
Risma benar benar takjub dengan kepolosan Dodit. Melihat tingkah suami brondongnya, Pikiran Risma kembali teringat saat pertama kali dia menikah dulu. Dia dan suaminya sama sama polos, sama sama tidak tahu apa apa. Bahkan malam pertama Risma dulu sukses terjadi setelah sepuluh hari pernikahan. Setiap hendak melakukan hubungan selalu berakhir dengan kegagalan. Keduanya nampak grogi dan tegang. Bahkan Risma berkali kali menangis saat sang suami berusaha masuk dan membobolnya. Lantaran tak tega, sang suami pun akhirnya membatalkan pembobolan. Risma dan sang suami dulu juga melakukan berbagai cara agar tidak grogi. Mulai dari menonton video, membaca artikel, bahkan sampai konsultasi dokter beberapa kali.
Oleh karena itu, saat Risma membaca apa yang dicari Dodit di ponselnya, dia jadi tahu kalau apa yang Dodit rasakan sama persis dengan apa yang pernah dia lewati dulu. Risma sebenarnya tidak sengaja memakai pakaian seperti itu, karena dia memang mengoleksinya. Bagaimanapun Risma seorang manusia yang mempunyai hasrat dan sudah lama tidak tersalurkan. Maka itu daripada sama sama saling menahan rasa malu dan grogi, Risma memilih mengalah dan sedikit lebih agresif ke Dodit. Toh dia juga tergoda dengan penampilan Dodit. Apalagi dia pernah melihat roti sobek Dodit. Wanita mana yang tidak tergiur dengan keadaan Walaupun Dodit usianya masih muda tapi tubuhnya mampu membuat resah kaum hawa.
Meski dengan tangan sedikit gemetar, Dodit berhasil meraih dan menggenggam salah satu benda kembar milik istrinya. Senyum keduanya terkembang dan mata mereka pun saling tatap.
"Gimana?" Tanya Risma.
"Bagus yah, kenyal." Jawab Dodit dengan mata berbinar. Meski benda itu masih terhalang kain, Dodit bisa merasakan betapa kenyalnya benda itu. Sepolos polosnya Dodit, dia tetap laki laki normal yang memiliki naluri hasrat dan saat ini nalurinya pun mulai terlihat.
"Bajunya dibuka boleh nggak, Yang? Agak susah nyentuh dari luar?" Lagi lagi Risma tertawa renyah mendengar pertanyaan Dodit.
"Buka aja, Dit. Ngapain minta ijin." Dodit tertawa kecil. Mendapat lampu hijau dari Risma, Dodit langsung membuka tali yang mengikat baju tersebut dan dengan beberapa gerakan Dodit berhasil melepas baju istrinya.
"Ini, kainnya kekecilan apa, Yang? Kok nggak muat gini?" Tanya Dodit sambil memijat lembut sisi bukit kembar yang tidak tertutup kain.
__ADS_1
"Astaga! Bukan kekecilan, Dit. Itu aku sengaja beli yang ukuran segitu agar ini tetap kencang." Dodit hanya manggut manggut mendengar jawaban istrinya.
"Lepasin yah?" Dan Risma mengangguk. Dan dengan semangat Dodit membuka pengait dipunggung Risma. Nampak benda itu seperti bernafas lega terlepas dari jeratan kain kencang tadi. Dodit melempar kain penjerat itu ke sembarang arah dan kini kedua tangannya memegang benda kembar dan mulai memijatnya pelan.
"Bagus banget, Yang. Ini benar benar indah. kenyal kenyal gimana gitu. Gemesin banget." Ucap Dodit takjub. Risma tergelak melihat tingkah Dodit yang sangat menggemaskan. Hasrat keduanya perlahan mulai meningkat.
"Boleh pakai mulut nggak, Yang?" Risma kembali tersenyum dan mengangguk. Dan lagi lagi Dodit nampak girang. Dia hendak mencondongkan kepalanya namun tiba tiba.
"Tunggu." Ucap Risma dan Dodit seketika menghentikan gerakannya dan menatap Risma dengan wajah bingung. Risma bangkit dan berpindah posisi. Dodit sangat terkejut, kini sang istri malah duduk di pangkuan dengan benda kembar tepat berada dihadapan wajah Dodit.
Risma mulai merintih karena rasa nikmat yang dia rasakan. Dia bahkan menekan kepala Dodit agar mulut Dodit lebih dalam menikmati benda kembarnya.
Secara spontan, Risma pun menarik kaos Dodit ke atas. Dodit yang juga sudah terbakar hasrat, pasrah saja ketika kaosnya dilepas. Sejenak dia menghentikan aksinya. Saat kaos sudah terlepas dia kembali menyerang benda kembar dengan mulutnya satu persatu. Tangannya pun kini berani menyentuh dan memijat bagian belakang bawah tubuh istrinya.
"Enak, Yang?" Tanya Risma diantara nafas yang menderunya.
__ADS_1
"Enak banget, Yang." Jawab Dodit nampak sangat bersemangat. Dia segera kembali menikmati benda kembar dengan rakusnya.
Naluri laki laki Dodit kini mempengaruhi sepenuhnya. Salah satu tangan Dodit yang dari tadi memijat bongkahan tubuh bagian belakang Risma, kini merayap meraba pangkal kaki mulus istrinya memutar hingga jari jari kekar Dodit menyentuh di tengah tengah segitiga bermuda. Dodit terkejut saat jari jarinya merasakan sesuatu pada segitiga tersebut dan seketika dia menghentikan mulutnya yang sedang menyesap bukit kembar dengan rakus. Dia memundurkan kepalanya dan mendongak menatap istrinya.
"Kenapa? Kok berhenti?" Tanya Risma heran dengan nafas yang masih memburu.
"Ini kenapa, Yang?" Tanya Dodit sambil menepuk nepuk pelan bagian tengah segitiga bermuda.
"Apanya yang kenapa?" Tanya balik Risma semakin bingung.
"Ini kenapa basah banget, Yang? Kamu ngompol?"
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1