
Setelah acara lamaran Dodit berjalan lancar. Kini keluarga Melati kembali di sibukkan dengan acara berikutnya yaitu lamaran Jaka dan Melati yang akan terjadi malam nanti.
Semua anggota keluarga perempuan nampak berkumpul di dapur dan ada pula yang berada di ruang tengah. Beruntung semua belanjaan sudah di siapkan sejak kemarin pas acaranya Dodit, jadi hari ini tinggal mengolah dan menambah beberapa bahan saja jika diperlukan.
Sedangkan anggota keluarga laki laki nampak berkumpul di teras depan rumah setelah kerja bakti membersihkan halaman.
"Dodit, pesenanku berarti nggak jadi di bikinin dong yah sama Risma?" Teriak Melati begitu dia keluar rumah sengaja menemui sepupunya.
"Jadi kok, Mba. Nanti sore diantar kesini oleh Mba Risma sendiri." Jawab Dodit dan tentu saja ucapan Dodit membuat yang mendengarnya merasa geli.
"Kamu manggil calon istrimu tetap Mba, Dit?" Tanya Rudi. Sedangkan yang ditanya malah cengengesan.
"Ya kan belum terbiasa, Bang. Mungkin nanti kalau udah sekamar beda lagi." Jawab Dodit enteng namun malah kepalanya kena toyor oleh Falah.
"Gawat ni bocah. Pikirannya udah kamar aja. Jangan jangan kena grebeg gara gara.." Ledek Falah.
"Sumpah, Bang. Enggak. Aku masih perjaka ting ting, belum ngapa ngapain. Mungkin kalau pak Rt nggak ngetuk pintu, beneran bakalan kejadian yang diinginkan." Jawab Dodit santai dan lagi lagi kepalanya kena toyor oleh Falah.
__ADS_1
"Itu sih maunya kamu aja. huu." Ucap Falah dan Dodit kembali cengengesan.
Sementara itu di waktu yang sama di tempat berbeda juga terjadi keributan yang sama persis dengan yang terjadi di rumah Melati.
Nampak keluarga Jaka juga sedang sibuk mempersiapkan segala keperluan yang akan di bawa untuk acara lamaran Jaka nanti malam.
Bahkan Juna pun sengaja menutup tokonya demi menghormati sepupunya yang akan menempuh ke kehidupan yang lebih baik lagi.
"Gimana, Jun? Kamu sudah memberitahu orang tua kamu?" Tanya Bapak. Saat ini para lelaki juga sedang duduk santai di teras rumah.
"Nggak apa apa, yang penting Pakde udah ngabarin dan mereka tahu. Lagian keluarga yang lain juga belum bisa datang juga." Balas Bapak.
"Iya, Pak. Yang penting pas acara nikahnya Jaka, mereka bisa pada datang. Ngomong ngomong acaranya mau sederhana apa rame rame sih, Jak?" Tanya Jati.
"Aku sih sama Melati sepakat penginnya yang sederhana saja." Jawab Jaka belum selesai bicara tiba tiba dari dalam ada suara.
"Apaan sederhana. Emak penginnya nanti acaranya yang meriah. Emak pengin nanggap orkes dangdut. " Ucap Emak antusias.
__ADS_1
"Lah, kan daripada uangnya buat pesta, mending di tabung buat modal usaha kan, Mak?" Usul Jaka.
"Itu kan uang kamu. Urusan pesta nanggap dangdut mah urusan Emak dan Bapak. Dan itu semua pake uang Bapak, kamu jangan khawatir, Jak. Tinggal jalani aja." Balas Emsk santai.
"Ya ampun, Bude. Semangat amat nangggap dangdut. Bude mau joget paling depan?" Tanya Juna.
"Iya dong, Jun. Apalagi kata Yanti, calonnya Jaka bisa nyanyi dangdut. Pas dong, nggak perlu sewa biduan. Udah ada Melati di tambah Yanti. Udah cocok tuh." Balas Emak di iringi suara gelak tawa.
Begitu juga Jaka. Dia juga tidak ketinggalan ikut tertawa mendengar apa yang Emak ucapkan. Sembari tertawa, Jaka mengambil ponsel dalam sakunya. Dahi Jaka berkerut saat matanya menatap beberapa status yang lewat di aplikasi chat berwarna hijau.
"Hari ini adalah hari patah hati sedunia. Pria tertampan di negeri ini akan lamaran."
"Jaka! Kenapa kamu memilih perempuan lain? Padahal aku sengaja hadir di dunia ini hanya untukmu."
"Ya ampun Jaka. Kenapa kamu hanya akan menjadi khayalanku saja saat hasratku sedang membara."
...@@@@...
__ADS_1