
Semakin bertambah usia, entah kenapa waktu terasa berjalan semakin cepat. Dan hal itu juga terjadi pada kehidupan seorang wanita yang sedang bercermin sambil mengoleskan bedak tipis di wajah cantiknya. Setelah memakai bedak, tangannya terlulur mengambil pemerah bibir. Wanita itu menatap pemerah bibir dengan lekat. Dan saat itu juga pikirannya menerawang ke kejadian beberapa waktu lalu saat ada pria tampan yang mengatakan kalau bibirnya sangat lezat jika tidak memakai benda tersebut. Wanita itu menyunggingkan senyum dan menggelengkan kepala beberapa saat. Wanita itu menatap cermin dan tangannya mengarakan benda itu ke bibir manisnya. Sengaja dia mengoleskan pemerah bibir tipis tipis. Setelah selesai, Dia kembali menatap cermin dan memeriksa kembali penampilannya.
"Wulan!" Dua suara teriak bersamaan memasuki kamar wanita itu hingga sang pemilik kamar hampir melompat saking terkejutnya.
"Kalian ini? Bisa nggak sih, nggak teriak teriak? Ngagetin aja!" Sungut Wulan begitu dia tahu, siapa yang mengagetinnya. Siapa lagi kalau bukan dua rusuh sahabatnya, Alin dan Sari.
"Ya elah cantik bener yang mau di lamar pangeran tampan." Ledek Sari.
"Iya dong, biar terlihat serasi." Balas Wulan dengan gerakan tubuh selayaknya wanita anggun nan bersahaja.
"Dihh, bucin. Katanya nggak suka sama itu cowok, tahunya malah bucin sendiri." Cibir Alin.
"Siapa yang bucin? Perasan kamu aja kali. Huu!" Omel Wulan dan keduanya tertawa bebarengan. Wulan kembali menatap penampilannya di depan cermin, sedangkan kedua sahabatnya duduk di ranjang menatap ke arahnya.
"Nggak nyangka ya, Lan? Kamu nggak perlu lama lama nyandang status janda?" Ungkap Sari.
"Yah. Aku sendiri juga masih nggak percaya. Juna benar benar membuktikan ucapannya." Balas Wulan. Pikirannya kembali mengenang saat saat pertama pertemuan dirinya dan Juna. Wulan tidak menyangka, kecelakaan yang menimpanya justru mengantarkan dirinya bertemu dengan pria tampan yang sebentar lagi akan melamarnya. Wulan juga tidak pernah menyangka, kalau pria itu benar benar membuktikan ucapannya akan melamar dirinya begitu masa idahnya selesai. Benar benar tepat waktu tak bisa mundur seharipun.
Sebagai wanita yang pernah gagal dalam mengarungi rumah tangga, tentu saja Wulan mengalami ketakutan sendiri. Namun entah mengapa hati kecilnya benar benar tidak mampu menolak saat pria tampan itu memaksanya untuk menikah. Orangtuanya pun dengan mudah luluh dengan permintaan Juna yang begitu meyakinkan. Apalagi beberapa saat kemarin, Orang tua Wulan semakin dibuat yakin setelah berbicara kembali dengan Juna. Akhirnya dia hanya bisa pasrah dan berharap, agar pernikahan kedua tidak tumbang kembali.
"Kira kira, keluarga calon kamu, pada ikut semua nggak, Lan?" Tanya Sari.
__ADS_1
"Kenapa? Masih penasaran dengan ceritaku?" Ucap wulan kembali membalikkan pertanyaan. Kedua sahabatnya terkekeh. Sudah pasti mereka penasaran saat Wulan bercerita kalau saudara suadara Juna memiliki pesona di atas rata rata sampai tidak bisa di banding bandingkan satu sama lain.
"Ya iya lah! Kalau nggak, ngapain kita kesini?" Tukas Alin.
"Nggak tahu mereka ikut semua atau tidak. Awas! Jangan sampai basah entar kalian kalau sudah lihat?" Ujar Wulan.
"Sialan kamu, Lan." Dan ketiganya terbahak.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria sedang terlihat mondar mandir di ruang sebuah rumah. Dirinya nampak panik tak seperti biasanya. Di sekitar pria itu berada, terdapat saudara suadaranya sedeng duduk dan memperhatikan pria itu dengan tatapan heran.
"Duduk napa, Jun." Ucap Julian yang merasa jengah melihat tingkah saudaranya.
"Ya elah, Jun. Baru juga jam segini? Masih banyak waktu kali." Cibir Yanti.
"Harusnya kita datang lebih awal, Mba. Biar di sana bisa lebih lama" Balas Juna semakin gusar. Namun saudara saudaranya hanya saling tertawa lirih.
"Ya elah, Jun! Ngapain disana lama lama. Orang lamaran doang." Balas Yanti lagi.
"Ya kan biar bisa keluargaku dan keluarga Wulan lebih dekat gitu, Mba. Makin akrab." Cicit Juna tak mau kalah.
"Bilang aja kalau kamu yang ingin berlama lama sama Wulan. Dasar bucin." Ejek Melati.
__ADS_1
Juna dan saudara saudaranya sedang menunggu para orang tua yang berada di rumah Emak Jaka. Hanya beberapa keluarga saja yang akan ikut acara lamaran tersebut. Dua saudara Juna juga terpaksa tidak ikut acara lamarannya karena kesibukan mereka masing masing.
"Kamu sudah dapat kios yang cocok, Jul?" Tanya Jaka yang baru turun dari lantai atas. Dia suduk di sebelah Julian karena Melati duduk bareng Yanti. Sedangkan Jati dan Altah sedang berada di rumah Emak.
"Sudah, Jak. Kemarin diantar Jati ketemu sama yang punya." Balas Julian sambil sesekali melihat layar ponsel yang di genggamnya.
"Baguslah. Eh kamu masih jomblo atau sudah punya gandengan sih, Jul? Kok aku perhatikan kamu selama ini sendiri mulu?" Tanya Jaka lagi dan Julian hanya nyengir.
"Atau kamu buka usaha di sini karena pengin dapat janda juga kayak Juna?" Sambung Yanti.
"Loh? Apa kalian nggak pernah dengar dari cerita Mba Juwi?" Tukas Juna yang membuat semua yang ada disitu menatap ke arahnya.
"Cerita apa?" Tanya Jaka.
"Julian itu laki laki beruntung, dia akan di lamar tiga perawan."
"Apa!"
...@@@@@@...
Wahh, di lamar tiga perawan? Gimana ceritanya? Haruskah jadi karya baru? Atau? makasih dukungannya ya saudara semuah. Ayo kawal Juna sampe plok plok plok..
__ADS_1