ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Romansa Malam..


__ADS_3

Risma terperangah mendengar pertanyaan suaminya. Namun tak lama kemudian suara tawanya pecah. Sedangkan Dodit yang merasa tidak ada yang salah dengan pertanyaanya malah mendengus sebal. Dia menempel wajahnya diatas sarang sang istri kemudian dia mendusel duselkan wajahnya di sana.


"Aduh! Mas Dodit, geli!" Pekik Risma sembari tertawa dan berusaha menutup bawah perutnya dari wajah Dodit.


"Bodo amat! orang lagi tanya serius, malah diketawaain." Sungut Dodit dan dia terus menduselkan wajahnya.


"Iya, ampun, sayang. Ampun! Udah, geli." Dan Dodit pun mengehentikan aksinya. Dia bangkit dan menyesap kedua pucuk bukit kembar sang istri bergantian kemudian kembali merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


"Gimana, Yang? Masa selama kamu datang bulan, cucak rowoku nganggur? Nggak asyik banget" Keluh Dodit. Matanya beradu pandang dengan kata istrinya.


"Lah terus mau gimana lagi? Ya di tahan dong, Mas. Kan cuma satu minggu." Balas Risma yang semakin merasa gemas dengan tingkah suaminya.


"Lah, terus kalau tiba tiba kepengin, masa pakai tangan lagi? Bosen, Yang. Gayanya cuma begini aja." Ucap Dodit sambil menunjukan gerakan tangan yang memegang cucak rowonya saat dia menuntaskan hasratnya sebelum menikah. Lagi lagi Dodit berbuat sesuatu yang membuat Risma tertawa.


"Ya kalau kamu bosen pakai tangan kamu, nanti aku bantu pakai tangan aku deh. Gimana?" Tawar Risma.


"Beneran, Yang? Kamu mau bantuin?" Tanya Dodit memastikan.


"Ya benar lah, aku akan bantuin. Kamu bilang aja kalau pengin, Mas."


"Siap!" Balas Dodit semangat. Kini dia menghujani perut Risma dengan bibirnya.

__ADS_1


"Emang kamu dulu kalau main pakai tangan, seminggu bisa main berapa kali, Mas?" Tanya Risma penasaran.


"Paling sebulan sekali, Yang. Takut lecet kalau keseringen. Terus takut nggak tahan lama keluarnya kalau keseringan dipaksa pakai tangan." Balas Dodit dan Risma hanya mendengarkan dengan baik tanpa menyela.


"Pantes, kamu kuat banget, Mas. Bahkan sampai beronde ronde." Tukas Risma.


"Ya kan, agar aku bisa bikin puas istriku, Yang. Kamu puas nggak, Yang? Bermain sama aku?" Tanya Dodit dan tangannya terus bermain benda kembar milik sang istri.


"Puas banget, Yang. Makanya aku pasrah aja saat kamu ngajak aku main terus." Mendengar pengakuan Risma, Hati Dodit merasa terbang melayang. Batapa bahagianya dia bisa membuat sang istri puas.


"Nggak sakit, Yang? Tiap malam aku sodok. Kalau sakit ngomong. Biar aku yang pijit." Tanya Dodit sedikit khawatir.


"Ya sedikit sakit, Yang. Tapi kalau sudah enak ya nggak sakit lagi." Balas Risma. Dodit sedikit terkejut dan dia segera bangkit dari pangkuan Risma.


"Nggak perlu, Mas."


"Jangan nolak! Udah cepet berbaring."


Mau tak mau, Risma pun nurut. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur lantai. Dodit duduk bersila di samping pangkal kaki Risma. Tangannya terjulur ke arah sarang dan mulailah pemijatan khusus ala Dodit.


Di malam yang sama, di rumah yang berbeda dan kamar berbeda pula. Sepasang pengantin baru juga sedang sibuk membuka satu persatu amplop hasil sumbangan.

__ADS_1


"Ya ampun, Mas. Ini baru satu karung aja udah sebanyak ini. Bagaimana nanti kalau yang dua karung di buka?" Ujar Melati takjub dengan apa yang dia lihat di depan matanya.


"Ya kan ini semua karena aku juga rajin kondangan, Yang. Anggap aja aku saat ini sedang menuai hasil atas apa yang aku tanam. Itu nanti yang satu karung buat emak sama bapak, dan yang dua karung masukin rekening kamu dan yang dalam kantong plastik buat orang tua kamu." Melati tertegun dengan keputusan Jaka. Dia menatap suaminya lekat lekat.


"Ini kan uang kamu, Yang? Kamu aja yang nyimpen." Usul Melati.


"Ini uang kita, rejeki kita. bukan uang kamu atau aku. Jadi kelak kita tidak pernah ribut soal uang. Lagian kan uang ini juga nanti buat nanam modal di toko kamu, Yang." Terang Jaka. melati pun merasa terharu. Dia bangkit dan memaksa duduk dipangkuan sang suami.


"Ya ampun, Sayang? Ini belum selesai." Pekik Jaka. Bukannya berpindah, Melati malah menempelkan bibirnya di bibir sang suami. Dengan ganas Melati menggerakkan bibirnya.


Jaka tidak tinggal diam. Dia pun menyambut serangan sang istri. Perang bibir pun makin liar. Bahkan Jaka menghempaskan tubuh sang istri diatas ranjang hingga uang dan amplop itu bertebaran ke segala arah.


Kini bibir Jaka bukan hanya menyerang bibir Melati, kini bibir itu bergerilya ke leher dan sebagainya bersamaan tangan kekar yang mulai menyusuri kemana mana.


Dan masih di malam yang sama namun di rumah dan kamar yang berbeda, nampak seorang perempuan dengan tubuh meliuk liuk diatas ranjang. Kedua tangannya bergerak aktif menyusuri tubuh yang hanya ditutupi penjerat bukit kembar dan segitiga bermuda.


Kedua tangan itu berhenti. Tangan kiri memijat pelan salah satu bukit kembarnya dan tangan kanan bergerak masuk kedalam segitiga bermuda dan bermain main disana.


Dalam gerakan badannya yang tak beraturan, di iringi suara mengerang kenikmatan yang dia rasakan, mulutnya juga berkali kali bergumam dan memanggil satu nama.


"Jun! Terus Jun! enak banget."

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2