ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Dodit Merajuk..


__ADS_3

Hanya karena mendengar sang istri akan datang bulan. Wajah sang suami yang tadinya ceria seketika berubah muram. Rasa makanan yang sedari awal terasa enak, mendadak menjadi hambar.


Sang istri yang duduk di sebelahnya mengulas senyum memandang tingkah sang suami yang seperti anak kecil. Menggemaskan. Tangan sang istri terangkat dan diusapnya pipi suaminya agar tidak gundah.


"Kenapa malah cemberut gitu?" Tanya Risma namun Dodit tidak segera menjawab. Pria itu menatap istrinya lekat lekat.


"Terus nasib aku gimana? Katanya kalau datang bulan, nggak bisa bikin anak?" Pertanyaan polos sang suami membuat Risma ingin tergelak, namun dia menahannya.


"Iya." Jawaban Risma membuat Dodit lesu seketika. Entah kenapa hatinya malah mendadak galau hanya karena soal datang bulan.


Dodit menghabiskan makanannya terus meminum segelas air kemudian dia beranjak menuju kasur lantai depan televisi. Sedangkan Risma hanya menghela nafas dalam dengan bibir yang tetap tersungging senyum tanpa terlihat marah sedikit pun.


Risma sadar, Dodit hanya pemuda biasa yang sedang semangat semangatnya menikmati apa yang sudah menjadi haknya. Dulu, di awal pernikahan, mantan suaminya pun begitu sikapnya. Makanya Risma mengerti apa yang Dodit rasakan.


Risma membereskan meja makan dan membawa piring dan gelas kotor ke dapur. Setelah mencucinya, Risma beranjak menuju ke tempat dimana suaminya berada. Dodit sedang tengkurap, padahal televisinya menyala.


"Kalau nggak ditonton ya televisinya dimatiin, Mas." Ucap Risma dan dia mendudukan dirinya di dekat kepala sang suami dengan kaki lurus ke depan.


"Berarti perjuanganku selama ini gagal dong, Yang." Keluh Dodit tanpa memandang wajah sang istri.


"Perjuangan? Perjuangan gimana, Mas?" Tanya Risma dengan dahi berkerut.

__ADS_1


"Ya itu. Kita sudah praktek bikin anak berkali kali, Kalau kamu datang bulan berarti perjuanganku gagal." Tutur Dodit dan Risma lagi lagi menahan tawanya. Tangannya mengacak acak rambut Dodit.


"Ya nggak apa apa, kan kita bisa mencoba lagi setelah datang bulanku selesai." Balas Risma. Kini Dodit memindahkan kepalanya ke pangkuan Risma dengan posisi masih seperti semula.


"Tapi kan sayang banget, Yang. Benih kita terbuang sia sia." Lagi lagi keluhan Dodit membuat Risma ingin tertawa lepas namun dia menahannya.


"Gemesin banget sih suamiku." Ungkap Risma. Kembali dia mengacak acak rambut Dodit sesaat kemudian dia mengusapnya.


"Padahal, malam pertama aja lima setengah ronde. Eh, yang setengah nggak ke hitung karena nyembur bukan pada tempatnya. Malam kedua empat ronde. Terus malam ketiga pas tidur di rumah orangtuaku dua ronde, terus pas pulang dari acarannya Mba Mel berapa ronde ya, Yang?" Risma terkesima mendengar penuturan Dodit. Ingin rasanya dia terbahak, namun takut menyinggung perasaan suaminya.


"Ya aku lupa lah, Mas. Kan aku pasrah." Balas Risma sekenanya. Sebenarnya dia ingat namun lebih baik dia pura pura lupa.


"Terus gimana lagi? Bukankah itu lebih baik?" Tanya Risma. Tak henti hentinya tangannya mengusap rambut suaminya.


Mendengar ucapan sang istri, seketika Dodit bangkit setengah badan dan menatap sang istri dengan wajah terkejut.


"Lebih baik gimana, Yang? Kok bisa gitu?" Tanya Dodit.


"Gini, kalau kita baru menikah terus aku cepet cepet hamil, ntar pikiran orang mengira kalau kita memang berbuat mesum saat penggrebegan. Tapi kalau kita punya anak setelah pernikahan sebulan atau dua bulan, itu bisa membuktikan kalau kita tidak salah. Ya walaupun sudah terlanjur, Tapi kan itu lebih baik. Dan orang tua kita juga nggak menanggung malu lagi. Tapi seandainya pekan depan aku nggak datang bulan ya nggak apa apa sih, berarti Tuhan mempercayakan kita. Di ambil sisi positifnya aja napa, Mas?"


Setelah mendengar penjelasan Risma, nampak wajah Dodit berubah. Dia terlihat sedang mencerna ucapan sang istri. Sesaat kamudian senyummya tersungging.

__ADS_1


"Benar juga ya, Yang. Kok aku nggak kepikiran kesitu?" Tanya Dodit dengan wajah berbinar. Dia kembali merebahkan kepalanya ke pangkuan sang istri.


"Makanya, nggak apa apa aku datang bulan. kan setelah datang bulan selesai, kamu bisa bermain lagi. Dan anggap aja kita lagi masa masa pacaran, Mas. Kita menikah tanpa adanya status loh. Gunakan kesempatan ini untuk saling mengenal dari hati ke hati, Mas." Ucap Risma.


"Baiklah, baiklah, aku menuruti semua perkataan istriku. Kan, istriku orang hebat. Aku percayakan semuanya." Ucap Dodit antusias. Kini hatinya tidak galau lagi.


Dan begitu galaunya hilang, naluri laki lakinya pun kembali ke menyeruak. Tangannya mulai terangkat dan meraih benda kembar yang bertengger indah pada tubuh sang istri.


"Besok kita jadi piknik kan?" Tanya Risma memastikan.


"Jadi dong, kan sekalian kita pacaran, anggap aja kencan." Balas Dodit terdengar semangat.


Tangan Dodit terus memijit pelan satu persatu bukit kembar. Hidung dan bibirnya juga berkali kali mencium dan mengendus bagian atas sarang sang istri. Sedangkan Risma pasrah saja sambil menonton sinetron.


Saat Dodit asyik dengan aksinya, tiba tiba dia mengingat sesuatu. Sejenak dia berhenti.


"Yang, nanti kalau kamu datang bulan, nasib cucak rowoku gimana?"


"Waduh."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2