
Dua tubuh yang bercucuran keringat itu, kini terkulai lemas di atas ranjang. Nafas yang tadi menderu kini berangsur kembali normal. Juna memeluk tubuh sang istri dan merapatkan tubuhnya tanpa ada jarak sedikitpun. Telapak tangannya mendarat di salah satu bukit kembar dan memijatnya perlahan. Berkali kali kecupan dilayangkan di pundak putih sang istri.
"Kamu kuat sekali, Mas. Aku empat kali masa kamu satu kali doang." Ucap Wulan yang kini sudah tak canggung lagi. Benar kata orang. Masalah ranjang adalah pemersatu bangsa. Buktinya Wulan yang sedari awal jual mahal, kini dengan mudah mengatakan kekagumannya dengan kekuatan sang suami tanpa rasa malu.
"Nggak tahu, yah, mungkin karena ini baru pertama kali, jadinya lama." Ucap Juna. Tentu saja Wulan tidak mempercayainya begitu saja. Dan nyatanya memang Juna sengaja berdusta.
"Kalau bohong tuh pake logika, Mas! Orang kelihatan sudah ahli gitu, ngaku ngaku polos." Cibir Wulan dan Juna malah tergelak.
"Tapi kamu suka, kan? Mau lagi?" Tawar Juna sambil cengengesan.
"Dih! Entar dulu. Nggak capek apa?" Sungut Wulan sambil menyingkirkan tangan Juan dan dia bangkit serta beringsut ke tepi ranjang.
"Mau kemana?" Tanya Juna melihat Wulan berdiri.
"Kamar mandi." Jawab Wulan sambil melangkah. Dan Juna pun ikutan bangkit dan melangkah. "Mau kemana?" Tanya Wulan.
"Ikut kamu ke kamar mandi." Jawab Juna enteng.
"Astaga! Ngapain ikut, orang aku cuma niat buang air kecil." Ucap Wulan menghentikan langkahnya.
__ADS_1
"Jangan nolak! Ayok!" Wulan pun terpaksa melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi dengan Juna di belakangnya. Wulan jongkok di atas wc dan Juna ikutan jongkok memandang kerimbunan milik Wulan.
"Jangan dilihatin ih! Nggak ada kerjaan banget deh. Orang lagi buang air di lihatin, nggak jijik apa?" Dumel Wulan dan Juna hanya tertawa kecil.
"Ini kan juga pekerjaan. Menemani istri buang air." Balas Juna asal. Wulan hanya bisa mendengus.
Wulan mengambil gayung namun Juna mencegahnya. "Biar aku saja," Wulan hanya pasrah. Di tolak pun percuma, dia tahu apa yang akan terjadi.
Wulan di suruh berdiri dengan kaki sedikit melebar. Juna mulai mengambil air dengan gayung. Tangan kanan menyiramkan air dan tangan kiri mengusap seluruh permukaan yang rimbun itu.
"Sabun khusus untuk ini? Ada nggak?" Tanya Juna sambil mengusap usap rerimbunan yang basah kena air.
"Ya ampun, Sayang, orang di iklan juga banyak. Masa aku harus sebodoh itu." Ucap Juna dan akhirnya Wulan menunjukkan botol berwarna label merah jambu.
Juna meraih botol tersebut dan mengeluarkan isinya beberapa mili kemudian mengoleskannya ke daerah yang rimbun. Wulan sebenarnya agak merasa risih, namun mau bagaimana lagi, pria yang sudah menjadi suaminya tidak ingin di bantah jadi dia memilih diam dan mencoba menikmatinya. Juna kembali menyiram rerimbunan dengan air
Setelah selesai, kini gantian Juna yang mengeluarkan air kecil. Ditariknya tangan Wulan dan menyuruhnya untuk memegangi betutu yang setengah tegang. Wulan hanya bisa menahan rasa herannya. Baru kali ini dia memegangi punya laki laki dalam keadaan buang air. Setelah selesai, Wulan mencuci betutu Juna yang di kelilingi bulu tipis dan itu terlihat sangat rapi dan menawan.
Kini keduanya keluar kamar mandi. Wulan naik keranjang namun Juna menuju meja rias.
__ADS_1
"Nyari apa?" Tanya Wulan heran.
"Gunting." Jawab Juna singkat tanpa menoleh dan matanya berbinar saat menemukan benda yang dia cari ada di sana.
"Buat apa?" Tanya Wulan lagi, namun Juna tak menjawabnya. Dia melangkah mendekati sang istri dengan gunting di tangannya.
"sini, kamu duduk disini, Yang?" Perintah Juna sambil menunjuk tepi ranjang.
Kini Wulan tahu, apa yang akan Juna lakukan. Lagi lagi Wulan hanya pasrah. Dia tidak ada niat untuk menolak karena dia tahu itu hanya akan sia sia belaka.
Hanya dengan gerakan telunjuk jari, Wulan tahu apa yang diperintahkan suaminya. Wulan duduk di tepi ranjangm Kedua kakinya terangkat dan telentang bertumpu pada tepi ranjang. Kedua tangan Wulan menujulur ke belakang bertumpu pada kasur.
Ketika hendak memulai pemangkasan, Juna sedikit mengalami kesulitan. Dia pun kembali beranjak menuju meja rias mengambil kursi kotak dan membawanya ke tempat dimana tadi dia berada. Kini Juna duduk di kursi itu dan dihadapannya terpampang rerimbunan yang menyembunyikan keindahan di dalamnya diantara kaki yang membentang.
Dengan telaten, Juna mulai memangkas rerimbunan tersebut. Wulan pun memperhatikan dalam diam, meski hatinya ingin tertawa. Karena baru kali ini juga dia mengalami hal seperti ini.
Beberapa saat kemudian, rerimbunan itu sudah terlihat tipis dan sangat rapi. Kini keindahan tersembunyi milik Wulan nampak terlihat indah dan lebih tebal. Telapak tangan Juna di usapkannya ke daerah itu guna membersihkan sisa potongan.
Setelah selesai kini mata Juna terus menatap keindahan di depan matanya. Sekarang keindahn itu lebih menggoda. Bahkan betutu Juna sudah mulai mengeras. Diusap dan dipijitnya daging terbelah itu. Lama lama pijatan itu justru membuat hasrat Wulan kembali. Dan kini bukan hanya tangan yang bermain, namun Juna juga memakai lidah dan mulutnya memainkan keindahan milik Wulan dan ronde kedua pun di mulai.
__ADS_1
...@@@@@...