerima telfon.


"Iya iya! Eh, Yang, jangan lupa nanti jalan jalan." Ucap suara dari seberang.


"Siap." Balasnya.


"Ya udah, Yang, aku mau siap siap berangkat ke toko. Udah dulu yah?" Pamit suara itu.


"Cium jauh dulu dong?" Pinta si penerima telfon.


"Muach, dah, sayang."

__ADS_1


"Dah."


Klik. Sambungan terhenti.


Pria itu senyum senyum sendiri sesaat kemudian. Dia pun bangkit dan duduk bersandar sembari meregangkan otot ototnya.


"Jak! Udah bangun belum?" Panggil Bapak.


"Udah, Pak!" Sahut Jaka. Dia segera bangkit dan beranjak menuju pintu kamar.


"Ada apa, Pak?" Tanya Jaka begitu keluar kamar.


"Uang buat persiapan lamaran, udah bapak transfer. Tanya sama Yanti kira kira apa aja yang dibutuhkan." Ucapan Bapak cukup membuat Jaka terkejut dan terharu.


Bapak terlihat begitu semangat mendengar anak laki laki keduanya sudah mempunyai pilihan yang cocok dimata Bapak.


"Ya, ampun, Pak! Uang Jaka juga masih ada." Ucap Jaka. Dia tidak bermaksud menolak pemberian bapak, tapi sebagai laki laķi yang sudah dewasa dia tahu diri. Jaka lah yang seharusnya memberi uang kepada orang tuanya.


"Uang kamu simpan saja buat acara nikah. Dan kamu masih butuh modal. Udah terima aja. Lagian bapak juga sudah lama nggak ngasih kamu uang." Jawab Bapak enteng.


"Makasih ya, Pak." Ucap Jaka.


"Ya udah, Bapak berangkat dulu." Pamit Bapak.


"Emak mana?" Tanya Jaka.


"Lagi kewarung." Jawab Bapak sembari berlalu keluar rumah.


Jaka memandang keberangkatan Bapak dengan perasaan campur aduk. Dari dulu bapak memang suka begitu. Memberi ke anak anaknya tanpa di minta. Namun bapak juga selalu mengajarkan kemandirian jadi Jaka mauupun Jati tidak menjadi anak yang manja.


Siangpun menjelang. Terlihat di kiosnya, Melati sedang sibuk melayani pembeli dua perempuan yang datang bersamaan, sedangkan Dodit melayani pembeli yang lain. Terlihat Melati sedang mengambil barang yang sudah tercatat milik dua perempuan itu.


"tumben bener kamu ada niatan bikin kue? Dalam rangka apa?" Tanya salah satu perempuan yang berambut pendek.


"Dalam rangka berbagi kebahagian dong, apa lagi aku semalam dapat kabar kalau laki laki yang aku incar ingin bertemu denganku." Jawab perempuan berambut panjang dengan senyum ceria di wajahnya.


"Laki laki idaman? Siapa?" Tanya perempuan berambut pendek.


"Jaka dong! Siapa lagi."


Melati yang kebetulan sedang berada dihadapannya seketika terhenti sejenak. Mendengar nama Jaka disebut.


"Jaka? Jaka yang mana?" Tanya perempuan berambut pendek.


"Ya ampun masa kamu nggak tahu? Itu loh Jaka si tukang penagih utang. Yang ketampanannya menembus langit ketujuh."


Perempuan Berambut pendek teranganga begitu juga Melati yang ikut mendengarnya.

__ADS_1


"Apa maksudnya ini?" Gumam melati.


...@@@@@...


__ADS_2