ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Akibat Ulah Tejo..


__ADS_3

"Mba, tolong, bisa lihat yang itu?" Tunjuk seorang perempuan pada dua buah benda berbentuk lingkaran yang terpajang diantara benda benda berbentuk sama di dalam etalase. Dengan sigap seorang pelayan pun mengambilkan benda yang di tunjuk.


"Gimana, Yang? Lebih bagus yang mana?" Tunjuk Melati kepada kekasihnya yang sedari tadi lebih banyak diam karena semua piilhan Melati yang mendominasi.


"Bagus juga." Jawab Jaka.


"Jadi kita pilih yang mana?" Tanya Melati bingung menatap empat pasang cincin dihadapannya.


"Kamu lebih cocok yang mana?" Tanya Jaka menatap sang kekasih.


"Semuanya." Jawab Melati sembari menyunggingkan senyum.


"Ntar, kalau aku sudah jadi presdir, aku beliin sama tokonya sekalian." Ucap Jaka gemas.


"Yang ini saja ya?" Tunjuk Melati pada cincin putih yang modelnya sangat sederhana namun terlihat elegan.


"Ya udah, kita ambil yang itu saja. Di coba dulu." Ucap Jaka. Dan mereka berdua pun mencobanya ternyata pas.


"Mba, kita ambil yang ini, ya?" Tunjuk Melati.


"Baik, tunggu sebentar ya, Mba?" Balas pelayan dan Melati mengangguk.


Setelah semua di proses dan di bayar, Melati dan Jaka nampak keluar dari toko emas menuju tujuan berikutnya. Kini tempat berikutnya yang akan mereka kunjungi adalah pusar batik.


Tak butuh waktu lama, mereka telah sampai di tempat yang dimaskud. Lagi lagi Melati yang mendominasi pilihan dan Jaka hanya bisa menurutinya saja tanpa protes.


"Bagusan yang mana, Yang?" Ucap Melati sembari memperlihatkan dua baik berpasangan.


"Dua duanya bagus." Jawab Jaka.


"Astaga! Perasaan dari tadi jawabannya sama semua." Gerutu Melati dan Jaka hanya terkekeh.


Melati memutar badan dan kembali melihat lihat deretan baju. Di saat Melati fokus pilih pilih, Jaka melingkarkan tangannya di pinggang ramping Melati dan berbisik.


"Kamu pakai baju apa saja terlihat cantik namun kamu lebih cantik kalau sedang tidak pakai apa apa."


"Hih, mesum!"


Jaka tertawa kecil sembari melepas pelukannya. Begitu juga Melati senyum senyum sendiri.

__ADS_1


Dan setelah memilih dalam waktu yang cukup lama akhrinya pilihan jatuh pada batik pasangan berwarna putih. Dan kini mereka tiba saatnya mencari rumah makan setelah keluar dari toko batik.


Setelah berunding dan memilih mau makan apa, sepasang kekasih itu memutuskan memilih rumah makan yang terkenal dengan aneka menu sambelnya. Ada lebih dari tiga puluh jenis sambal dan rumah makan ini selalu nampak ramai.


"Yang, kira kira pernikahan kita, mau dipercepat atau di perlambat?" Tanya Jaka.


"Ya kalau aku sih maunya dipercepat, Yang. Tapi juga harus berunding dengan orangtua dulu kan?" Jawab Melati.


"Iya, Aku takut aja, ntar ada yang ngaku ngaku lagi. Kalau aku sudah nikah kayaknya lebih adem dan nggak akan ada yang ngaku ngaku." Ucap Jaka.


"Makanya, jangan terlalu tampan dong, Yang! Sana sini jadi banyak yang mau." Cibir Melati dan Jaka hanya senyum senyum.


"Kalau aku nggak tampan, mana mungkin ada wanita yang diam diam suka tapi nggak berani ngomong. Coba kalau aku nggak berteduh di rumah wanita itu. Mungkin aku jadi dikenalkan sama anak temannya bapak." Ucap Jaka.


"Jalan jodoh emang misteri, Yang. Mungkin aku juga bakalan terus terusan dikenalkan sama laki laki oleh bapak. Cuma tadi pagi aku heran aja, Yang. Kata perempuan itu, ada yang bilang ke dia kalau kamu ingin menemuinya. Kasihan, kan?" Ujar Melati.


"Iya sih kasian. Sayangnya aku nggak tahu orangnya kayak apa. Coba kalau tahu, kita bisa datangi dia dan kasih penjelasan." Balas Jaka.


"Benar, Yang. Takutnya dia malah semakin berharap terus, bahaya. Ntar nama kamu juga yang buruk."


"Yang, berarti kita nanti setelah menikah, nggak ada malam pertama yah?" Tanya Jaka.


Dan keduanya serentak tergelak bersama.


Percakapan mereka terhenti saat pesanan mereka datang. Jaka dan Melati segera saja menyantap hidangan tersebut dengan sesekali membahas ke hal yang lainnya.


Sementara itu di tempat lain. Nampak sepasang suami istri memasuki sebuah salon. Pemilik salon yang sedang ngobrol dengan rekannya seketika terhenti dan menyambut tamu yang baru datang.


Setelah beberapa saat berbasa basi, sang istri duduk di kursi yang sudah di sediakan dan sang suami duduk di tempat lain.


"Jangan terlalu pendek ya, Mba?" Pinta sang istri.


"Baik, Mba." Jawab sang pemilik salon ramah.


Pemilik salon pun mulai menunjukkan bakatnya pada perempuan itu. Dengan lugas dia menyisir memotong dan merapikan hingga potongan sesuai dengan apa yang di inginkan konsumen.


Di saat pemilik salon sedang melakukan pekerjaannya, masuk lah seorang laki laki dan duduk tak jauh dari keberadaan mereka.


"Gimana, Bang?" Tanya pemilik salon. Nampaknya pertanyaan tersebut di tujukan pada laki laki yang nampak tersenyum kepadanya.

__ADS_1


"Tenang, Ay. Jangan khawatir. Jaka udah pasti mau ketemu." Jawab Laki laki itu enteng.


Namun jawaban itu membuat sepasang suami istri yang berada disana mengerutkan dahinya mendengar nama Jaka di sebut.


"Beneran? Kapan bisanya?" Tanya pemilik salon dengan senyum sumringah.


"Tadi sih Jaka bilang, kalau nggak besok ya lusa, barusan aku ke rumah dia." Jawab Laki laki itu dusta.


"Wah! Jadi nggak sabar. Tapi dia benar bisa nerima aku apa adanya, kan?" Tanya pemilik salon lagi.


"Kalau itu nanti tugas kamu, aku sih sudah cerita semua tentang kamu dan Jaka terlihat sangat tertarik, makanya dia mau menemui kamu saat libur nanti." Jawab laki laki itu lancar tanpa hambatan.


Perempuan yang dari tadi mendengar pembicaraan antara pemilik salon dan laki laki itu semakin penasaran. Apa lagi mereka menyebut nama Jaka.


"Maaf, Mba. Aku boleh tanya?" Tanya perempuan itu.


"Oh, iya, silahkan, Mba, tanya apa?" Balas pemilik salon.


"Kalau boleh tahu, tadi, Mba nyebut nama Jaka. Jaka yang mana yah? Kali aja aku orang yang sama?" Tanya perempuan itu lagi.


"Oh, itu, Jaka yang kerja menjadi penagih hutang, Mba. Mba kenal?"


Tentu saja perempuan itu dan juga suaminya terkejut mendengar jawaban si pemilik salon. Mereka kenal dengan Jaka yang dimaksud.


"Oh, enggak. Kirain Jaka yang sama yang aku kenal." Jawab perempuan itu berbohong.


"Owalah, begitu toh."


Tak lama kemudian perempuan itu menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah melakukan pembayaran sepasang suami istri itu pun keluar dengan perasaan tak menentu.


"Ternyata, Jaka bukan lelaki yang baik untuk Melati, kamu harus secepatnya ngasih tahu Pakde Haryo untuk membatalkan acara lamarannya, Ti." Tanya laki laki.


"Iya lah, aku pasti akan ngomong. Laki laki yang kualitasnya standar kaya kamu bisa nggak setia, apa lagi Jaka, yang cakepnya bikin gila. Sudah pasti kesempatan buat deketin cewek manapun." Jawab sang istri.


Dan mereka pun segera pulang untuk memberi kabar yang mereka dengar kepada keluarganya.


...@@@@@...

__ADS_1


Mohon maaf ya pembaca setia Jaka. Untuk beberapa hari kedepan, kisah Jaka up satu bab sehari dulu karena othornya masih dalam suasana duka. Insya Allah, jika keadaan sudah kondusif, othor akan kembali up dua bab perhari. Terima kasih.


__ADS_2