
Terhenyak, terkejut, dan tercengang. Satu kata yang memiliki arti yang sama sama untuk mewakili semua reaksi yang di tunjukan beberapa orang yang berkerumun di dalam sebuah warung saat seorang pemuda yang super tampan mengatakan maksud dan tujuan datang berkunjung menemui seorang janda yang baru terbit. Tentunya rasa itu juga di alami oleh orang orang yang terhubung dengan pemuda itu seperti bapak sang janda, mantan suami sang janda, dan tentunya janda itu sendiri.
Pria tampan itu tanpa ada ragu dan dengan senyum yang terlalu manis dengan ingin mengajak wanita yang berubah jadi lebih cantik setelah statusnya berganti.
"Kamu serius, Jun? Kapan?" Tanya seorang pria paruh baya dengan rasa terkejut yang masih bergelayut.
"Bukan hari ini sih, Pak. mungkin empat hari lagi pas orang tua saya kesini dari Bandung. Tidak ada hal bercanda dalam diri saya kalau tentang hal penting, Pak. Termasuk pernikahan. Kan saya sudah bilang, setelah masa idah Wulan habis, saya akan langsung melamar dia." Jawab Juna dengan santainya. Sang Bapak terdiam sembari manggut manggut kemudian dia menoleh dan menatap tajam mantan menantunya.
"Kamu sudah dengar kan, Gus? Bahkan belum lama Wulan jadi janda, sudah ada yang mendaftar menggantikanmu? Apa lagi yang kamu harapkan, Gus? Meski nggak ada yang mendaftar pun, apa kamu yakin anakku masih mau balik setelah apa yang kamu lakukan? Pikir pakai otak! Itu otak jangan kamu jadikan hiasan aja di kepalamu, tapi gunakan untuk berpikir lebih baik." Cerca sang mantan mertua.
"Udah, Pak Salim! Usir aja Bagus dan orang orangnya! Malu maluin orang sini aja!" Seru salah satu tetangga Wulan yang menyaksikan kejadian itu dari balik jendela warung. Dan ucapan orang itu langsung juga di sahut tetangga lain. Mereka juga ikut geram, bukan warga daerah itu main grebeg saja.
"Lihat, Gus! Lebih baik bawa orang orang kamu ini pergi dari sini! Sebelum tetangga menyeret paksa kalian!"
Seketika warga yang dibawa Bagus nampak terjekut dan takut. Setelah berbisik bisik, mereka satu persatu keluar sembari mengucapkan maaf. Bagus yang keluar paling akhir, hanya bisa menatap sendu pada mantan istrinya. Dia pun keluar dengan hati yang remuk penuh kecewa dan amarah.
Setelah semuanya keluar dan para tetangga juga berangsur membubarkan diri, kini tinggal Pak Salim, Wulan dan Juna yang larut dalam diam.
"Ibu nggak ikut pulang, Pak?" Tanya Wulan beberapa saat kemudian.
__ADS_1
"Enggak. Ini Bapak juga pulang cuma mau mandi. Kamu selesaikan urusanmu sama Juna. Bapak ke dalam dulu. Nak juna, Bapak permisi dulu, yah." Pamit Pak Salim.
"Iya, Pak, silahkan." Balas Juna ramah.
Kini di dalam warung hanya tinggal Juna dan Wulan yang saling terdiam. Mata Wulan memandang ke arah jalan depan warung sedangkan mata Juna memandang Wulan dengan tersenyum.
"Kamu serius, Jun? Kita kenal belum lama, kenapa kamu mengambil keputusan seperti itu?" Tanya Wulan dengan tatapan menerawang.
"Ya anggap saja aku mengajak kamu ta'aruf. Meski caranya berbeda, nggak salah kan kalau kita saling mengenal sembari menjalani hubungan yang halal?" Mendengar jawaban Juna, Wulan memutar badannya ke arah Juna.
"Tapi ini soal pernikahan, Jun? Ini bukan masalah main main! Kita bukan hanya baru saling mengenal, kita juga sama sama tidak saling cinta. Apa aku akan semudah itu percaya?" Keluh Wulan dengan tatapan yang begitu serius ke arah Juna. Namun pria itu menyunggingkan senyumnya.
"Iya, iya, aku tahu. Nggak perlu nyindir juga kali." Sungut Wulan yang membuat Juna terkekeh.
"Terus apa salahnya kalau aku ingin ngajak kamu nikah tanpa cinta? Banyak kok, orang nikah yang justru hubungannya langgeng sampai tua. Contohnya orang tuaku. Kini mereka memiliki tiga anak termasuk aku dan dua cucu kembar dari kakakku." Balas Juna sungguh sungguh.
"Tapi kan aku baru cerai, Jun? Apa tanggapan orangtuamu nanti? Dan juga pemikiran orang orang yang kenal aku?"
"Nggak usah mikirin omongan orang, nggak bakalan maju kalau kamu takut nanti ini bilang begini, nanti itu bilang begitu. Kamu yang menjalani hidup. Jangan terlalu juga memikiran tanggapun orang tuaku juga. Aku lebih kenal mereka." Ucap Juna tegas. Dan kini dia mendekat duduk disebalah Wulan.
__ADS_1
"Tapi, Jun?"
"Nggak ada tapi tapian, kamu harus nurut. Kamu nolak pun, aku akan tetap membawa orang tuaku kesini melamarmu." Titah Juna yang kini berhadapan dengan Wulan dengan jarak yang lumayan dekat.
"Kok kamu jadi posesif gitu?" Tuduh Wulan sembari mengerucutkan bibirnya. Dan hal itu membuat Juna kembali terkekeh.
"Ya daripada kita berdebat nggak ada hentinya. Orang tinggal nurut aja dan mencoba percaya sama keputusanku apa susahnya sih?" Ucap Juna. Wulan menatap Juna sembari mencebikan bibirnya.
Juna tahu, banyak yang harus Wulan pikirkan dan pertimbangkan. Namun entah kenapa, Juna sangat ingin niat baiknya menikahi Wulan harus terjadi secepatnya. Ada sesuatu yang bergejolak dalam dadanya tiap dia ingat nama janda segar dihadapannya itu.
"Jun, Wajar dong aku..."
Wulan belum menyelesaikan ucapannya saat tiba tiba dia merasa ada tangan yang memegang kepalanya juga melihat wajah Juna mendekat dengan cepat dan tiba tiba
Cup.
Wulan terbelalak. Bibir Juna menempel di bibirnya.
...@@@@@...
__ADS_1