ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Tidak Tahan..


__ADS_3

Suasana sekitar nampak begitu hening dan sepi. padahal jam di dinding baru menunjukkan jam tujuh malam. Di salah satu rumah warga tepatnya di kediaman seorang pengantin baru, nampak pasangan beda usia masih melakukan kegiatannya di ruang tamu yang disulap sedemikian rupa menjadi pelaminan yang sederhana namun terlihat begitu indah.


Sang istri yang berada di pangkuan suaminya menatap lekat wajah sang suami yang senyum senyum tidak jelas.


"Nggak perlu malu, sayang. Aku lihat yah?" Bujuk sang istri pada suami brondongnya.


"Tapi, Yang."


"Nggak ada tapi tapian. Ingat membahagiakan istri itu kewajiban suami loh, dan ini salah satunya." Ucap sang istri. Suaminya akhirnya pasrah. Mau tidak mau diapun harus memperlihatkan cucak rowonya untuk pertama kali dihadapan wanita. Dia kurang pede karena menurutnya, cucak rowo miliknya kecil.


Risma beranjak dari pangkuan Dodit dan dia kini berlutut dihadapan suaminya. Dada Dodit berdetak begitu cepat. Dia nampak gelisah dan sesekali dia menghela nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya lewat mulut. Dia benar benar takut, Risma akan kecewa saat melihat cucak rowonya.


Kini tangan Risma terangkat dan mulai meraba celana Dodit dimana di dalam sana ada sesuatu yang mengeras. Pandangan keduanya fokus pada tangan Risma yang mulai mengelus dan mencengkram pelan sesuatu yang tegang di dalam celana Dodit. Diantara rasa khawatir dan gelisahnya, Dodit juga merasakan nikmat saat tangan Risma memijat lembut cucak rowonya yang sudah mengeras sedari tadi.


Risma yang penasaran dengan benda itu, segera saja memegang kedua sisi celana Dodit. Celana yang pinggangnya terbuat dari kolor dan tanpa resleting memudahkan Risma untuk menurunkannya. Dengan perlahan celana itu Risma turunkan berikut boxer yang dipakai Dodit.


Mata Risma membulat begitu cucak rowo suaminya terlihat. Setelah kedua celana Dodit terlepas dan terlempar kesembarang arah. Kini tangan Risma segera saja memegang benda yang sudah tegang menantang.


"Kamu bohongin aku?" Pekik Risma.


"Bohong apa?" Balas Dodit bingung.


"Gede gini, Kenapa kamu bilang kecil?" Tanya Risma sembari memegang dan memijat lembut milik Dodit.


"Kecil lah, Yang! Nggak seperti punya orang bule." Jawab Dodit masih nampak menahan malu meski sangat menikmati pijatan lembut istrinya.

__ADS_1


"Ya jangan dibandingin dengan orang bule, Dit. Bagi pria dinegara kita. Punya kamu termasuk gede banget dan panjang loh, Dit. Ini ganteng banget kayak kamu." Dodit tersenyum mendengar pujian istrinya.


Tangan Risma juga mengusap kulit yang membungkus dua telur berikut bulu bulu kribo yang terlihat panjang dan berantakan disekitar benda milik suaminya.


"Beneran, Yang? Punyaku gede?" Tanya Dodit memastikan.


"Benar lah, Sayang. Ini termasuk gede banget dan panjang. Punya mantan suamiku nggak segede ini loh, Dit. kalah jauh dengan punya kamu." Mendengar ucapan Risma, seketika rasa malu Dodit lenyap berganti rasa percaya diri dan bangga.


"Kamu suka, Yang?"


"Suka banget lah." Jawab Risma. Bahkan tanpa ragu, Risma memajukan wajahnnya. Dia mulai mengendus dan memciumi cucak rowo suaminya.


Jiwa Dodit serasa terbang melayang. Ini adalah pengalaman pertama dirinya diperlakukan seperti ini. Dia benar benar menikmati perlakuan sang istri. Rasa nikmat benar benar menjalar ke seluruh tubuhnya.


Dodit tercengang mendengar ucapan istrinya dan dia baru teringat kalau hari ini dia baru mandi satu kali saja saat pagi hari sebelum acara akad.


"Ah iya, sayang. Aku lupa, aku belum mandi." Ucap Dodit. Risma tersenyum menatap wajah suaminya. Tiba tiba dia menjulurkan lidahnya dan menjilat kepala cucak rowo berikut badannya.


"Kotor, Yang. Nggak jijik?" Tanya Dodit heran. Risma menggeleng.


"Enak, Dit. Baunya bikin hasrat meningkat." Jawab Risma.


Kini dengan mata kepala sendiri, Dodit melihat mulut Risma melahap cucak rowonya. Dodit kembali merasa melayang. Rasa nikmat terus menyerang dirinya. Bahkan dia sesekali mengerang karena merasakan kenikmatan yang baru dia rasakan selama terlahir menjadi pria.


Terlihat di bawah sana, kepala Risma naik turun. Kadang pelan, kadang cepat, membuat Dodit merasakan kenikmatan yang baru dan berbeda.

__ADS_1


Karena baru pertama kali diperlakukan seperti itu, Dodit merasa ada sesuatu yang meningkat dan ingin segera keluar dari dalam cucak rowo.


Dodit terus mengerang kenikmatan karena gerakan Risma yang semakin cepat mambuat sesuatu di dalam sana benar benar tak bisa ditahan lagi.


Tak lama kemudian cucak rowo pun menyemburkan air hangat yang begitu banyak di dalam mulut Risma. Perempuan itu kaget dan segera melepas mulutnya.


"Dodit! Keluar kok nggak bilang bilang sih!" Protes Risma. Disekitar mulutnya terlihat sesiatu berwarna putih dan kental membasahi.


"Maaf, Yang. Udah nggak tahan." Jawab Dodit sembari cengengesan. Risma hanya mendengus.


"Ada yang ketelen loh, Dit. Mana banyak banget. Tuh lihat!" Tunjuk Risma yang salah satu tangannya masih memegang punya Dodit menuntaskan air putih yang keluar. Dodit hanya tersenyum.


"Gimana, Yang, rasanya?" Tanya Dodit penasaran. Risma mendengus namun tak lama kemudian semyumnya tersungging.


"Kok rasanya enak ya, Dit." Balas Risma.


"Beneran, Yang? Enak?" Dan Risma dengan mantap mengangguk. Dodit dan Risma saling lempar senyum.


Salah satu tangan Risma masih memainkan cucak rowo yang masih tegang. Tiba tiba dia berkata.


"Coba cicipi sisanya ah."


"Waduh."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2