ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Hari Baru..


__ADS_3

"Nanti malam, aku sama Wulan mau nginep di kios, Bu." Ucap Juna sambil memasukan sendok ke mulutnya.


Wulan nampak mengernyitkan dahinya. Di tatapnya sang suami yang sedang menahan senyum sambil mengunyah makanan. Jelas sekali terlihat, Juna ingin mengulang kembali malam panas yang terjadi.


"Kamu mau langsung jualan?" Tanya sang mertua. Dilihat dari pakaiannya sepertinya beliau mau pergi.


"Nggak bu, cuma mau mengecek barang dagangan sama laporan penjualan online." Balas Juna. Dan tentu saja itu dusta. Dia ingin mengulang malam indah dengan sang istri.


"Emang nggak bisa ngecek lewat ponsel, Bang?" Tanya Egi, dan pertanyaan itu sempat membuat Juna gelagapan.


"Enggak, Gi. Khusus untuk jual beli online, aku pakai laptop." Ucap Juna beralasan. Sedangkan sang ibu dan adik ipar, percaya saja dengan yang Juna katakan. Namun sang istri, hanya mendengus tak percaya.


"Ibu mau pergi apa?" Kini giliran Wulan yang bertanya pada perempuan yang duduk di dekat adiknya.


"Iya, mau ke rumah pakle. Tuh sisa belanjaan kemarin masih banyak. Belum lagi sumbangan dari ibu ibu. Mau ibu bagikan ke paklik dan pakdhe mu." Jawab ibu dan dia meneguk teh hangat yang baru saja dia tuangkan.


"Dengan bapak?" Tanya Juna.


"Dengan Egi. Bapak kan udah berangkat ngajar." jawab ibu.


"Loh, apa nggak cape?" Tanya Juna lagi.


"Enggak katanya. Lagian dia memang ijin libur tiga hari doang. Sekolahan juga mau ujian." Terang ibu.


"Pantes Egi jam segini masih di rumah? Masuk siang ya?" Tanya Wulan dan Egi menganggguk.


"Ya kalian pergi ke kiosnya nanti kalau bapak udah pulang." Sambung ibu.

__ADS_1


"Baik, bu." Jawab Juna.


Mereka pun melanjutkan acara sarapan sambil terus bercengkrama. Hingga waktu pun berlalu. Kini sang ibu sudah pergi bersama Egi yang akan sekalian berangkat sekolah.


Rumah kini terasa hening. Hanya ada dua manusia yang sedang mengerjakan kepentingan masing masing. Juna duduk di depan tv dengan ponsel di tangan. Sedangkan Wulan sedang berada di tempat mesin cuci.


Mata Juna serius manatap layar ponsel dengan jempol yang sesekali menyentuh layar yang berisi barisan huruf acak.


Begitu pekerjaannya selesai, Juna lantas terdiam menunggu sang istri yang sedang mencuci. Merasa jenuh karena menunggu lama, Juna akhirnya beranjak menyusul sang istri.


Ketika hampir sampai di tempat keberadaan Wulan, tiba tiba pikiran Juna menemukan ide bagus. Senyum nakalnya pun terkembang.


"Mas!" Pekik Wulan terkejut. Dia yang sedang berdiri di depan mesin cuci sempat menegangkan badannya karena terkejut saat tangan Juna melingkarkan tangan di pinggangnya. Dan yang paling mengejutkan, Juna langsung memberi ciuman di leher belakangnya bertubi tubi. Bahkan salah satu tangannya sudah bergerak aktif memijat bergantian bukit kembarnya.


"Mas! Hentikan! Ini aku lagi nyuci!" Pekik Wulan.


"Mumpung rumah sepi, kita main lagi."


Sementara di tempat lain, di waktu yang sama, sepasang suami istri beda usia juga nampak sedang sibuk di dapur. Mereka baru saja selesai membereskan barang barang yang biasa sang istri gunakan untuk membuat dagangan.


"Besok toko buka kan, Mas?" Tanya Risma yang sedang mencuci peralatan yang sudah dia gunakan.


"Bukak lah, Ini libur terakhir, kayaknya bentar lagi juga libur kembali." Balas Dodit sambil membersihkan meja.


"Hah! Libur kembali? Emang ada apaan lagi?" Tanya Risma heran.


"Ya acara pernikahan Bang Juna. Kan mau dirayakan di Bandung. Kita juga di suruh ikut, Yang " Balas Dodit. Setelah pekerjaannya selesai. Dia menjatuhkan pantatnya di salah satu kursi di depan meja.

__ADS_1


"Kita di ajak? Yang bener?" Tanya Risma terdengar senang.


"Iya, kenapa? Kayak seneng banget?" Tanya Dodit heran.


"Ya seneng dong. Pengin loh jalan jalan ke Bandung." Ungkap Risma dengan mata berbinar.


Di pun terlihat sudah menyelesaikan pekerjaannya. Tangannya yang basah dia usapkan pada kain yang menggantung tak jauh dari tempat cuci piring. Setelah kering dia duduk di kursi dekat sang suami.


"Ya udah, nanti kita ikut, terus jalan jalan. Kalau waktunya kurang, kita minta pulang sendiri, kita puas puasin main di Bandung." Usul Dodit.


"Beneran, Mas? Emang Mba Mel bakal ngijinin?" Tanya Risma dengan mata yang terus berbinar.


"Ya pasti bakalan ngijinin lah, lagian ada Bang Jaka juga, jadi dia nggak bakalan keteteran di toko nanti." Terang Dodit.


"Asyik, akhirnya bisa maen ke Bandung. Sudah lama pengin ke sana." Ungkap Wulan dengan senangnya dan tentu saja Dodit pun ikut senang.


"Ya udah, ini semua udah beres, cucian beres, rumah beres, enaknya kita ngapain, Yang?" Tanya Dodit.


"Ngapaian ya enaknya?" Risma malah melempar pertanyaan.


"Main sodok aja yuk?" Ajak Dodit sambil cengengesan.


"Astaga! Barru jam segini, Mas."


"Biarin, ayok." Dan Risma pun pasrah saat tangannya ditarik sang suami menuju kamar untuk melakukan penyodokan di pagi hari.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2