ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Rencana Piknik Keluarga..


__ADS_3

"Jangan terlalu baik sama saudara saudaramu, Bir." Tiba tiba terdengar suara yang semua orang yang tadi besorak terdiam seketika. Mereka menoleh ke sumber suara.


"Maksud Om Rahmat?" Tanya Kabir kepada bapaknya Jaka yang berdiri di ujung pintu dan dia segera masuk ke dalam ruangan dimana anak dan sepupunya pada berkumpul menikmati sarapan.


"Kamu punya keluarga, jangan sampai mereka berpikiran yang tidak tidak pada keluarga kita. Kamu pasti tahu kan maksud Om?" Balas Om Rahmat. Kabir mengerutkan alisnya dan sedetik kemudian dia mengulas senyum.


"Saya ngerti Om, tapi Om jangan khawatir. Ini sepenuhnya memakai uang pribadi saya, bukan uang orangtua saya." Jawab Kabir meyakinkan Om Rahmat. Bapaknya Jaka mengangguk kemudian dia kembali keluar rumah mengawasi tukang yang sedang membongkar tenda pernikahan.


Semua yang ada diruangan itu pun nampak mengerti arah pertanyaan Om Rahmat kemana. Keluarga Jaka adalah keluarga sederhana. Mereka tidak terlalu kaya, namun tidak terlalu miskin. Keluarga besar Jaka diberi rejeki yang berkecukupan. Tapi Jika dibanding dengan keluarga Kabir, Mereka kalah jauh.


"Iya, Bang Onta. Ntar kita dituduh keluarga yang memanfaatkan Bang Onta lagi." Tukas Julian. Dan lagi lagi Kabir tersenyum.


"Nggak bakalan ada yang seperti itu. Kalian kan keluarga ku juga." Jawab Kabir masih dengan senyum hangatnya.


Itulah perasaan Kabir yang sesungguhnya. Dia benar benar merasa memiliki keluarga setelah pernikahannya dengan Juwita enam tahun yang lalu. Keluarga besar istrinya berbeda dengan keluarga besar Kabir. Dalam keluarga Bang Onta, tidak pernah ada kehangatan dan keseruan keluarga jika sedang berkumpul. Masing masing sibuk dengan urusannya. Dalam acara keluarga pun, keluarga Kabir hanya bercengkrama beberapa saat saja. Benar benar beda jauh dengan keluarga istrinya.


"Jangan berpikir macam macam, insya Allah, rejeki ku nggak bakalan habis jika aku berbagi dengan kalian." Jawab Kabir masih dengan tersemyum manis.


"Tapi awas loh, jangan ada yang memanfaatkan kebaikan Bang Kabir!" Ucap Juwita memperingati.


"Tenang aja Mba, kita kan orang baik." Tukas Jubair.


"Berarti nanti pas aku nikah, Bang Onta ngasih uang yang sama besar ke aku dong?" Tanya Juna dan Kabir malah terbahak.


"Iya, Juna." Jawab Bang Onta yang membuat Juna semakin girang.


"Lamarannya Wulan kapan, Jun?" Tanya Yanti.

__ADS_1


Sekitar sepuluh hari lagi, Mba." Jawab Juna dan semuanya nampak manggut manggut.


Sementara itu Jaka dan Melati hanya terdiam mendengar obrolan obrolan saudaranya. Hati Jaka masih bergemuruh karena peristiwa tadi pagi. Meski tujuan emak ada benarnya tapi Jaka masih merasa tak rela bermain main dengan si tembem jadi terganggu.


Saat ini sebenarnya Jaka ingin kembali ke kamar mengajak sang istri mengulang kenikmatan yang dirindukan, Namun Jaka tidak enak meninggalkan saudaranya. Mereka semua berkumpul juga demi acara pernikahnnya. Apa lagi di luar sedang ada tukang dekorasi pengantin dan tenda. Meski semuanya sudah terbayar lunas, namun tetap saja, Jaka harus mengucapkan terima kasih jika nanti mereka selesai dan pamit.


"Kamu kenapa Jak? Lesu amat?" Tanya istri Judika yang menyadari sang pengantin baru terdiam dari tadi. Semua mata kini mengalihkan pandangannya ke arah Jaka.


"Capek kali ya, Mba. Kan semalam habis berbagi keringat." Tukas Jibril.


"Benar, Jak? Berapa ronde?" Tanya Istri Judika lagi dan nampak ada yang tertawa mendengar pertanyaan tersebut.


"Apaan sih, Mba. Boro boro berapa ronde, satu ronde pun enggak." Adu Jaka. Seketika saudaranya tercengang, sedangkan Melati mencubit pinggang Jaka, "Aduh, sakit, Yang!" Pekik Jaka sambil mengusap pinggangnya.


"Beneran? Semalam nggak jebol gawang?" Tanya Juna merasa tak yakin.


"Mampus kamu! Lagian pengantin baru, bukannya mengenalkan sang istri ke teman temannya, malah seenaknya ninggalin." Cibir Yanti.


"Ya kan niatku baik, Mba. Temen temenku pada bau alkohol, masa iya aku bawa Melati bergabung. Nggak mau lah aku." Balas Jaka sambil menggenggam erat Melati.


"Ya harusnya kamu peka, mikir, oh iya istriku belum makan, oh iya istriku sendirian. Bukannya malah membiarkan nunggu hampir dua jam." Sambung Juwita sengit.


"Sudah, Mba. Nggak apa apa. Mungkin Mas Jaka jarang ketemu teman temannya." Bela Melati.


Jaka tertejut dengan ucapan Melati. Selain karena pembelaan sang istri, juga perubahan panggilan yang Melati ucapkan. Hati Jaka menghangat saat Melati mengucapkan kata Mas saat pembelaan tadi.


"Udah, udah, Jangan di ributin, toh Jaka dan Melati baik baik saja. Sekarang kita fokus rencana besok gimana? Kalian pada mau nggak piknik gratis?" Ucap Janu mengurai ketegangan dan hal itu berhasil mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Ah iya, Emang kita mau liburan kemana, Bang?" Tanya Julian kepada Bang Onta.


"Ada lah. Deket daerah sini kok. Tinggal siap siap saja besok." Balas Kabir dan semuanya nampak mengangguk setuju.


Jaka yang sedari tadi terdiam, tiba tiba matanya berbinar seperti menemukan sesuatu.


"Besok aku tidak ikut." Ucap Jaka tiba tiba dengan yakin. Dan tentu saja hal itu membuat semuanya terkejut.


"Kenapa nggak ikut, Jak?"


Jaka menoleh dan menatap istrinya dengan tersenyum nakal.


"Besok aku seharian mau mengunjungi si tembem."


...@@@@@...


Ada yang reques nama nama keluarga besar Jaka biar hafal. Ni yah ingat ingat.


Rohman \= Judika, Juwita dan Julian.


Rahmat \= Jaka dan Jati.


Rizki \= Janu, Juna, Jeni.


Rizik \= Jibril dan Jubair.


Rumina \= Jaffan, Jaffin dan Jefina.

__ADS_1


Kali aja ada yang nyari insprisi nama buat anaknya kelak. Dan jangan lupa tetep kasih dukungan ya buat othor. Like, Komen, Rate, Gift and Vote. Dan juga promoin ke temen, tetangga, saudara tentang unik dan serunya novel ini ya? Makasih


__ADS_2