
"Mba Risma!" Pekik Dodit begitu matanya menangkap sesosok tubuh yang sedang kesusahan hendak berdiri. Begitu mendengar ada suara yang memanggil namanya, perempuan bernama Risma menoleh.
"Dodit!" Pekiknya. Dodit segera mendekat dan berjongkok. Saking paniknya, pemuda tersebut tidak menyadari pakaian yang digunakan perempuan itu. Risma hanya memakai kaos pendek tanpa lengan yang memamerkan perutnya dan celana super pendek.
Dodit hanya fokus pada kaki yang sedang di pijat oleh Risma.
"Mba Risma bisa berdiri nggak?" Tanya Dodit panik.
"Susah, Dit. Ini sakit banget." Rintih Risma sembari menunjukkan pergelangan kaki dan pinggang yang kesakitan.
"Ya udah sini, mba, Dodit bantu berdiri ya?" Tawar Dodit, dia langsung meraih salah satu tangan Risma dan menaruh tangan itu di pundaknya. Terus dengan kedua tangannya dia mencoba menahan dan mengangkat tubuh Risma yang memang ukurannya tidak terlalu besar. Malah bentuk tubuh Risma termasuk langsing dan ideal.
Setelah Risma bisa di ajak berdiri, Dodit perlahan membantu memapah tubuh Risma menuju kursi panjang depan televisi dan membaringkannya di sana.
"Dit, tolong ambilkan ponsel di meja dapur dong. Mau panggil tukang pijat." Pinta Risma begitu Dodit melepaskan tubuhnya untuk berbaring.
__ADS_1
"Baik, Mba! Tunggu bentar." Jawab Dodit yang segera melangkah menuju dapur.
"Hati hati, Dit! Licin itu! Mungkin ada genting yang bocor." Teriak Risma dan Dodit segera saja memelankan langkahnya.
Setelah ponsel diambil, Dodit segera kembali menghampiri Risma.
Sejenak Dodit tertegun begitu menyadari penampilan perempuan yang terbaring di depannya. Dodit hanya bisa meneguk ludahnya sendiri dengan pikiran yang berkelana kemana mana.
"Mba, aku nginep semalam disini boleh?" Tanya Dodit namun hanya berani bersuara di dalam hati.
"Mana, Dit, ponselnya?" Pertanyaan Risma seketika membuyarkan lamunan indah pemuda itu.
"Godaan, godaan." Gumam Dodit. Matanya dia edarkan ke hal yang lainnya. Namun tetap saja sesekali dia melirik ke tempat dimana Risma terbaring.
Di lain tempat, setelah selesai makan dan mandi, kini terlihat Jaka sudah bersiap siap menaiki motornya menunggu Melati yang sedang berkemas sejenak.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, terlihat Melati sudah siap dan dia segera mengunci pintu utama dan menuju ke tempat Jaka berada.
"Udah siap?" Tanya Jaka begitu Melati mendaratkan pantatnya di jok belakang.
"Sudah, ayo jalan." Balas Melati dan Jaka segera menyalakan motornya, sejenak kemudian motor itu melaju menuju tempat yang sudah di tentukan.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di salon, terlihat seorang perempuan nampak terlihat berias diri sedemikian cantiknya demi menyambut laki laki yang dia idam idamkan. Tak jauh dari tempat keberadaannya juga ada laki laki yang selalu menemani dia menyambut tamu spesial.
"Kok belum datang juga ya, Bang?" Tanya perempuan itu nampak gelisah.
"Lagi di jalan mungkin, sabar, Jaka pasti datang kok." Balas laki laki itu mantap dengan senyum yang terkembang sempurna.
Benar saja, tak lama kemudian yang ditunggu pun terdengar suara motornya. Keduanya tersenyum riang langsung berhambur keluar. Namun sayang, begitu mata mereka menangkap yang ditunggu tak datang sendirian, senyum keduanya seketika sirna. Apalagi pria yang di tunggu dengan santainya menggandeng tangan seorang perempuan melangkah menuju ke tempat dua orang tersebut.
Sang perempuan seketika wajahnya nampak kecewa sedangkan sang laki laki wajahnya nampak begitu kesal.
__ADS_1
"Sial! Kenapa harus bawa pacar segala sih?"
...@@@@@...