
"Mba Risma!" Pekik Dodit begitu matanya menangkap sesosok perempuan yang hidungnya tidak sengaja nempel di ketiaknya.
Perempuan itu seketika menarik kepalanya dan wajahnya nampak panik dan juga malu pastinya.
"Mba Risma lagi ngapaian?" Tanya Dodit setelah dia bangkit dan duduk.
"Maaf, Dit, nggak sengaja. Tadi aku sedang merangkak mau kembali ke kursi eh malah nggak sengaja terbentur." Jawab Risma sebisanya. Padahal dia memang sengaja ingin melihat Dodit yang sedang terlelap.
"Oh, kirain sengaja pengin cium ketiak, Mba. Kalau pengin cium juga boleh, nih." Ledek Dodit sembari memamerkan ketiak dengan bulu tipisnya. Risma malah semakin salah tingkah dan dia pura pura mendengus kemudian segera dia merangkak menuju kursi panjang kembali.
Tidak dapat dipungkiri, sebagai wanita yang punya hasrat, Risma juga pasti akan tergiur melihat bentuk tubuh Dodit. Namun Risma sadar, meski dia sudah lama tidak merasakan sentuhan laki laki, Risma merasa punya kewajiban untuk menahannya. Karena biar bagaimanapun juga, statusnya yang menjadi janda, akan sangat berpengaruh pada tingkah lakunya.
Risma bisa juga dengan mudah menjerat pemuda yang kini berada dalam satu rumah dengannya, namun lagi lagi dia harus menahannya. Dimata Risma, Dodit adalah pemuda yang masih polos dan baik hati. Tidak seharusnya dia merusak kepolosan pemuda tersebut.
Sedangkan Dodit, dia terbengong sendiri dan masih kepikiran dengan apa yang baru saja menimpanya. Bagaimana bisa, ketiaknya di cium oleh perempuan cantik yang selalu bermain main di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Sudah malam, Dit? Kamu nggak pulang?" Tanya Risma tiba tiba. Dia sengaja berbaring membelakangi Dodit guna menyembunyikan rasa malu.
"Gimana bisa pulang, Mba. Aku belum dapat uang belanjaan dari Mba Risma." Jawab Dodit tanpa menoleh namun cukup membuat Risma terkejut.
"Astaga! Maaf, Dit. Aku sampe lupa. Ntar aku ambil uang dulu di kamar." Balas Risma, dia pun segera bangkit dan perlahan berdiri.
"Mau aku bantu nggak mba?" Tawar Dodit saat dia melihat Risma kesakitan melangkah menuju kamarnya.
"Nggak perlu, Dit. Aku bisa sendiri." Tolak Risma. Dan dengan perlahan dia melangkah menuju kamar. Dodit yang tawarannya di tolak hanya menghela nafasnya dalam dalam dan kemudian tersenyum tipis menatap Risma.
Saat Risma sampai di kamar tiba tiba dari arah ruang tamu terdengar pintu di ketuk berkali kali.
"Mba, sepertinya ada tamu tuh! Pintu ada yang ngetok!" Teriak Dodit.
"Tolong bukain, Dit." Balas Risma dan Dodit tanpa menjawab, dia segera saja bangkit tanpa memakai kaosnya dahulu.
__ADS_1
Dodit segera melangkah menuju pintu dan dia juga membukanya.
Saat pintu terbuka, mata Dodit membulat sempurna, begitu juga tiga orang yang berdiri di depan pintu. Apalagi ketiga orang itu melihat Dodit tidak memakai baju. Tiga orang yang sedang melaksanakan tugas ronda seketika wajahnya berubah.
"Maaf, anak muda. Apa saya boleh tahu, anda siapa? Bagaimana anda bisa berada di rumah Mba Risma malam malam begini tanpa menggunakan baju?" Tanya salah satu bapak yang memakai sarung dan kopyah.
Dodit yang merasa syok dengan keadaan tersebut sontak terdiam bingung mau jawab apa. Sedangkan ketiga bapak dihadapannya memberi tatapan tajam yang mematikan.
Di saat suasana genting, Risma tiba tiba keluar dengan badan masih terbungkus selimut.
"Siapa yang datang, Dit?" Tanya Risma dengan polosnya.
Namun mata Risma seketika membalalak saat melihat siapa yang datang. Begitu juga ketiga pria tersebut. Risma pun menjadi salah tingkah.
"Pak RT!"
__ADS_1
...@@@@@...