
Setelah akad selesai, kini Jaka dan Melati melanjutkan prosesi pernikahan yang sama seperti pada umumnya. Senyum ceria terus terkembang dari bibir mereka saat melewati semua ritual adat pernikahan hingga acara foto bersama.
Banyak yang ikut merasakan kebahagiaan dari pernikahan Jaka dan Melati, namun banyak juga yang merasa iri. Terutama kaum perempuan yang sengaja hadir hanya ingin menyaksikan pria yang mereka impikan dan dambakan duduk di kursi pelaminan dengan wanita lain.
"Seneng yah, yang jadi istrinya? Tiap hari tidur dengan pria yang tampannya selalu bikin resah."
"Pasti Jaka kalau lagi nggak pake apa apa, tingkat ketampanannya nambah ya? Duh jadi pengin lihat."
"Apakah isi kolor Jaka sama tampannya dengan Jaka? Wah! Pasti menggemaskan banget ya?"
Itulah beberapa gumaman dari wanita wanita pengagum Jaka. Namun, wanita wanita itu juga tidak hanya mengagumi Jaka seorang. Mata mereka juga jelalatan saat arah pandangnya ke sekumpulan manusia manusia tampan berbaju seragam batik. Dan pastinya mereka sedang menikmati barisan pria tampan yang sama sama meresahkan. Siapa lagi kalau bukan saudara saudara Jaka.
Diantara wanita wanita tersebut, ada juga seorang wanita yang sama sama terpana melihat saudara saudara dari pria yang membawa wanita itu datang ke acara pernikahan ini. Dirinya benar benar dibuat takjub dengan keajaiban nyata yang sedang dia saksikan. Meski rasa takjub itu juga bersanding dengan rasa malu dan canggung karena saudara saudara dari pria yang membawanya kesini tak henti hentinya memandang ke arahnya.
"Ya ampun, Jun, itu tangan kenapa nggak kamu lepas? Takut, kalau dia diambil kita?" Ledek Julian ke arah Juna dan Wulan. Juna memang sengaja menggenggam tangan Wulan meski beberapa kali perempuan itu menolaknya karena merasa tidak enak.
"Iya dong! Tuh matanya, lihatin kalian mulu, padahal pria disebelahnya lebih tampan dari kalian." Gerutu Juna dan tentu saja saudara saudaranya pada tertawa
"Jangan mau sama Bang Juna, Mba. Dia itu raja buaya." Celetuk Jefina.
"Diam kamu anak kecil!" Hardik Juna. Diantara saudara saudara Jaka, Jefina memang yang paling muda.
"Iya Mba, jangan mau sama Bang Juna. Suka maksa." Timpal Jeni dan dua perempuan itu tergelak bersamaan saat mata Juna melotot ke arah mereka.
"Ya emang benar kamu doyan maksa kan?" Ucap Wulan menatap Juna yang senyum senyum setelah melotot ke saudaranya.
__ADS_1
"Maksa? Kapan? Aku tuh paling anti memaksakan kehendak." Elak Juna dan itu sukses membuat Wulan terkejut.
"Dih, kemarin kemarin jug maksa aku nikah." Sungut Wulan.
"Itu bukan maksa. Itu melamar. Oh iya, gimana kalau kita nikah besok saja? Sekalian pake pelaminan Jaka." Wulan hanya mampu mendengus mendengar ucapan Juna. Sementara pria itu bertingkah menyebalkan.
"Jangan gila deh, Jun! Huu." Sungut Wulan dan Juna malah semakin tergelak.
"Iya, aku memang sudah gila. Makanya aku ingin segera menikahimu, agar tidak semakin gila." Jawab Juna enteng.
"Makan, Yuk. Setelah makan, kita temui orangtuaku, mereka ingin mengenalmu?" Dan Wulan semakin panik mendengarnya.
Acara pernikahan semakin meriah karena mereka mengundang grup musik dangdut ternama di kota ini. Pertunjukkan musik dangdut tidak hanya di adakan siang hari. acara itu akan berlanjut malam hari, karena sebagian besar teman Jaka yang pria akan menghadiri hajatan malam harinya.
"Bang Jaka, selamat ya." Ucap Dodit saat naik ke panggung pelaminan bersama istirnya.
"Sukses besar, Bang." Jawab Dodit berbisik pula. Tampak wajahnya sangat berbinar.
"Wuihh, mantap! Berapa ronde?" Tanya Jaka penasaran.
"Lima setengah ronde." Jaka terkejut dengan jawaban Dodit.
"Kalian bisik bisik apaan sih?" Tanya Melati yang merasa heran.
"Urusan laki laki." Jawab Dodit. Dan kedua pria itu cengengesan. Dodit dan Risma pun menyempatkan foto bersama.
__ADS_1
Sementara di tempat yang sama, tepatnya di salah satu ruang rumah Jaka, sepasang laki laki dan perempuan sedang berhadapan dengan orang tua serta pakde dan om dari laki laki tersebut. Wajah sang pria menampilkan senyum yang tak surut sedangkan wajah sang perempuan terlihat canggung meski sesekali senyumnya terbesit. Namun senyum itu tak mampu menutupi hatinya yang berdebar tak menentu.
"Gimana tuh, Riz? Anakmu dah ngebet kayak gitu?" Tukas Rohman.
"Bener, Pakde. Penginnya sih besok." Balas Juna semangat.
"Kalau ngomong tuh dipikir! Emangnya nikah ngga butuh persiapan?" Sungut Aini, bundanya Juna.
"Ya ampun, Bun. Nikah siri aja dulu deh? Nikah negaranya gampang menyusul." Balas Juna enteng.
Cetak!
"Ya ampun, Tante Rumi! Sakit tahu!" Pekik Juna sambil mengusap kepalanya yang kena jitak oleh tantenya.
"Ya lagian, enak banget kalau ngomong." Balas Tante Rumi.
"Ya kan aku cuma usul tante. Lagian apa salahnya sih kalau nikah siri doang? Kan menghindari zina." Sungut Juna dan dia segera menutupi kepalanya saat tangan tante Rumi kembali terangkat.
Mata Rizki menatap tajam anak dan perempuan yang duduk disebelahnya. Sesaat dia menghela nafas dalam dalam dan menghembuskannya, kemudian dia bersuara
"Baiklah nak Wulan, bilang sama orangtua kamu, kami akan datang setelah masa idah kamu habis."
"Yehh! Nikah, nikah, nikah, nikah!"
Wulan tercengang melihat Juna yang kegirangan.
__ADS_1
...@@@@@...