
Sementara itu di malam yang sama di tempat berbeda, sepasang pengantin nampak sedang menikmati bakso di sebuah warung. Setelah tadi berkunjung ke rumah orang tua sang istri, pasangan beda usia itu berkeliling sebentar menikmati suasana kota kecil di malam hari. Kota yang tidak terlalu ramai namun tidak terlalu sepi itu, kalau malam hari di padati berbagai pedagang kaki lima.
Setelah puas berkeliling dan sempat mampir ke mini market membeli beberapa barang keperluan, kini pasangan itu memutuskan membeli bakso dan makan di tempat sebelum pulang.
"Aku bersyukur, Yang. Keluarga besarmu menerima aku dengan baik." Ucap Dodit di sela sela menikmati baksonya. Meski ini bukan kunjungan pertama, namun Dodit selalu merasa panik jika berkunjung ke rumah orang tua Risma. Rasa bersalah karena membuat malu keluarga meski dia dan Risma tidak melakukan apa apa, namun pernikahan karena desakan warga tetap saja menjadi sesuatu yang cukup membuat malu.
"Karena mereka tahu, kamu pria yang bertanggung jawab, Mas. Dari awal mereka juga sudah menerimamu dengan baik. Jangan selalu merasa bersalah. Harusnya rasa bersalah itu sudah hilang loh, Mas." Ucap Risma seperti biasa. Berusaha menenangkan suami brondongnya.
"Iya sih. Di sisi lain aku sangat bahagia, namun tetap saja ada sisi yang membuat aku tak enak hati jika menatap bapak dan ibu mertua." Risma tertawa kecil mendengar penuturan suaminya.
"Udah, jangan mikir macam macam, habisin baksonya terus kita pulang." Ucap Risma. Dodit membalas dengan senyuman kemudian mereka berdua menghabiskan bakso masing masing.
Setelah menghabiskan bakso, Risma beranjak menuju kasir sedangkan Dodit keluar menuju tempat parkir. Sejak menikah, keuangan memang Risma yang mengatur. Gaji Dodit yang diberikan ke Risma disimpan buat tabungan, sedangkan untuk sehari hari menggunakan uang Risma.
Kini motor yang dikendarai Dodit telah sampai di halaman depan rumahnya. Risma segera turun dan beranjak menuju pintu. Setelah pintu terbuka, Risma langsung masuk ke dalam disusul Dodit sambil memasukkan motor kemudian dia menutup dan mengunci gerbang serta pintu ruang tamu. Tak lupa juga lampu diruang tamu, Dodit matikan.
__ADS_1
Risma sedang beres beres bahan yang biasa dia gunakan untuk membuat dagangan besok, sedangkan Dodit menuju melepas pakaiannya. Hanya boxer yang tersisa. Selepas membuang air kecil dan bersih bersih sedikit, Dodit menyusul sang istri.
"Sudah selesai belum?" Tanya Dodit sembari melingkarkan tangannya di pinggang sang istri.
"Bentar lagi. Udah pengin?" Jawab Risma dan Dodit mengiyakan, " Entar yah."
Tak butuh waktu lama, akhirnya semua pun selesai. Kini Risma dan Dodit bergegas menuju kamar mereka untuk melakukan pekerjaan rutin ala suami istri.
###
Terdengar lenguhan khas bangun tidur dari suara perempuan dan dia mulai mengerjapkan matanya dan perlahan membuka mata itu. Tangannya berusaha mencari ponsel yang berdering diatas meja. Posisi wanita itu membalakangi meja karena dia tak tega membuat sang suami yang sedang terlelap sembari bibir yang menempel di salah satu bukit kembarnya. Setelah berhasil meraih ponsel, wanita itu perlahan melepas bibir sang suami dari bukit kembarnya. Wanita itu bangkit dan duduk sebentar di atas ranjang. Di tatap wajah sang suami yang terlelap, di usap pipinya dan kemudian diciumnya dalam dalam pipi sang suami.
Wanita bersama Risma turun dari ranjang menuju kamar mandi kemudian setelah itu dia memakai daster dan perlengkapannnya terus langsung menuju dapur dan mulai beraksi dengan adonan yang sudah dia siapkan.
Beberapa menit setelah berkutat dengan bahan bahan yang ada, Risma dikejutkan dengan tangan yang telah melingkar di pinggang.
__ADS_1
"Mas Dodit!" Pekik Risma.
"Kenapa aku nggak dibangunin? Aku kan pengin bantuin kamu, Yang?" Jawab Dodit dengan wajah yang masih menahan kantuk.
"Kamu kan siangnya kerja di toko, Sayang. Aku nggak mau kamu terlalu capek. Aku mah jam enam atau jam tujuh udah selesai tinggal masak buat sarapan kamu. Siangnya tidur lagi." Jawab Risma.
"Maaf ya, Yang. Harusnya kamu nggak cape cape kerja kayak gini. Harusnya sepenuhnya aku yang tanggung jawab soal nafkah." Cicit Dodit.
"Hush, jangan ngomong kayak gitu. Aku senang kok melakukannya. Jangan mikir macem macem deh. Nggak salah kan, aku membantu kamu mencari nafkah?" Balas Risma. Dodit pun menyunggingkan senyum dan mencium pipi sang istri dalam dalaam.
"Berhubung kamu sudah bangun, tolong tuh odading masukin ke wajan, Mas."
"Siap."
Dan pasangan suami istri itu pun melanjutkan pekerjaan dengan berbagi cerita dan canda. Mereka benar benar terlihat sangat bahagia.
__ADS_1
...@@@@@...