
Waktu memang terus bergulir, dan tak terasa kini sore sudah menjelang. Di sebuah kios, nampak Jaka sedang bersiap siap hendak pulang. Kios sudah di tutup, Dodit dan dua karyawan baru juga sudah pada pulang. Kini dia hanya menunggu sang istri yang sedang berada di lantai atas kios sambil menngecek keuangan.
Berkat ajaran sang istri, kini Jaka sudah bisa melakukan pengecekan sendiri tanpa bantuan sang istri. Dari jumlah uang yang masuk perhari, barang yang keluar dan sebagainya.
"Sayang! Turun! Kita pulang!" teriak Jaka. Entah kenapa sang istri belum turun juga, padahal dia sudah memberi tahu sedari tadi. Tiba tiba rasa panik menyergap diri Jaka. Melati tidak bersuara. Jaka bergegas naik ke lantai dua.
Mata Jaka membulat, dahinya berkerut begitu langkah kakinya menginjak lantai atas.
"Sayang? Kamu kenapa?" tanya Jaka. Dia benar benar takjub sekaligus heran.
Di atas kasur, Melati sedang duduk. Yang membuat Jaka heran, tubuh Melati saat itu tidak memakai apapun dalam posisi duduk. Salah satu tangannya berada di balakang, kedua kakinya telentang lebar memamerkan si tembem, tatapannya menggoda dan jari telunjuknya memberi kode pada sang suami agar mendekat.
"Astaga! Sayang! Kamu kenapa? Kerasukan?" Tanya Jaka sambil mendekat dan tentu saja dengan mengulum senyum.
Enak aja! Sini!" Sungut Melati.
Jaka mendekat dan dia tetap berdiri sesuai perintah Melati. Dengan gerakan menggoda, tangan Melati meraih sabuk celana Jaka dan perlahan dibukanya sabuk celana tersebut. Setelah sabuk terbuka, kini giliran pengait celana yang menjadi sasaran dan begitu pengait terlepas, dengan sekali tarik, dua celana Jaka sudah turun selutut.
"Sayang, itu kotor, bau keringat," Ucap Jaka karena dia melihat mulut Melati sudah bermain di bawah sana.
"Ini keinginan anak kamu, Mas! Jangan protes!"
Jaka pun akhirnya pasrah, membiarkan sang istri bermain main dengan anacondanya.
Dan di tempat yang berbeda, terlihat Juna turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah sang mertua.
__ADS_1
"Sudah pulang, Jun?" Tanya bapak mertua yang sedang duduk di ruang tamu.
"Sudah, Pak. Wulan mana?" Balas Juna.
"Di kamar," Jawab Bapak.
"Oh, ya udah, Juna ke kamar dulu ya, Pak." Bapak hanya mengangguk dan Juna bergegas menyusul istrinya.
Begitu pintu kamar terbuka, Juna dibuat tercengang dengan apa yang di lihatnya. Diatas ranjang, Wulan sedang memijat mijat pelan kedua bukit kembarnya dengan kaki telentang.
"Sayang! Kamu lagi ngapain?" Pekik Juna pelan. dia melangkah ke tepi ranjang.
Wulan bukannya menjawab, dia malah merangkak menuju suaminya dan langsung saja meraih sabuk celana sang suami. Sontak saja Juna terkejut.
"Sayang! Mau ngapain sih?" Tanya Juna masih dengan keterkejutannya.Namun dia diam saja saat tangan Wulan membuka sabuk dan juga celananya.
"Itu kotor, sayang! Lepas dulu, aku cuci yah," Tolak Juna secara halus.
"Anak kita maunya yang kotor, masa nggak mau ngasih? Nggak sayang apa sama calon anak kita?" Cecar Wulan. Juna hanya menggeleng pelan kemudian mengulas senyum.
"Iya, iya, Maaf. Ya udah silahkan di nikmati." Ucap Juna dan sang istri tersenyum senang. Tangan dan bibirnya mulai aktif bermain dengan betutu sang suami. Sedangkan Juna masih memandang dengan sikap heran atas kelakuan istrinya.
Di saat yang hampir bersamaan pula. Terlihat, Dodit juga sedang memarkirkan motornya di dalam ruang tamu. Rumah terasa sepi.
"Apa ibu sudah pulang? Atau Risma lagi pergi?" Gumam Dodit.
__ADS_1
Dia segera saja melangkahkan kakinya masuk keruang tengah. Matanya berkeliling, tapi dia tetap tidak menemukan seorangpun.
"Sayang! Sayang!" Teriak Dodit namun tak ada sahutan. Dia melangkah ke dapur sejenak mengambil segelas air putih dan meminumnya.
"Pintu kamar terbuka, tapi istriku kemana?" gumam Dodit.
Setelah segelas air sudah habis di minum, Dodit langsung beranjak menuju kamar. Di kamar, Risma juga tidak ada. Dodit melangkah masuk menuju ranjang sambil merogoh tas slempangnya mengambil hp. Namun tiba tiba dia mendengar suara.
Brak!
Dodit terlonjak, dia langsung memutar setengah badan. Matanya membelalak. Dodit terkejut. Bukan karena pintu yang tiba tiba tertutup tapi sang istri yang dicari ternyata bersembunyi di belakang pintu. Yang mambuat Dodit semakin heran, sang istri tidak mengenakan apapun ditubuhnya.
"Sayang? Kamu kenapa?" Tanya Dodit, tapi Risma tak menjawabnya.
Risma melangkah pelan ke arah Dodit dan mendorongnya hingga Dodit terduduk di tepi ranjang. Dengan senyum dan tatapan nakal, tangan Risma mengusap bagian tengah celana suaminya. Kemudian, tangan itu meraih sabuk celana Dodit dan melepaskannya.
Setelah sabuk terlepas, kini tinggal pengait celana yang jadi sasaran. Dan sekali tarik, dua celana sudah turun hingga ke mata kaki.
"Sayang, mau ngapain? Ini kotor loh," Ucap Dodir berusaha mencegah saat tangan Risma mulai bermain dengan cucak rowonya.
"Anak kita yang lagi pengin," Jawab Risma sambil berlutut.
Mendengar kata anak, Dodit pun akhirnya pasrah. Dia membiarkan tangan dan mulut Risma bermain dengan cucakrowonya yang bau keringat.
"Apa benar itu keinginan bayi? Ah sudahlah, nikmatin aja,"
__ADS_1
...@@@@@...