
Siang hari di sebuah toko bahan bahan kue dan peralatannya, terlihat seorang wanita sedang menunduk dengan mata fokus menatap buku. Entah apa yang sedang dia baca yang jelas wanita itu sedang menghindari tatapan tajam wanita lainnya yang sedang bersilang tangan di hadapannya.
Sedangkan seorang pemuda nampak bingung melihat apa yang terjadi dihadapannya di sela sela tugasnya melayani pembeli.
Wanita yang menunduk itu seperti seorang tersangka yang sedang di interogasi setelah hubungan rahasianya dengan seorang pria di ketahui keluarganya. Dan tentunya dengan cepat di ketahui wanita di depannnya.
Sedangkan wanita yang sedang menatap tajam itu adalah wanita si pemberi peringatan semalam dimana wanita itu sudah menjadi bagian keluarga dari si pria pacar tersangka.
"Misi mba." Ucap sesorang dari luar toko dan yang pasti itu adalah pembeli.
"Eh iya." Jawab wanita yang menunduk itu. Dia segera hendak berdiri namun bahunya ditahan dengan telunjuk oleh wanita yang menatapnya tajam.
"Apa sih, Yan? Ada pembeli itu." Ucap wanita itu berusaha menghindari tatapan sahabatnya.
"Makanya cepat jelaskan! Nggak perlu lama lama gini!" Perintah sahabatnya ketus dan wanita itu malah senyum senyum tak jelas.
"Dodit! Jaga toko. Aku ada perlu sama bosmu ini. memang perlu di hajar dia." Ucap sang sahabat lagi dan dia menarik paksa wanita itu ke lantai atas.
"Siap, Mbak." Jawab Dodit.
Wanita itu pasrah saja ditarik ke atas. Biar bagaimana pun sahabatnya memang harus tahu. Apa lagi mereka memang terbiasa terbuka satu sama lain.
Yanti dan Melati kini duduk beralasan kasur di lantai dua kios Melati. Betapa kagetnya Yanti semalam begitu mendengar berita dari sang ibu yang mengatakan adik iparnya sedang berada di rumah Melati dan dalam hubungan yang tak biasa. Tentu saja sebagai kakak ipar si priandan juga sahabat si wanita, rasa ingin tahunya seketika mencuat. Dia bahkan hampir tak bisa tidur karena memikirkan berita yang dia dengar dari orangtuanya semalam.
"Sejak kapan?" Tanya Yanti ketus.
"Apanya?" Tanya Melati lirih dengan wajah yang masih menunduk.
"Nggak usah pura pura! Kamu mau dapat restu dari aku nggak sih?" Ancam Yanti dan seketika Melati mendongak dan tersenyum.
"Pake senyum senyum lagi. Cepet katakan sejak kapan kalian pacaran?" Tanya Yanti galak.
"Ya belum lama, Yan. Baru tiga minggu kayaknya." Jawab Melati dan tentu saja Yanti tercengang.
"Tiga minggu? ntar dulu." Yanti menjeda ucapannya sambil berpikir, "Berarti saat kalian ketemu dirumahku itu sudah saling kenal?"
"Udah jadian malah." Jawab Melati jujur.
"Astaga. Kurang ajar ya kalian. Pura pura nggak saling kenal, tahunya malah sudah main belakang." Ucap Yanti gemas dan Melati malah tersenyum.
"Itu kan Jaka yang minta, Yan. Aku sih nurut aja."
"Emang kalian kenal dimana? kok bisa diam diam udah jadian aja?" Selidik Yanti.
"Kenal di komplek rumah ku yang baru, Yan. dia kan sering narik disana." Jawab Melati.
__ADS_1
"Emang kamu punya utang sama Jaka?"
"Ya enggak, Yan."
"Lah terus kenalnya?"
"Kan Jaka sering nongkrong di warung tetangaku dan aku juga berada di sana trus Jaka ngajak kenalan gitu." Dusta Melati.
"Jaka minta kenalan? Nggak mungkin. Aku kenal betul adik iparku. Pasti kamu yang ngajak kenalan? iyakan?" Tuduh Yanti
"Enak aja, ya engak lah. Orang Jaka yang ngajak kenalan. " Sangkal Melati.
Melati lupa kalau sahabatnya itu paling susah dibohongi dan dia juga tahu Yanti kalau sudah penasaran, jiwa detektifnya langsung menyeruak penuh selidik.
Seperti saat ini, Yanti terus menatap tajam dirinya hingga Melati salah tingkah.
"Aku tahu kamu bohong. Pasti ada yang disembunyikan diantara kalian."
Melati mulai merasa tak tenang. Bahkan dia tidak berani menatap mata sahabatnya.
"Ya ampun disembunyikan apaan sih? Orang nggak ada apa apa." Gerutu Melati.
Bukan Yanti kalau percaya begitu saja. Dia masih menatap tajam sahabatnya dengan pikiran berkelana kemana mana.
"Ah aku ingat. Pas kerja bakti dirumahku, kata bapak Jaka nggak pulang dan menginap di rumah temen. Jangan jangan Jaka malam itu..."
"Nggak! Jaka nggak menginap dirumahku! Beneran." Ucapan Melati seketika mendapat tatapan tajam kembali dari sahabatnya.
"Yang bilang menginap dirumahmu siapa? Nah ketahuan. Jadi Jaka saat itu bermalam dirumahmu?"
"Enggak, Yanti. serius." Melati tetap berkilah. Dia bahkan hendak berdiri dan segera pergi namun tangannya di tahan dan di tarik hingga dia terduduk kembali.
"Ceritakan kejadian malam itu?" Perintah Yanti.
"Kejadian apa sih, Yan? Orang nggak ada apa apa."
"Jangan bohong. Aku tahu Mel kamu sedang berbohong. Atau aku cerita ke bapak kalau kamu.."
"Jangan!"
"Hhaha. Makanya cerita cepet."
"Cihh beraninya ngancam. Lagian apa untungnya sih aku cerita."
"Tinggal cerita nggak usah banyak protes!"
__ADS_1
Melati mencebikkan bibirnya namun akhirnya dia pun mengalah dan menceritakan malam indah yang terjadi antara dirinya dan Jaka. Dari pertama Jaka masuk rumah hingga Jaka terbangun di pagi hari.
"Astaga. Kamu nakal sekali sih, Mel." Ucap Yanti takjub namun juga geli.
"Gimana nggak nakal coba, Yan. Di depan mata ada pria tampan yang di idamkan. Apalagi suasana sangat mendukung dan kita sama sama sudah dewasa. Kamu tahu nggak? Saat menatap wajah Jaka yang kusut, ada yang semakin nyut nyutan nggak tahan. tersiksa banget tahu" Tutur Melati.
"Astaga!" Pekik Yanti dan seketika keduanya terbahak, "Jaka memang selera kamu banget sih ya."
"Nah tuh kamu tahu. Semakin kusut wajah Jaka, malah semakin menawan. Apa lagi kalau berkeringat, ampun deh." Terang Melati.
"Saat itu Jaka langsung mengajakmu jadian gitu?" Tanya Yanti memastikan.
"Iya, padahal kenal belum dua puluh empat jam. Tapi aku bilang kalau aku sudah lama suka sama dia dan nggak berani ngomong. Apalagi aku janda."
"Ya itulah Jaka. Dia ngggak suka wanita yang mengejarnya. Tapi gila yah. Baru kenal bisa langsung tancap sampai pagi." Ucap Yanti.
"Nggak sampai pagi juga kali, Yan." Dan mereka kembali terbahak dengan apa yang baru saja mereka bicarakan.
"Tapi kedepannya aku harap kamu bisa sering menahan rasa cemburu, Mel." Saran Yanti.
"Kenapa?"
"di luar sana banyak wanita yang mengejar cinta Jaka. Jadi saat ada kabar yang bikin hati kamu panas, jangan langsung di telan mentah mentah. Dulu waktu aku sama Jati juga gitu. Kamu tahu lah perjuanganku dan Jati gimana." Ujar Yanti.
"Tapi kok bisa dua saudara itu ganteng ganteng banget ya, Yan?" Tanya Melati heran.
"Bukan hanya Jati dan Jaka. kamu belum lihat aja yang lainnya. Tuh contoh si Juna. Ntar kalau keluarga besar kumpul. bakalan kaget kamu. Serasa di surga."
"Benarkah?" Dan Yanti hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Melati.
"Tapi dipikir pikir, masa aku akan jadi kakak iparmu sih, Mel? Dih nggak sudi aku." Ucap Yanti bergidik.
"Ah iya, kamu akan jadi kakak iparku." Ucap Melati girang. Dia langsung menggenggam tangan Yanti.
"Ih apaan sih Mel. Geli tahu."
"Kakak ipar sudah makan? Kakak ipar cantik deh." Goda Melati.
"Melati!" Geram Yanti
"Apa kakak ipar sayang?"
"Amit amit! geli ih." Yanti menghempaskan tangan Melati dan segera saja dia turun.
"Kakak ipar, tunggu aku!"
__ADS_1
...@@@@@...