ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Di Saat Rumah Sepi..


__ADS_3

Wulan mematung mendengar ancaman Juna. Bahkan dia sempat bergidik meski sempat pikirannya berkelana sejenak membayangkan tubuh pria setampan Juna jika tidak memakai apa apa.


Dalam pikiran Wulan, Juna yang berkulit putih dan selalu terlihat bersih pasti tubuhnya harum dengan citarasa khas lelaki. Dan Juna pasti akan terlihat sangat gagah jika sedang mengungkung dirinya diatas ranjang.


Wulan menggelengkan kepalanya beberapa kali karena sempat sempatnya berpikir liar hanya karena bisikan Juna yang terdengar seksi dan menggoda di telinganya.


"Lepas, Jun! Nanti Bapak lihat." Pekik Wulan sembari matanya mengawasi pintu belakang dapur yang terhubung dengan rumah. Dan benar saja, tak lama kemudian terlihat Bapak keluar rumah. Wulan segera saja bilang ke Juna dan pria itu menurutinya sembari tertawa renyah.


"Lan, Bapak ke rumah Pak lik dulu. Nanti jangan lupa, kamu kesana." Ucap Bapak begitu masuk warung.


"Nak Juna, sebenarnya Bapak ingin bicara sama kamu tapi sayangnya hari ini tidak bisa. Lain kali kamu sempatkan kesini lagi, Ya?" Dan Juna pun mengiyakan dengan sopan. Setelah pamit, sang bapak pun pergi meninggalkan Wulan dan Juna.


"Rumah sepi nih, enaknya ngapain ya?" Goda Juna dengan senyum nakalnya melirik Wulan yang mendengus sebal.


"Enaknya kamu pulang, aku tutup warung." Balas Wulan sambil keluar memasang papan penutup warung satu persatu.


"Nggak mau ah. Mumpung ada kesempatan. Pengin main di rumah kamu, mumpung sepi." Ucap Juna masih berusaha meledek Wulan.


"Jangan aneh aneh deh, Jun. Belum halal juga." Cibir Wulan dan Juna malah tergelak.

__ADS_1


"Ya makanya ayok halalin. Jangan bantah! Lagian kalau kamu membantah, aku tetap akan membawa keluarga besar kesini. Aku kan sudah janji sama bapakmu dan bibir kamu sudah sah jadi milikku. Jadi kamu harus mau!" Paksa Juna dengan entengnya.


"Kok jadi maksa gitu? hih! Posesif!" Sungut Wulan dan lagi lagi Juna tergelak.


"Iya, aku pemaksa. Makanya kamu harus mau nikah sama aku. Kalau masih mikir mikir, aku akan paksa kamu mumpung rumah sepi. Biarin di tuduh pemerkosaan, yang penting berujung nikah." Lagi lagi Juna berucap dengan entengnya hingga membuat Wulan mengernyitkan dahinya.


"Kamu pasti sudah sering melakukannya dengan banyak wanita ya, Jun?" Tebak Wulan dan pertanyaan itu sukses membuat Juna tecekat.


"Melakukan apa? Aku masih polos kali, Lan." Sangkal Juna dusta dan pastinya Wulan tidak percaya begitu saja.


Sebagai laki laki, Juna juga pernah mengalami masa puber dan kenakalan remaja. Banyak anak anak remaja yang mencari kesenangan, namun malah salah jalan. Begitu juga dengan Arjuna. Wajah tampannya memang menjadi berkah tersendiri buat dirinya. Dia tidak pernah kesusahan dalam urusan menaklukan hati wanita. Tapi sayang, karena pesonanya juga, banyak wanita yang dengan suka rela membentangkan kakinya lebar lebar termasuk pacar Juna. Tiga kali Juna merenggut kesucian wanita. Yang dua kali karena sang pacar yang terus menggoda dan merengeknya dan satu kali karena jebakan dari seorang perempuan di pesta ultah. Dan perempuan itu juga yang menggoda kakak Juna.


"Dihh! Jelas banget tuh bohongnya. Ngakunya lugu padahal suhu." Cibir Wulan sembari berjalan ke arah samping warung melewati Juna. Namun dengan jahilnya justru Juna berdiri dan kembali memeluk pinggang Wulan hingga mereka terhuyung kedepan dan posisinya sedikit menungging.


"Kita buktiin atau gimana? Agar kamu tahu kalau aku masih polos dan lugu?" Bisik Juna dan tentu saja dia hanya menggertaknya.


"Juna ih! Lepasin ini?" Rengek Wulan.


"Pilih mana dulu, kita nikah atau kita khilaf?" Ucap Juna masih dengan berbisik dan tentu saja hembusan nafas Juna yang menyentuh kulit leher membuat Wulan salah tingkah.

__ADS_1


"Jun! Jangan seperti ini sih?" Wulan masih merengek namun Juna tidak peduli sama sekali. Dia tetap memeluk Wulan dan menyudutkannya.


"Pilih dulu! Kita nikah atau kita khilaf? Kalau nggak mau pilih, berarti kita khilaf." Ancam Juna.


"Jun! Aku teriak nih?" Ancam Wulan.


"Silahkan! Jika warga datang, aku tinggal bilang, aku sedang bercanda karena aku calon suami kamu. Dan jangan lupa, bapak juga tahu tujuanku kesini mau apa. Jadi, apa warga akan percaya? Jika kamu berteriak?" Cibir Juna masih di dekat telinga Wulan.


"Baiklah, aku akan menjawabnya, tapi ini lepasin dulu." Tukas Wulan. Namun Juna tidak bodoh, dia tahu maksud Wulan.


Juna makin mengencangkan pelukannya hingga Wulan berjengit. Salah satu tangan Juna merogoh tas slempangnya dan mengambil ponsel. Juna mencari menu kamera dan menekan tombol rekam.


"Cepat katakan pilihanmu! Kita nikah atau kita khilaf." Desak Juna lagi sembari merekam adegan tersebut.


Wulan sebenarnya tidak marah cuma dia gemas dengan tingkah Juna. Dan kali ini dia benar benar terpojok. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya dia berteriak.


"Iya! aku setuju! Aku mau menikah dengan kamu, Juna!"


"Yes! Lamaranku diterima!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2