
Hari pun kembali berganti. Dan detik ini, di dalam sebuah warung yang tutup, nampak seorang perempuan sedang duduk manis menatap layar ponselnya. Penampilan perempuan itu nampak berbeda dari hari hari biasanya. Saat ini dia memakai salah satu pakaian terbaiknya dan merias wajahnya sedikit. Berkali kali arah pandangnya juga dia lemparkan ke arah pintu warung yang terbuka. Nampaknya dia sedang menunggu seseorang.
Dan benar saja. Tak lama kemudian, matanya menyipit saat di depan warung dia tiba tiba ada mobil terparkir. Hatinya bertanya, "Mobil siapa itu? Perasaan warga sini nggak ada yang punya mobil seperti itu?"
Mata perempuan itu membulat saat dia melihat seorang yang turun dari mobil. Pria itu terlihat sangat tampan dengan mamakai baju batik lengan panjang dan celana panjang hitam serta sepatu pantofel. Perempuan itu seketika berdiri saat pria itu melangkah masuk ke dalam warung.
"Udah siap, Lan?" Tanya pria itu.
"Kok pake mobil? Mobil siapa?" Tanya Wulan.
"Oh, Mobil Abang, Kita berangkat sekarang, yuk? Ibu Bapak mana? Sekalian pamit dan minta ijin?" Ucap pria itu.
"Aku sudah bilang, kita langsung berangkat aja. Lagian orang tuaku lagi pergi." Jawab Wulan.
"Oh, ya udah, yok berangkat."
Dan mereka pun bergegas menuju mobil setelah Wulan mengunci warung dan menitipkan kuncinya ke warung sebelah. Tak butuh waktu lama, mobil pun sudah melaju menembus jalan.
"Kenapa kamu berpenampilan secantik itu sih, Lan? Kamu mau pamer pada keluargaku, kalau kita pasangan serasi?" Ucap pria bernama Arjuna dengan senyum yang terkulum.
__ADS_1
"Kalau gombal paling pinter ya? Pantes banyak cewek yang ngejar." Cibir Wulan dan Juna hanya tergelak.
"Lagian, kenapa kamu pakai baju yang warnanya sama kayak yang aku pakai sih, Lan? Padahal ini baju seragam keluarga loh. Mungkin ini petunjuk kali yah?Kalau kamu akan jadi bagian dari keluargaku." Wulan hanya mencebikan bibirnya mendengar ucapan pria yang sedang mengemudi di sebelahnya.
Jika boleh jujur, Wulan sebenarnya saat ini sangat merasa gugup dan hatinya berdebar tak karuan. Pria disebelahnya benar benar akan mewujudkan ucapannya. Dan hari ini Wulan akan diperkenalkan dengan keluarga besar Juna yang sedang berkumpul karena saudara Juna ada yang menikah.
Wulan tidak pernah menyangka, takdir akan membawa langkahnya sampai sejauh ini. Bertemu laki laki yang super tampan namun pemaksa. Dan Wulan juga tidak pernah menyangka, seandainya nanti keluarga besar Juna menerimanya, berarti dia tak perlu lama menyandang status janda. Karena dia tahu, pria disebelahnya pasti akan secepatnya melangsungkan pernikahan sesuai ancamannya.
"Jangan takut. Keluargaku semuanya baik kok." Ucap Juna. Ternyata dia tahu dengan kegelisahan Wulan. Perempuan itu menoleh sejenak, kemudian kembali memandang arah depan.
"Perempuan mana yang nggak takut lah, Jun? Apalagi aku hanya seorang janda. Saat perawan aja, ada rasa khawatir saat mau ketemu orangtua pacar, apa lagi aku yang statusnya beda." Cicit Wulan dan lagi lagi Juna mengulum senyum.
"Kalau aku ternyata cuma cantik diluar saja gimana, Jun?" Tanya Wulan menatap ke arah Juna.
"Maksudnya?" Tanya Juna dengan dahi berkerut dan tanpa menoleh.
"Masa nggak maksud? Kamu pernah nonton sinetron nggak sih?" Gerutu Wulan kembali menatap depan.
"Loh? Apa hubungannya dengan sinetron? Orang aku nggak maksud? Lagian, mana mungkin aku nonton sinetron. Males amat." Tukas Juna yang sesekali menoleh ke arah Wulan.
__ADS_1
"Nih ya, kalau di sinetron itu, ada perempuan cantik namun hatinya jahat. Dia akan melakukan cara apapun untuk menguras harta suaminya. Nah, kalau aku ternyata bersifat seperti itu? Kamu gimana?" Jelas Wulan dengan penuh penekanan. Seketika tawa Juna pecah dan Wulan makin mendengus sebal.
"Itu kan hanya akting, Wulan? Lagian aku yakin kamu bukan wanita seperti itu. Dan juga apa kamu sanggup, membawa tumpukan kasur?" Balas Juna masih dengan suara tawanya yang berangsur pudar.
"Tumpukan kasur?" Tanya Wulan.
"Iya, hartaku kan berupa tumpukan kasur. Kalau kamu sanggup, ya sanah bawa semuanya." Jawab Juna dan lagi lagi dia tergelak.
"Ih orang serius malah diketawain!" Gerutu Wulan.
"Lagian kamu kok ya mikirnya aneh aneh aja sih, Lan. Aku mengajak kamu menikah ya karena aku yakin kamu bukan wanita seperti itu. Kamu jangan berusaha cari cari alasan lagi deh. Aku akan tetap nikahin kamu. Lagian, keluarga besar kamu juga udah pada tahu, jadi, jangan harap kamu bisa menghindar." Balas Juna sembari tersenyum jahat ke arah Wulan.
Mobil pun kini terlihat semakin dekat dengan lokasi acara pernikahan saudara Juna. Dengan hati berdebar, Wulan menatap ke arah depan yang semakin dekat dengan arah tenda pernikahan. Wulan semakin gelisah saat mobil yang di kendarai Juna berhenti dan terparkir diantara mobil lainnya. Berkali kali Wulan menghembuskan nafasnya agar hatinya bisa tenang. Namun tetap saja rasa gelisahnya tak bisa dikendalikan. Disaat Wulan berusaha keras menutupi rasa paniknya, dia mendengar suara yang membuatnya semakin panik.
"Ayo turun, kita temui calon mertua kamu."
Deg
@@@@@
__ADS_1