ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Obrolan Calon Bapak..


__ADS_3

Udara siang terasa begitu terik. Hiruk pikuk orang orang yang berlalu lalang di pasar menambah suasana terasa semakin panas. Apalagi di satu sisi pasar yang lain, ada pembukaan sebuah toko emas dengan menyuguhkan pentas dangdut. Membuat suasana pasar semakin ramai dan bertambah tingkat panasnya


Mungkin kalau bukan karena lemas dan hamil, Melati sudah meluncur ikut dangdutan bersama Yanti. Sejak masih jaman sekolah Yanti dan Melati memang paling kompak kalau sudah berhubungan dengan keluyuran dan dangdutan.


Tapi saat ini, Melati hanya bisa duduk pasrah di balkon lantai atas kiosnya sambil menonton dangdutan. Dia hanya berdendang sambil menikmati puding dan cemilan berbagai potongan buah.


Sementara di lantai dasar, Jaka, Dodit dan kedua karyawan baru nampak sedang sibuk melayani pembeli. Toko Melati sekarang bertambah luas dengan tambahan kios di belakang Melati yang sengaja Jaka beli.


"Jun! Abis dari mana?" Tanya Jaka begitu selesai melayani pembeli dan dia melihat Juna yang sedang melangkah menuju kios dan lewat di depan kios Jaka. Juna yang awalnya hendak ke kiosnya mengurungkan niatnya dan dia beralih arah mendekat menuju ke tempat Jaka berada.


"Beli rujak, Jak," jawab Juna sambil menaruh satu mika berukuran sedang berisi rujak di atas etalase. Jaka tercengang melihat isian rujak yang di beli Juna.


"Kok isinya cuma kedongdong dan mangga doang, Jun? Apa nggak terlalu asam?" Tanya Jaka syok. Mulutnya tiba tiba merasa ngilu setelah melihat rujak tersebut.


"Enggak, enak kok, seger, "Jawab Juna enteng sambil membuka mika dan menusuk sepotong kedondong yang sudah berlumuran dengan bumbu rujak dan memakannya. Sedangkan Jaka, lagi lagi merasa ngilu sendiri. Padahal dia tidak ikut makan sama sekali.


"Perasaan kamu nggak doyan asam deh, Jun?"


"Bawaan bayi katanya. Wulan yang hamil, aku yang ngidam." Jawab Juna. Dia makan rujak dengan santainya tanpa mengeluarkan ekspresi apa apa.


"Loh! Istri bang Juna lagi hamil juga? Wah! Kok bisa barengan yah?" Tanya Dodit tiba tiba.


"Istri kamu lagi hamil juga apa, Dit?" tanya Juna balik.


"Iya dong, Bang." Jawab Dodit bangga.

__ADS_1


"Wuih mantap, anak kecil udah bisa bikin anak," Entah itu pujian atau hinaan dari Juna yang pasti Dodit sempat mendengus sesaat kemudian tertawa bersama Jaka.


"Dodit bukan anak kecil lagi, Jun. Udah suhu dia," timpal Jaka.


"Kan karena berguru sama Bang Jaka. Coba kalau nggak ada, aku masih polos, lugu dan suci," Ucap Dodit membela diri.


"Wah! Nggak bener kamu, Jak. Kamu telah merusak anak orang," tuduh Juna.


"Apaan merusak! Orang Dodit sendiri yang banyak tanya. Aku sendiri juga heran." Dan ketiganya terbahak bersama.


"Melatinya mana? Nggak ikut ke kios?" tanya Juna setelah tawa mereka reda.


"Ada diatas, kasian dia, bawaanya lemes mulu," Ucap Jaka sedikit lesu.


"Bawaan bayi kali yah?" Balas Juna dan Jaka mengangguk dan mengiyakan. "Istrimu ngidam nggak, Dit?"


"Ngidamnya apaan emang, Dit?" Tanya Juna lagi.


"Ciumin ketiak, nanti pulang kerja, aku nggak di ijinin mandi, biar bau ketiaknya nggak ilang, udah panasan seharian malah dilarang mandi, haduh," Jaka dan Juna sejenak terkejut, namun beberapa saat kemudian mereka tertawa.


"Ada yah, ngidam kayak gitu." Ucap Jaka.


"Lah nih, aku buktinya. tapi nggak apa apa lah, yang penting anakku kelak nggak ngileran," Ucap Dodit bijak.


"Bener, Dit. Sipp! Semua demi anak, aku juga nih, jadi suka asam gara gara istri hamil." Balas Juna.

__ADS_1


"Eh, Bang, kalian pas periksa ke dokter, tanya nggak soal hubungan ranjang bagi wanita hamil?" Tanya Dodit kepada dua pria yang berdiri di hadapannya.


"Tanya dong, Dit. Kan itu bagian penting buat kaum lelaki." Jawab Jaka.


"Iya bener, kenapa emang, Dit?" tanya Juna.


"Nggak kenapa napa sih, Bang. Aku pikir selama hamil, kita tidak boleh berhubungan suami istri," Oceh Dodit.


"Ya boleh lah, Dit. Asal bisa di kontrol," Jelas Juna.


"Benar, Dit. Dan katanya itu juga baik buat pertumbuhan anak kita. Tapi jangan terlalu sering juga, karena kita juga harus tetap menjaga anak kita agar tetap sehat, Dit," sambung Jaka.


"Benar juga ya, Bang. Ujian buat para suami ini," Timpal Dodit.


"Bukan cuma ujian, Dit. Ini juga bentuk kasih sayang kita, kepada istri dan calon anak kita. seenggaknya kita harus ikut menjaganya," Ujar Juna.


"Tapi apa nanti setelah lahir anak kita nggak dendam?" Pertanyaan Dodit sontak membuat Jaka dan Juna mengkerutkan dahinya.


"Dendam? Dendam gimana maksud kamu?" Tanya Juna.


"Ya kan, saat di dalam kandungan, anak kita selalu kena sembur saat kita bermain dengan istri, bisa bisa dia protes, bapak ku jahat, tiap nengok aku di dalam perut, selalu meludah seenaknya,"


Jaka dan Juna berpandangan, dan keduanya seketika terbahak bersama.


"Hahha ... Dodit, Dodit!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2