
Di saat Tejo sedang uring uringan karena jatah enak enaknya terancam akan hilang, berbeda dengan apa yang di rasakan oleh pemuda dua puluh tahun yang harus menghadapi perempuan yang tergolek lemah dengan pakaian yang sungguh membuat pemuda itu resah.
Entah sadar atau tidak, perempuan itu memakai celana super pendek dan ketat berwarna hitam dimana pada celana itu tercetak jelas sebuah gundukan yang terbelah di tengahnya.
Dodit benar benar setengah mati menahan dirinya agar tidak berbuat di luar batas. Apalagi pemandangan seperti itu adalah pemandangan pertama kali yang dia lihat.
Mata Dodit terus mengawasi gerak gerik perempuan yang sedang mencoba menghubungi tukang pijat. Mungkin karena cuaca yang kurang bersahabat, perempuan itu nampak kesusahan menghubungi nomer yang dia tuju.
"Gimana, Mba? Bisa dihubungi nggak nomer tukang pijatnya?" Tanya Dodit memecah keheningan.
"Susah, Dit." Jawab Risma sembari mencoba duduk dan bersandar pada kursi.
"Emang tadi, Mba Risma lagi ngapain sih? Kok bisa terkilir gitu?" Tanya Dodit dengan wajah khawatirnya.
"Tadi aku denger suara kamu, Dit. Mau masuk ambil daster eh ngggak tahu lantainya basah." Jawab Risma dengan wajah sendu.
Saat dia menunduk dan teringat kata daster, tiba tiba matanya membelalak seperti teringat sesuatu.
__ADS_1
"Ya ampun Dodit! Dari tadi kamu lihatin aku pakai baju seperti ini? Astaga!" Pekik Risma sembari menutupi tubuhnya dengan bantal yang ada di kursi. Sedangkan Dodit hanya mesam mesem sembari matanya menatap kesembarang arah.
"Rejeki, Mba." Balas Dodit asal dengan senyum yang terkembang sempurna.
"Sial! Ini bocah, senyumnya manis juga." Ucap Risma dalam hati yang matanya terpana melihat senyum Dodit.
"Dit, tolong dong, ambilin selimut di kamar yang itu. keenakan kamu ntar lihatin tubuhku mulu." Ucap Risma dan hal itu sukses membuat Dodit tergelak hebat.
"Ya berbagi rejeki nggak apa apa kan, Mba?" Ledek Dodit sembari beranjak menuju kamar yang ditunjuk Risma. Perempuan itu hanya mendengus sesaat kemudian dia pun ikut tertawa.
Tak butuh waktu lama, Dodit kembali menghampiri Risma dengan membawa selimut dan menyerahkannya pada janda cantik itu.
"Nggak tahu, Dit. Pada nggak mau, mungkin karena di daerah sini sepi kali, Dit. Jadi pada nggak betah kalau main di rumahku." Tutur Risma setelah menutup tubuhnya dengan selimut.
"Dit, tolong ambilin minyak urut di bawah televisi itu, Dit." Tunjuk Risma dan dengan senang hati, Dodit pun mengambilnya.
"Sini, aku aja yang pijat, Mba. Pergelangan kaki doang kan yang sakit?" Ucap Dodit.
__ADS_1
"Kamu bisa?" Tanya Risma ragu.
"Ya ampun, Mba. Cuma di olesin ini doangkan? lalu di pijat perlahan? Gampang itu mah." Balas Dodit yakin.
"Baiklah, coba saja." Ucap Risma akhirnya mengalah.
Mendapat lampu hijau, Dodit segera duduk satu kursi dengan Risma. Kemudian dia memangku kedua kaki Risma.
"Yang terkilir kan cuma kaki kiri, Dit?" Ucap Risma.
"Udah, Mba Risma diam aja, biar aku melakukan tugasnya dengan baik dan benar." Balas Dodit dengan kedua alis yang dia naik turunkan. Risma hanya mencebikkan bibirnya namun akhirnya dia pasrah juga.
Perlahan lahan Dodit mengolesi kaki yang terkilir dengan minyak urut. Setelah merasa cukup, Dodit mulai memainkan jarinya memberi pijatan lembut pada kaki Risma.
Risma yang sedikit merasa kesakitan akhirnya kembali berbaring untuk menahan rasa sakit pada pijatan kakinya. Kaki Risma terus bergerak gerak hingga membuat Dodit sedikit kewalahan. Apalagi kaki wanita itu sering tak sengaja menyenggol sesuatu milik Dodit hingga pemuda itu berkali kali menahan nafas.
"Benar benar cobaan berat ini." Gumam Dodit.
__ADS_1
...@@@@@...