ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Masih Keluarga Besar Jaka..


__ADS_3

Semua terperangah menatap Juna. Bahkan ada yang tertawa mendengar pengakuan kalau salah satu saudaranya sedang dekat dengan janda juga, bahkan janda yang baru terbit.


"Kamu jadi perebut bini orang, Jun?" Tuduh kakak iparnya Juna.


"Amit amit! Enggak lah, Teh. Kayak nggak ada cewek aja, ngerebutin punya orang." Sangkal Juna.


"Lah itu, kamu bilang janda baru mekar? Apa kamu selama disini, pergi ke pengadilan buat nyaksiin perceraian?" Kali ini Bang Judika yang besuara.


"Ya ampun, Bang! Nggak ada kerjaan banget apa? Ya enggak lah." Jawab Juna yang merasa gemas dengan pertanyaan pertanyaan yang tertuju padanya.


"Terus? Darimana kamu tahu itu janda baru netas?" Tanya Janu dengan mata penuh selidik.


Juna pun akhirnya menceritakan awal pertemuan dirinya dengan Wulan hingga kejadian beberapa hari kemarin saat dia memaksa Wulan untuk mau menikah dengannya. Saat Juna selesai berbicara, seketika ada tangan yang menarik telinganya.


"Aduh, Teh! Sakit!" Pekik Juna sambil memegang telinganya.


"Berani beraninya yah kamu ngajakin cewek nginep?" Geram Kakak ipar Juna.


"Tapi kan kita nggak ngapa ngapain, Teh. Tidur doang?" Bela Juna.


"Tidur apa nidurin?" Ledek Jafin.


"Paling menanam benih." Sambung Jibril dan semuanya tergelak.


"Apaan sih kalian! Huu! Dia itu janda terhormat, janda baik baik, janda berbudi luhur, janda mandiri, janda tahan gosip, janda tangguh, dan pastinya janda cantik yang harus aku nikahin." Balas Juna berkobar kobar. Saudaranya ada yang terbahak dan ada yang menggelengkan kepalanya.


"Kenapa harus kamu nikahin? Dia kamu hamili?" Terka Jubair.


"Nggak gitu juga kali, Jub! Aku nggak mau dia di ganggu sama mantan suaminya yang sudah kehilangan otak. Apa lagi banyak laki laki yang antri menginginkan dia setelah dia janda. Dia sudah jadi milikku maka itu dia wajib, harus, kudu jadi milikku!" Ucap Juna berapi api.

__ADS_1


"Secantik apa sih? Sampai sampai kamu segitunya banget ingin nikahin dia, Jun?" Tanya Yanti.


"Karena jepitannya menggigit, Mba." Sela Jafan dan lagi lagi semuanya tergelak. Sedangkan Juna hanya bisa mendengus.


"Pokoknya cantiknya tidak bisa dibandingkan dengan siapa siapa, sepertinya dia bidadari yang lagi naik pohon, terus dahan pohonnya goyah hingga dia terjatuh." Balas Juna masih dengan semangatnya.


"Hiss, nih bocah. Sekalinya bucin, menjijikkan benget." Cibir Julian dan lagi lagi semuanya terbahak.


"Kalau kamu serius? Ya kamu ngomong sama Ayah dan Bunda dong, Jun?" Saran Janu.


"Ya serius dong, A. Kalau perlu, setelah pernikahan Jaka selesai, pelaminannya jangan di bongkar dulu. Biar langsung aku gunakan untuk nikah." Ucap Juna asal dan ada tangan yang menjitak kepalanya.


"Sakit, Teh! Seneng banget sih? Nyiksa adik ipar?" Sungut Juna.


"Ya abis, kalau ngomong asal banget. Gemes tahu nggak?" Balas sang kakak ipar.


"Siap, mba." Ucap Juna berseri seri.


"Eh, Jak. Minta rekeningmu sini?" Tanya Kabir, suami Juwita yang seorang anak sultan dari arab. Dia memang sudah lancar berbahasa Indonesia sejak menikah dengan Juwita.


"Buat apa, Bang Onta?" Jibril yang bertanya. Sejak jadi bagian dari keluarga Jaka, Kabir mendapat julukan Onta, karena salah satu usahanya di arab adalah peternakan dan jual beli Unta. Awalnya Kabir merasa aneh dan sedikit tidak terima saat mendapat julukan seperti itu. Namun lama kelamaan, dia malah menyukainya. Karena dengan julukan itu, Kabir menjadi sangat dekat dengan keluarga isrtinya tanpa ada batasan status.


"Ya buat kirim sumbangan lah, Jib. Uang Bang Onta kan nggak muat di taruh dalam amplop." Jawab Jeni.


"Ah iya." Ucap Jaka dan dia langsung merogoh sakunya mengambil ponsel, "Udah dikirim tuh, Bang?"


"Sip!" Terlihat anak sultan itu sedang mengecek ponselnya dan menekan beberapa tombol, " Sudah tuh, Jak."


Jaka segera saja mengecek ponselnya dan bibirnya menyunggingkan senyumnya.

__ADS_1


"Maaf, Jak. Abang sama Mba Juwi tidak bisa nyumbang banyak." Ucap Kabir dengan wajah seperti menyesal.


"Ya ampun, Bang. Ini juga lebih dari cukup." Balas Jaka, "Makasih banyak loh, Bang."


"Bang Onta nyumbang berapa tuh, Jak?" Tanya Julian penasaran. Dan tentu saja bukan hanya Julian. Semua juga penasaran.


"Jangan dikasih tahu, Jak. Malu aku." Tukas Bang Kabir.


"Ya elah Bang. Ngapain Malu?" Ucap Jati.


"Ya malu aja Jat. Lagian apa gunanya di kasih tahu." Tukas Kabir lagi.


"Udah, Jak. kasih tahu. Berapa?" Desak Juna.


Jaka mengulum senyum dan dia bersuara.


"Satu miliar."


Mendengar jawaban Jaka, seketika semuanya menjadi heboh sendiri.


"Wah! Berarti aku harus cepat cepat melamar pacarku nih?"


"Mah, kita nikah ulang aja, Yuk, biar dapat sumbangan dari Onta."


"Yes! Berarti nanti pas aku nikah sama Wulan , kamu juga ngasih aku semiliar kan, Bang?"


Juwita dan Kabir tercengang, menyaksikan reaksi saudara saudaranya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2