
Dan ronde ketiga pun selesai. Di dalam sebuah kamar, terlihat pasangan pengantin baru terkapar dengan nafas menderu deru. Rasa lelah tentu saja mendera tubuh mereka. Namun mereka terlihat bahagia. Sang suami meraih ponsel dan melihat jam di layar benda pipih tersebut. Sedangkan sang istri kembali bermain main dengan bulu ketiak yang berkeringat.
Terlihat di dalam ponselnya, waktu menunjukkan pukul lima sore. Setelah melihat jam, jari pria itu menekan kunci layar dan menggeser menu terus menekan simbol chat berwarna hijau. Sang suami mendengus setelah membaca pesan teks dari keluarganya kalau mereka sedang dalam perjalanan pulang.
"Mandi yuk, Yang?" Ajak Jaka.
"Ntar lah, Yang." Tolak Melati tanpa memandang sang suami karena masih asyik dengan bulu di hadapannya.
"Semua orang lagi dalam perjalanan pulang, Yang." Ucap Jaka dan seketika Melati menghentikan kegiatannya.
"Oh, Ya udah, Yuk. Mereka sudah dekat apa?" Tanya Melati dan kemudian dia bangkit lalu turun ranjang. Begitu juga dengan Jaka. Dia melakukan hal yang sama dengan Melati.
"Kurang tau." Balas Jaka.
"Ya udah, Yuk mandi."
Dan sepasang pengantin baru itu beranjak ke kamar mandi tanpa menggunakan apa apa. Beruntung, kamar mandi berada di dalam kamar tidur, jadi mereka tidak perlu keluar.
Mungkin karena terburu waktu, sepasang pengantin baru itu hanya mandi biasa tanpa ada tambahan permainan di dalam sana.
Tak lama kemudian, sepasang pengantin pun terlihat keluar dari kamar mandi tanpa memakai apa apa, karena badan sudah kering dan handuk sudah menggantung di tempatnya. Mereka terlihat segar dengan rambut yang basah. Terlihat juga di tubuh mereka, tanda merah bertebaran dimana mana.
Jaka duduk di tepi ranjang menunggu Melati mengambilkan baju ganti untuknya. Tak lama Melati sudah terlihat berpakaian lengkap dan dia menyerahkan baju ganti sang suami.
__ADS_1
Melati menuju meja rias dan mengambil sebuah benda. Jaka memperhatikan sang istri dengan seksama. Ternyata Melati sedang menutup tanda merah di leher dengan make up. Jaka pun tertarik melakukannya.
"Aku juga dong, Yang. Tutupin tanda merah di leher." Ucap Jaka sembari mendekat dan duduk di atas meja rias.
Setelah tanda merah di leher Melati tersamarkan, kini dia berdiri dan mulai mengabulkan permintaan sang suami.
"Mas, kira kira, aku masak apa ya untuk mereka?" Tanya Melati.
"Sejak kapan kamu ada ide memanggil aku dengan sebutan Mas, Yang?" Jaka malah balik bertanya. Melati tersenyum.
"Sejak aku sah jadi istrimu, setidaknya ada rasa hormat aku karena sekarang kamu suamiku dan pemimpin keluarga." Balas Melati dan mengentikan sejenak kegiatannya dan mencium pipi suami tampannya dalam dalam.
"Ternyata semenyenangkan ini yah menikah? Semoga pernikahan kita selalu menyenangkan seperti ini ya, Yang." Ucap Jaka.
"Berdoa saja, kita bisa melewati segala masalah yang menghampiri kita tanpa ingin berpisah, Yang. Semua orang pasti punya cita cita ingin menjalani pernikahan satu kali saja dalam hidupnya. Dan aku harap, aku bisa memuwujudkan mimpi kamu." Tukas Jaka. Dia pun membalas pelukan sang istri dengan memeluk tubuhnya.
"Kalau ada masalah, jangan dipendam ya, Yang. Kita harus terbuka." Ucap Melati.
"Eh, Yang. Ngomong ngomong soal terbuka, sepertinya aku mengurungkan niatku buka bengkel." Melati tercengang dengan apa yang dia dengar. Pelukan keduanya terlepas dan Melati menatap wajah sang suami dengan dahi berkerut.
"Kenapa nggak jadi buka bengkel?"
"Aku ingin menanam modal di tokomu, dan kita membesarkan toko kamu sama sama. Gimana?" Mendengar usul Jaka, Melati seketika berpikir dan menimbang usulan sang suami.
__ADS_1
"Biar kita terus dekat, Yang. Kalau aku buka bengkel, kita tiap siang berpisah dan ketemu hanya sore hari setelah kamu tutup toko. Lagian kalau aku buka bengkel, apa mungkin hati kamu tenang? Daripada kamu takut ada wanita yang menggodaku, bukankah lebih baik kita kerja bareng?" Mendengar usulan sang suami yang masuk akal, seketika senyum Melati terkembang. Lagi lagi dia mancium pipi Jaka dalam dalam.
"Baiklah, Yang. Aku setuju. Makasih ya, kamu memikirkan perasaanku?" Tukas Melati dan dia kembali membenamkan kepalanya di dada sang suami.
"Aku hanya berusaha melakukan yang terbaik, Sayang. Aku hanya ingin kamu bahagia. Ya walaupun nanti kita ada pertengkaran, namun tidak membuat hubungan kita renggang karena kita terus bersama." Balas Jaka.
Saat mereka asyik bermesraan, terdengar suara mobil dari halaman rumah.
"Mereka sepertinya sudah pulang, Yang?" Ucap Melati. Tangannya terlepas. dan dia segera hendak keluar kamar namun tangannya di tarik sang suami hingga tubuh Melati kembali ke dalam pelukan Jaka.
"Dari tadi yang dicium pipi terus, bibirnya kapan?" Protes Jaka.
"Loh? Tadi pas main kan kita ciuaman lama banget." Jawab Melati.
"Beda lah. Kalau tadi ciuman hasrat, kalau sekarang ciuman sayang." Terang Jaka dan tentu saja Melati merasa geli mendengar alasan sang suami.
"Mana ada yang seperti itu? Sama saja kali,Yang." Tukas Melati.
"Ya beda lah. Udah cepet, kasih cium sebelum dipanggil."
"Baiklah."
Dan perang bibir pun terjadi.
__ADS_1
...@@@@@...