
Dan akhirnya keluarga Jaka pun berkumpul setelah tadi sempat mendengar kabar. Bapak, Jati dan juga Yanti langsung bergegas pulang dari pasar. Jaka pun segera saja menceritakan alasan serta kejadian yang menimpa sepupunya Melati.
"Benar kan apa yang pernah Bapak bilang, Jak. Berhubungan sama janda itu memang susah susah gampang. Sebaik apapun berhubungan dengan janda, pasti akan tetap ada pandangan buruk. Maka itu, Jak. Jika memang niat kamu baik, mending segera kan saja kamu halal kan Melati. Untuk urusan kamu mencari nafkah bisa kamu pikirkan setelah menikah." Ucap Bapak.
"Bapak benar, Jak. Apa lagi kamu tahu sendiri, yang ngejar kamu itu ribuan perempuan. Takutnya semakin lama kamu menundanya, semakin banyak masalah yang timbul dan bisa saja niat baikmu sama Melati malah akan terus tertunda." Sambung Jati.
Jaka hanya terdiam sembari mencerna semua perkataan orang orang terdekatnya. Apa yang di katakan mereka memang benar. Semua memang untuk kebaikan bersama. Terutama kebaikan Melati dan Jaka sendiri.
"Baiklah, Jaka ngikut keputusan bapak saja baiknya bagaimana." Ucap Jaka pasrah.
"Baguslah, Jak. Kamu kabari saja ke keluarga Melatu, besok malam kita berkunjung. Jati, kamu kabari keluarga terdekat kita saja. Kali aja ada yang mau ikut acara lamaran Jaka. Yanti, kamu bisa bantu Emak nyiapkan apa apa yang akan di bawa buat acara lamaran kan?" Ucap Bapak.
"Bisa, Pak. Paling nanti Yanti juga minta tolong emak Yanti dan saudara saudara Yanti biar lebih cepet." Balas Yanti dan semuanya nampak lega.
__ADS_1
Setelah keputusan diambil, Jaka segera saja menghubungi Melati untuk memberi kabar tentang keluarganya.
Sementara di rumah Melati, setelah mendapat kabar dari Jaka, Melati segera saja memberi tahu berita yang baru dia dengar kepada orangtuanya.
"Baiklah, kita siapkan saja apa yang di perlukan besok. Desi sama Rani suruh bantuin mempersiapkan segalanya. Dan nanti malam suruh Rudi dan Falah ikut bapak buat melamar Risma." Titah Haryo kepada Melati.
"Baik, Pak." Jawab Melati.
Dan kesibukan juga terlihat di rumah Risma. Pak Rt, warga serta keluarga Risma nampak sedang membicarakan masalah yang terjadi semalam.
"Aku akan berusaha nrima, Bu. Cuma aku kasihan sama Dodit. Dia masih begitu muda tapi malah terlibat masalah denganku, Bu." Jawab Risma dengan wajah sendu.
"Meski dia masih muda, tapi dia bukan pria pengecut. Terlihat semalam dia benar benar mau tanggung jawab dengan apa yang terjadi. Biasanya anak seusia dia akan memilih kabur dan mempermalukan pihak perempuan." Balas Pak RT.
__ADS_1
"Apa jangan jangan, pemuda itu sebenarnya ada hati sama kamu, Ris?" Tebak bapak.
"Apaan sih, Pak. Mana ada anak muda suka sama janda yang usianya lebih tua." Jawab Risma.
"Eh ya siapa tahu. Meski dia masih bocah tetap dia anak laki laki yang sudah khitan." Balas Bapak tak mau kalah.
Dan obrolan mereka pun merambat ke hal lainnya sembari menyiapkan segala seauatu untuk menyambut kedatangan keluarga Dodit yang direncanakan akan berkunjung malam nanti.
Sementara di kediaman Dodit, setelah melakukan musyawarah keluarga. Keluarga Dodit pun bahu membahu dan saling membantu menyiapkan segala hal yang akan mereka bawa. Sementara Dodit malah asyik berdiam diri di dalam kamar sembari senyum senyum penuh kemenangan.
Dodit tidak pernah menyangka, dia akan menikah secepat ini dengan janda cantik yang membuat hatinya terus bergetar tiap kali bertemu dengannya.
"Tenang ya Mba Risma sayang, meski aku terlihat anak kecil di matamu, aku akan tunjukkan kalau anak kecil ini layak jadi suamimu yang akan kamu bangggakan hingga kamu tidak menginginkan pisah dariku." Gumam Dodit sembari senyum senyum menatap bayangan dirinya di depan cermin.
__ADS_1
...@@@@@...