
Masih di hari yang sama, di atas ranjang dalam sebuah kamar. Seorang pria nampak sedang mengerjapkan matanya. Tangan satunya memijat mijat kepala. Pagi ini tiba tiba kepala pria tersebut sangat terasa pusing. Dan dalam perutnya dia merasa mual. Dengan sempoyongan dia bergegas menuju kamar mandi.
"Howek! Howek!"
"Lan? Kok kayak ada orang muntah muntah?" Tanya ibu Wulan sedikit teriak. Ibu Wulan sedang menaruh nasi di atas meja makan. Sedangkan Wulan berada di dapur sedang menggoreng tempe mendoan.
"Orang muntah muntah? Dimana?" Sahut Wulan.
"Di kamar kamu? Apa Juna sakit?" Tanya sang ibu yang sekarang sudah kembali ke dapur.
"Nggak tahu, Bu. Coba aku lihat." Ucap Wulan dan dia bergegas menuju kamarnya. Sedangkan ibu mengambil alih perkerjaan Wulan yang belum selesai.
"Mas? Kamu kenapa?" Tanya Wulan dengan wajah paniknya saat dia melihat sang suami sedang bersiap merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
"Nggak tahu, sayang. Kepala pusing banget." Jawab Juna setelah tubuhnya terbaring. Sedangkan Wulan mencoba memeriksa suhu tubuh sang suami. Diletakkannya punggung tangan Wulan ke dahi sang suami.
"Aku bikinin teh manis ya?" Tawar Wulan.
"Sekalian cariin mangga muda lah, Yang?" Pinta Juna. Tentu saja dahi Wulan langsung mengkerut begitu mendengar permintaan aneh sang suami.
"Ya ampun, Mas. Belum sarapan juga. Jangan aneh aneh deh." Ucap Wulan.
"Tapi pengin, Yang. Cariin ya?" Rengek Juna mirip anak kecil.
"Astaga! Kamu kenapa si, Mas?" Tanya Wulan makin khawatir. Apalagi kini tiba tiba Juna menariknya hingga dia terduduk di tepi ranjang dan Juna merebahkan kepalanya dipangkuan sang istri.
"Cariin mangga muda ya, Yang? Pliss? Aku pengin banget," Ucap Juna masih dengan rengekannya.
__ADS_1
"Ya ampun, Mas. Enggak enggak! Orang lagi sakit minta mangga muda, jangan aneh aneh deh!" Hardik Wulan. "Sekarang tidur, aku mau ambil sarapan dan teh manis. Entar ke apotik beli obat."
Juna hanya cemberut. Dia kembali merebahkan kepalanya ke bantal. Sedangkan Wulan memilih keluar kamar mengambil sarapan dan membuat teh manis.
"Juna sakit?" Tanya Ibu begitu melihat anak perempuannya kembali ke dapur.
"Iya, tapi ngeselin." Balas Wulan ketus. Dia mengambil gelas dan mengisinya dengan gula.
"Ngeselin gimana?" Tanya ibu heran. Dia menatap anaknya sekilas kemudian kembali mengiris cabe.
"Masa orang sakit jam segini minta mangga muda. Ya aku kesel." Mendengar jawaban sang anak seketika ibu menghentikan kegiatannya dan kembali menoleh ke arah anaknya.
"Pengin mangga muda?" Tanya Ibu dan Wulan mengangguk. "Jangan jangan kamu hamil, Lan?"
Wulan yang sedang mengaduk air teh di dalam kelas seketika berhenti. Dia menoleh ke arah sang ibu.
"Ya kamu ingat ingat aja, kapan kamu terakhir datang bulan? Dan bisa jadi yang ngidam suami kamu. Bukankah Juna nggak suka makanan asam. Aneh lah jika tiba tiba minta mangga muda." Ucap Ibu dan semuanya itu memang benar.
Wulan pun nampak berpikir dan dia baru ingat, bulan ini tamu bulanan yang biasa rutin datanf sudah lewat dua minggu dari yang biasanya. Wulan tercekat. Hati Wulan seketika berdesir antara rasa haru dan bahagia.
"Ya udah, terus nyari mangga muda dimana ini, Bu?" Tanya Wulan tiba tiba bersemangat.
"Di belakang rumah Bu Rt ada. Kamu kesana aja." Tunjuk ibu.
Wulan bergegas keluar rumah lewat pintu belakang menuju rumah Bu Rt yang lumayan dekat. Hanya selisih tiga rumah jarak rumah Bu Rt dan rumah Wulan.
Tak butuh waktu lama, Wulan pun sudah kembali dengan tiga mangga muda di tangannya. Segera dia mengupas mangga muda tersebut dan memotong beberapa bagian dan memasukkan ke dalam piring. Kini di dalam nampan sudah tersedia teh manis, sepiring nasi dan lauk tak lupa juga mangga muda yang sudah terpotong. Bergegas dia membawanya ke kamar. Dilihatnya sang suami sedang berselimut dengan mata yang terpejam
__ADS_1
"Mas? Sarapan dulu?" Ucap Wulan lembut. Perlahan Juna membuka matanya dan mengangkat separuh kemudian dia duduk dan bersandar di ujung ranjang.
Mata Juna membulat saat dia melihat ada mangga muda di nampan yang dibawa sang istri.
"Ini mangga muda, Yang?" Tanya Juna antusias. Segera saja tangan kanannya mencomot satu potong.
"Ya ampun, Sayang! Makan nasi dulu!" Pekik Wulan namun Juna tak menghiraukannya.
Satu potong mangga Juna habiskan dengan mudah tanpa ada keluhan rasa asam sedikitpun. Wulan yang melihatnya merasa heran dan hal ini meyakinkan kalau dia pasti hamil.
"Habis sarapan, kita ke dokter ya?" Pinta Wulan.
"Ke dokter? Ngapain? Ini aku udah sehat." Balas Juna heran.
"Bukan kamu yang periksa, tapi aku." Jelas saja Juna semakin heran dengan perkataan Wulan.
"Kamu sakit, Sayang?" Seketika kini Juna yang terlihat panik.
"Enggak, aku cuma mau mastiin aja. muntah muntah kamu di pagi ini ada hubungannya dengan aku nggak, apa lagi kamu tiba tiba ingin mangga muda," Balas Wulan dengan sedikit senyum.
"Mastiin apa?" Tanya Juna semakin penasaran.
"Ya buat mastiin kalau aku hamil apa engga."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1