
Risma menghembuskan nafasnya pelan kemudian dia mengulas senyum. Tidak ada kemarahan sedikitpun di wajahnya. Yang jelas hanya ada rasa kagum dengan kepolosan sang suami yang usianya jauh dibawahnya. Risma sangat maklum dengan Dodit. Dulu mantan suaminya juga seperti itu saat pertama kali bingung memasukannya bagaimana.
Risma membangkitkan sedikit tubuhnya menjadi setengah duduk. Tangannya terjulur meraih cucak rowo Dodit. Mata Dodit terus memperhatikan gerakan tangan Risma. Ditempelkannya kepala Cucak rowo ke titik sarang kanikmatan.
"Masukin pelan pelan, Yang." Perintah Risma.
"Ini sudah pas, Yang?" Tanya Dodit dengan mata terus memperhatikan tangan Risma.
"Sudah, doronglah. Pelan pelan dulu tapi."
Seketika Dodit memajukan pinggangnya perlahan. pucuk kepala cucak rowo sudah mulai terbenam. Rintihan Risma sedikit mengeras membuat mata Dodit langsung menatapnya.
"Sakit, Yang?" Tanya Dodit panik.
"Sedikit. Tapi nggak apa apa kok, Dit. Mungkin karena sudah lama nggak dipake." Jawaban Risma membuat lega perasaan Dodit. Dia kembali menekan cucok rowo memasuki sarang terindah di iringi rintihan lembut sang istri. Hingga beberapa saat kemudian seluruh cucak rowo tenggelam ke dalam sarang itu.
Sesaat Dodit terdiam memandang wajah sang istri yang terlihat sayu. Risma pun menyunggingkan senyum dan dia kembali terbaring. Dodit mengalihkan pandangannya ke arah cucak rowo yang sudah bersembunyi di dalam sarang indah impiannya.
"Di dalam terasa penuh, Sayang. Punya kamu mantap banget. Gerakin, sayang. Aku sudah nggak tahan banget." Pinta Risma. Nafasnya benar benar sudah tak beraturan.
Dodit tak menjawab. Dia hanya tersenyum dan langsung mengabulkan permintaan sang istri. Pelan pelan pinggangnya bergerak maju mundur. Risma mengerang begitu keras. Kedua tangannya mengcengkram bukit kembarnya kuat kuat.
"Terus, Sayang! Enak banget." Rintih Risma.
__ADS_1
Tanpa disuruh pun, Dodit akan terus menggerakkan pinggangnya. Dia juga merasakan nikmat yang sangat luar biasa yang sama sekali tidak pernah dia rasakan. Dengan bantuan naluri, gerakan yang awalnya pelan, kini lama lama semakin menambah kecepatannya.
Gerakan Dodit kini benar benar semakin cepat hinggga membuat Risma bergerak gerak tidak beraturan di iringi rintihan nikmat yang kadang melembut kadang keras. Begitu juga dengan Dodit. Matanya bahkan hanya fokus memandang sarang sang istri yang sedang di bombardir oleh cucak rowo miliknya.
Risma menatap lekat tubuh suaminya. Bibirnya tersenyum. Saat ini dimatanya, Dodit benar benar sosok yang berbeda dari Dodit yang biasanya dia jumpa. Dodit terlihat begitu mempesona layaknya pria dewasa dengan badan yang super bagus dan keringat yang bercucuran. Dalam hati Risma benar benar merasa bangga dan bahagia bisa merasakan tubuh Dodit.
Dikala kenikmataan itu berlangsung, Dodit sedikit terdegun saat telinganya menangkap sebuah suara. Sejenak dia menghentikan gerakan pinggangnya terus tak lama dia melanjutkan gerakan itu dengan cepat dan bunyi itu terdengar lagi. Dan dia kembali menghentikan gerakannya.
"Kok berhenti sih, Yang? Terusin dong!" Rintih Risma dan suara beratnya terdengar sangat merdu dan menggoda.
"Eh iya, sayang, maaf. Aku cuma lagi memperhatikan suara." Ucap Dodit. Dia kembali menggerakannya pinggangnya.
"Suara apa, Yang?" Tanya Risma dengan badan yang bergerak gerak karena serangan cucak rowo suaminya.
"Kamu ada ada saja, Yang. Sini sih, Dit? Aku pengin pengin di cium." Dan lagi lagi dengan senang hati Dodit menuruti permintaan sang istri. Dicondongkan tubuh ke atas Risma dan wajah mereka saling tatap sejenak kemudian bibir mereka pun bersatu cukup lama.
"Punya kamu enak banget, Yang." Ucap Dodit begitu perang bibir berakhir namun posisi mereka masih berhadapan.
"Kamu suka?" Tanya Risma yang melingkarkan tangannya di leher sang suami.
"Suka banget, kayak menggigit gitu tapi bikin enak." Jawab Dodit dan Risma mengangkat kepalanya langsung menyambar bibir Dodit beberapa saat.
"Aku juga suka punya kamu, Dit. Gede panjang. benar benar di dalam sana seperti terisi penuh oleh cucak rowo. Mantap banget." Dan kini gantian Dodit yang merenyang bibir isrtinya.
__ADS_1
Selain bibir, Bibir Dodit pu menjelajah ke leher hingga kebukit sikembar. Naluri laki laki yang terbakar hasrat membuat Dodit terlihat begitu liar menyerang setiap inci tubuh sang istri bersamaan gerakan pinggang yang semakin cepat.
"Enak banget, Dit! Terus mentokin! Yang kenceng!" Dodit langsung mengabulkan permintaan sang istri. Dia kembali mendekatkan wajahnya dan langsung menyerang bibir Risma.
Hingga beberapa menit kemudian.
"Yang, aku ingin keluar. Mau keluar di mulut lagi apa?" Tanya Dodit dengan suara beratnya.
"Jangan! Di dalam sana saja, aku juga mau keluar." Jawab Risma dan suaranya tak kalah berat.
"Emang boleh keluar di dalam sarang?" Tanya Dodit memastikan.
"Iya, sayang, cepat, kita keluar bareng."
Pergerakan pinggang Dodit semakin cepat dengan erangan erangan yang semakin membahana memenuhi ruangan tersebut. Hingga beberapa saat kemudian.
"Yang! Aku keluar!" Pekik Dodit dengan senjata yang berkedut dan tubuh yang gemetar hebat. Dia juga merasakan punya Risma mengeluarkan air putih kental dengan tubuh yang menegang.
Dodit ambruk diatas tubuh sang istri dengan senjata yang masih menancap di bawah sana. Nafas mereka menderu. Risma memeluk erat tubuh Dodit. Sambil mengatur deru nafasnya, Dodit berbisik pada sang istri.
"Akhirnya, keperjakaanku hilang, Sayang."
...@@@@@...
__ADS_1