
Ninis janda muda yang masih tidak menerima keputusan Jaka benar benar di buat dilema. Apalagi sejak dia tahu Jaka sudah tidak bekerja lagi digantikan dengan pegawai baru yang benar benar membuatnya kalang kabut karena harus selalu sembunyi tiap tidak bisa mengangsur utangnya.
Amarah Ninis makin meradang saat berita lamaran Jaka viral di akun media chat. Dia diam diam menyelidiki perempuan yang telah berhasil meluluhkan pria pujaannya. Dan emosinya naik sampai ke ubun ubun saat Ninis tahu tentang status perempuan yang akan menjadi pendamping Jaka adalah seorang janda. Dengan berbekal keyakinan sendiri dan enggan mencari kebenaran dari berita yang dia dengar, Dia benar benar bertekad ingin membuat perempuan yang dipilih Jaka menyesal.
Dia benar benar berpikiran sempit demi melampiaskan sakit hatinya, dia harus memberi pelajaran pada janda pilihan Jaka.
Dan disinilah Ninis berada. Tindakannya yang hendak mempermalukan Melati malah justru berbalik arah membuat dirinya di permalukan. Apalagi dia telah salah paham dan menghina ibu kandung Jaka. Ninis pikir perempuan yang menghampiri Melati adalah ibunya. Namun kenyataan yang dia dengar malah makin membuat nyali dia menciut.
"Jelaskan, Nis! Kenapa kamu menghina ibuku? KENAPA!" bentak Jaka terlihat menakutkan. Bukan hanya Ninis yang terlihat ketakutan. Melati dan yang lain pun terlihat terkejut melihat amarah.
"Semarah marahnya Jaka, kenapa malah makin tampan sih? Astaga!" Gumam Melati. Bukan hanya Melati, beberapa perempuan yang menyaksikan kemarahan Jaka juga mengatakan hal yang sama dalam hatinya. Jaka benar benar mempesona dalam keadaan apapun.
"Maaf, Bang. Aku..."
"Mending kamu pergi dari sini, sebelum aku mempermalukan kamu di depan orang banyak!" Ucap Jaka penuh penekanan.
"Bang.." Rintih Ninis.
"PERGI!" Ninis tersentak, dengan perasaan malu, dia akhirnya pergi meninggalkan orang orang yang menatapnya aneh.
"Bisa bisanya, kamu deket sama perempuan model kayak gitu sih, Jak?" Tanya Emak beberapa saat setelah Ninis pergi dan orang orang membubarkan diri.
__ADS_1
"Ya terpaksa, Mak. Itu juga dulu karena utang." Jawab Jaka sembari menatap Melati yang cemberut.
"Ada ya, modelan perempuan kayak gitu. Yuk, Yan, kita pulang. Melati, emak pulang dulu yah?" Pamit Emak.
"Eh iya, Mak. Hati hati." Balas Melati.
"Mel, aku pulang dulu yah. Mau jadi orang super sibuk nih." Pamit Yanti dan Melati hanya terkekeh.
"Siap kakak ipar. Hati hati ya." Ledek Melati dan Yanti hanya mendengus.
Tak lama kemudian Yanti dan Emak sudah lenyap di ujung jalan bersama motornya. Melati segera masuk ke kios di ikuti Jaka.
"Tuh, Dodit tadi yang telfon pake nomer kamu. Kirain ada apaan." Jawab Jaka sembari menunjuk Dodit yang tengah duduk bersandar etalase. Sedangkan Melati hanya manggut manggut sembari membulatkan bibirnya.
"Ini semua di bawa pulang apa gimana, Yang?" Tanya Jaka ketika dia memperhatikan sekitar kios.
"Ada yang di bawa pulang, ada yang di taruh disini saja." Jelas Melati, "Eh, Dit coba kamu nyari mobil bak terbuka di komplek sayur, kali aja ada yang mau dimintain tolong ngangkut ini."
"Siap, Mba." Jawab Dodit. Dia pun berbegas keluar kios setelah menyambar kunci motor milik Melati.
"Masih ada yang perlu aku beresin nggak, Yang?" Tanya Jaka sembari melepas jaketnya.
__ADS_1
Seketika mata Melati terpaku melihat Jaka yang hanya memakai kaos oblong tanpa lengan dan memperlihatkan bulu ketiak kesayanganyya. Melati menjadi resah sendiri. Apalagi Jaka kelihatan kusut karena memang Jaka dari pagi belum mandi.
"Yang?" Panggil Jaka sembari menatap Melati yang tiba tiba melamun. Perempuan itu tersentak.
"Malah ngelamun. Mikirin apa hayo?" Tanya Jaka.
"Tahu, ah. Bisanya bikin resah doang." Jawab Melati menjadi ketus.
"Loh, bikin resah? Apa maksudnya?" Tanya Jaka bingung.
"Masa nggak maksud?" Ujar Melati.
"Beneran, Yang. Aku nggak maksud. Bikin resah bagaimana sih?" Tanya Jaka semakin bingung.
Melati menghela nafasnya sejenak kemudian dia mendekati Jaka terus berbisik.
"Bulu ketiakmu tuh bikin resah, membuat si tembem nyut nyutan tak terkira."
"Astaga!"
...@@@@@...
__ADS_1