
Gemas dan bahagia. Itulah yang sedang Jaka rasakan saat ini. Meski beberapa hari ini dia dilarang bertemu Melati secara langsung karena aturan adat yang bernama pingitan, Namun rasa rindunya terhadap sang kekasih cukup terobati dengan cara panggilan video seperti yang saat ini sedang Jaka lakukan.
"Bisa yah? Lebih sayang sama bulu ketiak daripada sama orangnya." Ucap Jaka dalam panggilan video yang masih terhubung. Terdengar dari layar ponsel, suara Melati yang sedang tertawa mendengar keluhan sang kekasih yang sebentar lagi akan jadi suaminya. Dia merasa sungguh gemas melihat wajah Jaka yang di tekuk karena merasa cemburu dengan bulu ketiak.
"Ya abis orangnya nyebelin banget. Kalau bulu ketiaknya kan nyenengin. Nggak pernah ngledek dan nakal, nggak kayak yang punya." Tukas Melati dengan senyum ceria dari dalam kamarnya.
"Bulu ketiaknya potong aja ah, biar aku nggak ada saingannya." Ancam Jaka pura pura marah.
"Jangan!" Teriak Melati seketika. Dan tentu saja reaksi itu membuat Jaka ingin tertawa, namun dia mencoba menahannya.
"Abis. Masa aku yang punya ketiak nggak di sayang, lebih sayang sama bulu ketiakku. Nggak adil!" Rajuk Jaka dengan mulut cemberutnya seperti anak kecil dan itu terlihat sangat menggemaskan. Di seberang sana Melati malah terbahak.
"Ya ampun, Sayang! Kamu menggemaskan banget sih? Gila Yah, kamu mah cemberut aja tampannya tetap berlebihan, Yang." Puji Melati.
"Nggak usah merayu! Nggak usah muji muji gitu. Nggak mempan." Ucap Jaka ketus namun Melati malah makin terpingkal.
"Astaga, sayang! Masa cemburu sama ketiak sendiri?" Tanya Melati dengan tawa yang masih terdengar dari dalam telfon.
"Siapa yang cemburu? Nggak level! Masa cemburu sama ketiak? Kurang kerjaan banget." Ucap Jaka ketus dan hal itu makin membuat Melati tertawa melihat wajah Jaka yang semakin terlihat menggemaskan.
"Duh calon suamiku menggemaskan banget sih? Jadi pengin buka baju deh." Ledek Melati sembari terkekeh.
"Nggak usah merayu dan ngeledek deh, Yang! Beraninya cuma ngomong lewat felfon. kalau berani tuh kesini coba. Langsung buka baju." Tantang Jaka dan lagi lagi Melati terkekeh.
"Ntar yah. Kalau udah akad, aku pasti seharian dirumah kamu." Jawab Melati sambil tergelak.
__ADS_1
"Sama aja bohong itu mah. Huu!" Balas Jaka namun tak lama kemudian dia pun ikut tertawa dengan pembicaraan aneh mereka. Meskipun aneh, namun hal ringan seperti itu malah terkesan romantis dan hubungan mereka juga semakin harmonis.
"Yang, kamu sih sekarang lagi berada dikamar kamu apa?" Tanya Melati yang matanya memperhatikan sekitar tempat Jaka berada.
"Bukan. Ini nanti akan jadi kamar pengantin kita." Balas Jaka sembari mengarahkan kamernya kesekitar kamar agar Melati tahu.
"Loh! emang kamu lagi dimana sih, Yang?" Tanya Melati yang merasa penasaran karena kamar yang diperlihatkan terlihat tidak ada barang apapun selain kasur yang Jaka pakai.
"Aku lagi di rumah yang ada bengkelnya, Yang. Acara hajatannya kan nanti di sini." Jelas Jaka kembali mengarahkan kameranya ke wajah.
"Nggak dirumah yang kemarin aku datangi, Yang?"
"Enggak, Yang. Disana mana cukup. Aku aja nyebar dua ribu undangan. Belum undangan Bapak sama emak. Apalagi Bapak sama Emak orang pasar. Pasti tamunya nggak kebayang banyaknya." Jelas Jaka dan melati yang mendengarnya merasa takjub.
"Kamu nyebar undangan dua ribu, Yang? Banyak benar?" tanya Melati tak percaya.
"Termasuk wanita wanita pengagum kamu ya, Yang?" Tanya Melati dengan melihatkan wajah ketusnya membuat Jaka tergelak mendengar tebakan sang kekasih.
"Iya, Yang. Tapi kan biar mereka tahu kalau aku sudah jadi milik satu wanita. Agar mereka nggak selalu berharap." Jawab Jaka jujur membuat hati Melati menghangat dan bahagia.
"Duh nasib orang yang tampannya keterlaluan, begini amat ya." Ledek Melati.
"Aku juga heran, Yang. Padahal laki laki tuh banyak. Kenapa mereka ngejar ngejar aku mulu. Padahal aku biasa aja, nggak ada istimewanya." Mendengar ucapan Jaka, Melati mencebikkan bibirnya.
"sok merendah ih, padahal hatinya bangga tuh dikejar ribuan wanita." Tuduh Melati dan Jaka malah tergelak.
__ADS_1
"Sok merendah apaan sih, Yang? Enggak lah." Ucap Jaka di sela sela tertawanya. Dan di seberang sana, Melati pun ikut tertawa.
"Yang." Panggil Melati.
"Hum." Jawab Jaka.
"I love you." Ucap Melati.
"I love you too." Balas Jaka dan mereka saling melempar senyum.
"Yang, sudah dulu yah? Aku mau bantu beres beres." Ucap Melati.
"Oke! Jangan lupa loh, Yang." Ucap Jaka dan hal itu sukses membuat Melati penasaran.
"Jangan lupa? Jangan lupa apa, Yang?" Tanya Melati.
"Jangan lupa persiapkan dirimu." Jawab Jaka sembari senyum senyum.
"Oh, persiapan buat acara akad kita? Ya siaplah, Yang. Lagiankan aku hanya diam. Yang baca akad itu kamu." Balas Melati.
"Bukan itu?" Bantah Jaka dan hal itu semakin membuat Melati penasaran.
"Loh? Kalau bukan itu, terus apa, Yang?" Tanya Melati.
"Siap siap aja, karena setelah datang bulan selesai, kamu nggak akan aku ijinkan pakai baju."
__ADS_1
"Waduh."
...@@@@@...