
Dan malam pun menjelang. Di salah satu rumah dalam sebuah komplek. Sepasang pengantin baru pun nampak sedang asyik menikmati waktu berdua. Meski sudah lebih satu dari satu minggu pasangan beda usia itu menjalani pernikahan, namun keromantisan yang ditunjukan keduanya benar benar membuat siapapun tak menyangka kalau pernikahan mereka karena penggrebegan.
Pasangan beda usia tersebut terkesan pasangan yang saling mencintai dari awal mereka menikah. Dan jika di amati, pasangan beda usia sama sekali tidak ada perbedaan yang mencolok. Tinggi badan Risma yang tidak melebihi 160 cm dan badan Dodit yang mencapai 184 cm, membuat pasangan itu justru nampak serasi. Banyak suara yang berbisik tentang pernikahan mereka. Baik tentang pujian maupun cibiran kerap kali terlontar. Namun pasangan tersebut tidak terlalu memikirnya. Mereka menganggap itu hal lumrah dalam bertetangga.
Terlihat di kamarnya, Risma sedang berbaring miring dan di hadapannya sang suami juga berbaring miring mengadap sang istri. Namun wajah mereka tidak berhadapan. Wajah Dodit sedikit berada di bawah Risma karena Dodit sudah seperti bayi kehausan, mulutnya tak lepas dari puncak bukit kembar milik Risma. Meski kadang dalam hati kecilnya, Risma merasa risih, namun dia sadar, Dodit sekarang suaminya dan Risma juga sangat menyukainya.
"Mas." Ucap Risma.
"Hum." Balas Dodit.
"Apa kamu menyukai tubuhku?" Tanya Risma dengan mata terpejam.
"Banget." Jawab Dodit tanpa menghentikan aksinya.
"Kalau tubuhku tidak indah lagi? Apa kamu masih suka?" Satu pertanyaan meluncur membuat Dodit menghentikan aksinya dan mendongak menatap sang istri yang terpejam. Bibirnya mengulas senyum. Dia beringsut dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah sang istri. Merasa ada pergerakan, mata Risma terbuka dan kini matanya bersitatap dengan wajah sang suami.
"Kenapa, Sayang? Ada yang mengganggu dalam pikiranmu?" Tanya Dodit.
"Aku takut aja, Mas. Kamu ntar bosan dengan apa yang aku miliki. Apa lagi, kamu menikmatinya hampir setiap hari. terus, jika aku punya anak, kemungkinan semuanya nggak kenceng lagi, aku takut kamu berubah, Mas." Cicit Risma. Dodit menyungging senyum. Tangannya terangkat dan membelai pipi istrinya.
"Pikiranmu jauh banget, Yang. Apa kamu nggak ingat, sebelum aku suka melakukan ini, aku terlalu grogi dan panik saat pertama kali menyentuhmu? Trus, apa mungkin aku berani menyentuh wanita lain? Kalau pun aku berani, semoga aku tidak ada kesempatan untuk tergoda dengan wanita lain. Aku nggak mau kesenangan sesaat di luar sana membuat rumah tangggaku hancur. Sebagai contoh, mantan suami kamu, Yang. Dia selingkuh, bahkan main kasar ke kamu, rumah tangga akhirnya hancur. Aku nggak mau itu terjadi pada pernikahanku. Di rumah ada yang halal, ngapain nyari yang nggak halal, Yang?" Balas Dodit. Tentu saja jawaban panjang itu membuat Risma tertegun dan terharu.
__ADS_1
"Udah, jangan mikir macam macam lagi. Aku nggak mau, ntar pikiran macam macam itu membuat kamu ragu kalau aku tulus menikah denganmu, Yang." Risma mengulas senyum dan mengangguk. Dodit kembali menurunkan kegiatannya yaitu bermain main dengan sikembar.
"Mas, apa kamu nggak lapar?"
"Lah, ini lagi makan." Jawab Dodit asal.
"Ya ampun, Mas. Tapi aku lapar." Dodit terperanjat. Dia bangkit.
"Ya udah ayok makan." Ajak Dodit dan keduanya segera turun ranjang dan beranjak keluar kamar tanpa memakai apa apa.
Itulah yang terjadi pada Dodit dan Risma beberapa hari ini. Tiap menjelang malam, pakaian mereka benar benar tidak ada gunanya.
Mereka pun kini berada di meja makan. Beberapa hidangan sudah Risma siapkan. Dengan telaten, Risma melayani sang suami yang duduk disebelahnya.
"Iya." Balas Risma.
"Menurutmu, aku mending tetap kerja di tempat Mba Mel atau keluar?" Dahi Risma mengkerut mendengar pertanyaan sang suami.
"Kenapa bertanya seperti itu?" Risma bertanya balik sembari meletakan piring yang sudah terisi nasi dan lauk.
"Aku pengin ngembangin usaha kamu loh, Yang. Kamu yang buat kue kue, dan aku jualan mangkal di pinggir jalan atau di pasar." Ucap Dodit mengeluarkan unek uneknya.
__ADS_1
Sambil mengambil nasi buat diri sendri, Risma mencoba mencerna keinginan sang suami.
"Kalau menurutku sih, mending jangan dulu, Mas." Balas Risma.
"Kenapa?" Tanya Dodit sembari menyantap hidangan di hadapannya.
"Mending kamu terusin kerja dulu aja. Mba Mel itu udah percaya sama kamu, Mas. Kasian dia kalau tiba tiba kamu keluar. Lagian yang bantu aku jualan juga udah banyak kan? Nanti kalau tabungan udah cukup dan Mba Mel menemukan orang yang bisa dipercaya, kita belajar membuka toko kue, gimana?" Kini gantian Dodit yang mencerna ucapan Istrinya dan beberapa saat kemudian dia tersenyum.
"Ya udah kalau begitu. Nanti aku di ajari bikin kue ya, Yang. Biar kamu nggak cape sendirian di rumah."
"Baiklah."
Dan sepasang suami istri itu melanjutkan makan malam mereka.
"Yang, sepertinya sebentar lagi kita libur bikin anak deh." Ucap Risma tiba tiba.
"Kenapa?" Tanya Dodit dan dia langsung menatap istrinya.
"Tanggal datang bulan ku akan datang, Mas."
"Apa!"
__ADS_1
...@@@@@...