
Suasana pasar terlihat begitu ramai. Cuaca pun terasa panas meski waktu belum menunjukkan tengah hari.
Terlihat di sebuah toko, dua pria berbeda usia nampak sedang sibuk beres beres toko yang sebentar lagi akan mulai beroperasi kembali. Dua pria yang statusnya sudah berubah beberapa waktu lalu dan sama sama mendapatkan janda, bahu membahu membereskan apa saja yang ada di dalam toko. Mulai dari menyapu, menghilangkan debu dan mengatur ulang tata letak barang barang.
Mereka benar benar kompak melakukan apa yang diperintahkan sang pemilik toko yang saat ini sedang kembali ke rumah untuk menyiapkan makan siang buat suaminya.
"Bang Jaka beneran? Mau ikut mengelola toko Mba Mel?" Tanya Dodit di sela sela melakukan pekerjaannya.
"Beneran lah, Dit. Biar selalu deket dengan istri." Jawab Jaka dan keduanya tertawa.
"Seneng yah, aku malah kalau siang harus LDR, menyebalkan." Balas Dodit.
"Yaelah LDR. orang deket juga, LDR darimana?" Tanya Jaka. Pria itu selalu merasa heran dengan tingkah sepupu istrinya itu.
"Tapi kan penginnya deket tiap hari, Bang. Biar lengket terus." Ujar Dodit. Kini keduanya sama sama duduk dilantai melepas penat.
"Astaga! Segitunya, Dit, kamu sama Risma. Cinta banget apa?" Tanya Jaka. Meski heran, kilasan senyumnya terus bermunculan. Matanya tertuju pada pemuda yang duduk tak jauh dari keberadaannya.
"Banget. Penginnya deket terus." Ucap Dodit apa adanya.
"Wah! Kalau diperhatikan, kamu beruntung sih, Dit, nikah sama Risma. Cantik, mandiri. Tinggal kamunya aja, Dit, bisa jaga hati enggak." Ucap Jaka mengandung nahesat.
__ADS_1
"Harus dong, Bang. Aku harus bisa jaga hati. Akan aku buktikan keseluruh dunia, kalau aku adalah laki laki yang setia pada satu wanita, yaitu istri saya. Risma Novita!" Ucap Dodit berapi api. Dadanya membusung, tangannya mengepal layaknya pahlawan kemerdekaan. Jaka malah tergelak melihat tingkah Dodit sampai sakit perut di buatnya.
"Oh iya, Bang. Aku jadi inget ajaran bang Jaka. Ternyata benar, kalau laki laki punya naluri. Makasih ya suhu." Jaka tercengang mendengar Dodit memanggilnya suhu. Sudah pasti ini ada sangkut pautnya dengan hubungan ranjang.
"Berarti sekarang kamu udah pinter dong, Dit?" Tanya Jaka.
"Ya berkat ajaran Bang Jaka, semuanya sukses besar. Aku berguru pada orang yang tepat." Balas Dodit enteng.
"Astaga, Dit! Emangnya aku guru apaan?" Ujar Jaka antara geli dan takjub, " Oh iya, Dit. Kamu kan bilang, malam pertama kamu ada yang setengah ronde. Itu setengah ronde maksudnya gimana?"
"Ya itu Bang. Gara gara pas pertama mau main, punyaku kan dimainin pakai mulut, nggak tahan dong aku, trus nyembur deh. Abis permainan mulut istriku, aje gile, sedap mantap." Seketika Jaka kembali tergelak. Selain karena gaya bicara Dodit yang pembawaannya konyol, Jaka juga baru tahu maksud dari setengah ronde yang pernah Dodit bisikan saat acara pernikahannya.
"Halah, pengalaman apaan sih, Dit? Aku ya kayak kamu, baru belajar." Dusta Jaka. Namun Dodit tidak percaya begitu saja.
"Orang setampan Bang Jaka baru belajar? Kayaknya tanda tanda dunia monyet kiamat kalau hal itu beneran terjadi." Sanggah Dodit.
"Berarti kamu udah nggak penasaran kan, Dit? Sama bunyi plok plok plok plok?" Tanya Jaka mengalihkan tuduhan Dodit sambil beringsut menuju galon.
"Ah iya, enggak penasaran lagi, Bang. Ternyata beneran ada suara seperti itu." Balas Dodit dengan mata berbinar, "Makin gerakan pinggangnya, bunyi itu semakin keluar kencang ya, Bang?"
"Ya begitu lah, Dit. Kamu tiap malam main apa, Dit?" Tanya Jaka. Sepertinya dia sangat penasaran.
__ADS_1
"Ya pas malam pengantin sampai tiga hari yang lalu sih masih main, Bang. Tapi ini sudah tiga hari libur." Jawab Dodit lesu dan pastinya membuat Jaka penasaran.
"Emang kenapa? kok libur?"
"Istriku datang bulan, Bang." Jawab Dodit lesu. Tapi Jaka malah terpingkal seketika, "Senang banget, Bang. Lihat aku menderita."
"Bukannya seneng, Dit. Kamu itu aneh aneh aja loh. Masa istri datang bulan kamunya sampai galau banget. Kan masih bisa pakai tangan?" Saran Jaka sok bijak. Padahal jika saja Dodit tahu Jaka juga sangat galau karen tidak bisa malam pertama karena datang bulan, Dodit bisa saja membalas Jaka dengan tertawa lebih keras.
"Main pake tangan? Bosen, Bang! Gerakannya itu itu aja, nggak ada variasi." Padahal Dodit mengeluh namun dimata Jaka ekspresi Dodit sungguh terlihat lucu. Makanya dia tertawa terus.
"Ya kan untuk sementara, Dit. Paling cuma satu minggu. masa nggak kuat?" Ucap Jaka mencoba menghibur agar Dodit tidak terlihat begitu galau.
"Ya kuat, Bang. Cuma kok kayaknya gimana gitu? Tidur berdua dengan istri cuma pelukan doang. Nggak asyik." Jaka lagi lagi tergelak.
"Kan kalau kamu pengin bisa pake tangan atau mulut Risma dulu, Dit? Itu sama enaknya loh." Mendengar usulan Jaka, seketuma mata Dodit langsung berbinar.
"Ah iya, benar, kok aku nggak kepikiran kesana ya, Bang? Padahal istriku pernah nawarin. Wahh makasih suhu, makasih. Bang Jaka memang ahlinya ahli dalam urusan ranjang."
"Haisss.."
...@@@@@...
__ADS_1