ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Lembaran Baru..


__ADS_3

🎶 Duhai senangnya pengantin baru.


🎶 Duduk bersanding, bersenda gurau.


Alunan sebuah lagu terdengar sangat menggelegar dari suara sound sistem. Lagu tersebut mengalun menemani para tamu undangan yang terlihat sudah berdatangan dan menempati tempat duduk yang sudah disediakan. Lagu itu begitu menenangkan bagi yang mendengarnya. Bahkan ada yang ikut berdendang lirih mengikuti irama musik tersebut.


Namun sayang. Lagu yang menenangkan tersebut tidak mampu menaklukan kegelisahan seorang pria tampan yang tampilannya saat ini lebih tampan dari biasanya.


Pria yang memakai pakaian istimewa serba putih dengan model adat jawa itu nampak berkali kali menghirup dan menghembuskan nafasnya karena rasa gugup yang mendera hatinya. Berkali kali pria itu menggumamkan lafaz sakral yang akan dia kumandangkan beberapa saat lagi.


"Gugup, Jak?" Tanya Jati sembari duduk di dekat sang adik.


"Sangat, Bang." Balas Jaka sembari mengulas senyum.


"Bismilllah aja, aku juga dulu kayak gitu kok." Ucap Jati berusaha membantu sang adik agar tidak terlalu gelisah.


"Baik, Bang. Tamu tamu sudah banyak yang datang apa, Bang?" Tanya Jaka. Dia memang sejak tadi tidak keluar sama sekali.


"Sudah mulai berdatangan sih, Juna juga bawa gandengan tuh, kayaknya dia beneran serius ingin nikah." Jawab Jati.


"Beneran, Bang? Wah! Cantik nggak, Bang?" Tanya Jaka penasaran.


"Banget. Bisa bisanya dia nemu janda cantik disini. Mana baru netes lagi." Tukas Jati.


"Udah jodohnya kali, Bang." Balas Jaka.


"Semoga aja, Jak. Di pojokan lapangan seberang jalan, para wanita pengagum kamu juga sudah berkumpul, Jak." Ucap Jati dan tentu saja, hal itu membuat Jaka terkejut.

__ADS_1


"Apa, Bang? Pengagum?" Tanya Jaka tak percaya.


"Iya, banyak tuh pengagummu. Malah ada yang nangis nangis. Meski mereka ikut bahagia melihat kamu menikah, tapi mereka nggak rela kamu menikah."


"Walahh.."


Sementara sang wanita, juga tak kalah gugupnya. Meski ini adalah pernikahan keduanya, namun hatinya masih merasa seperti mimpi kalau dia akan melewati pernikahan yang kedua kali. Bahagia dan terharu, sudah pasti bersemayam dalam hatinya. Apalagi pria yang akan menjadi suaminya kali ini, merupakan sosok pria super tampan yang tak bisa diragukan lagi kesetiaannya.


Perempuan itu saat ini berada dilantai atas, sedangkan sang calon suami ada dilantai bawah. Mereka sedang menunggu acara sakral mereka beberapa menit lagi.


"Yan, itu nggak salah, saudara saudara Jaka?" Tanya Desi dengan rasa tak percaya. Mereka kini berada diruang yang sama dengan Melati.


"Nggak salah gimana, Mba?" Tanya Yanti heran.


"Kenapa bisa yang laki laki, ganteng ganteng banget sih, Yan? Gila! Bakalan betah, aku lama lama disini." Balas Desi dengan mata berbinar.


"Kalian ini, ingat sama suami, Mba!" Seru Yanti.


"Kan kita cuma mengagumi, Yan. Nggak pengin selingkuh kali." Balas Desi sedikit sewot. Melati hanya senyum senyum saja melihat tingkah kedua kakak iparnya.


"Ya lagian, bisa heboh banget gitu." Cibir Yanti.


"Aduh, Yan! Di bawah malah ada yang lebih heboh itu!" Seru Desi.


"Yang bener, Mba?" Tanya Yanti takjub.


"Bener. Setiap mata wanita nggak henti hentinya memperhatikan gerak gerik semua pria pria tampan keluarga Jaka. Bahkan banyak yang mengabadikannya. Gila nggak tuh." Balas Rani.

__ADS_1


"Astaga."


Dan tak lama kemudian, waktu untuk akad pun tiba. Terlihat di depan kursi pengantin. Kedua mempelai sudah duduk bersanding di depan meja, dimana di seberang merja tersebut sudah ada kyai dan penghulu yang akan menikahkan mereka.


Bukan hanya Jaka dan Melati, keluarga keduanya juga nampak tegang menyaksikan detik detik Jaka mengucapkan ikrar suci.


"Gimana, nak Jaka? Sudah siap?" Tanya pak penghulu.


"Siap, Pak." Jawab Jaka tegas meski dadanya berdetak tak karuan.


"Ya sudah, kalau gitu, kita mulai sekarang ya, Silahkan nak Jaka, jabat tangan saya." Ucap Pak penghulu sembari menjulurkan tangan di atas meja, dan Jaka pun mengikuti perintahnya.


"Baca bismillah dulu, Nak Jaka?" Dan lagi lagi Jaka menurutinya.


Setelah selesai, Pak penghulu langsung mengucapkan lafaz akad dengan lantang. Begitu penghulu selesai, Kini giliran Jaka yang membalas lafaz tersebut. Dengan sekali tarik suara, Jaka mengucapkan ikrar suci dengan sangat lantang.


"Gimana? Saksi saksi? Sah?"


"SAH...!!!!!"


"Alhamdulillah."


Mereka pun langsung memanjatkan doa. Kemudian diteruskan dengan menanda tangani buku nikah. Setelah itu, Melati menjabat tangan Jaka dan mencium punggung tangan itu. Sedangkan Jaka mendekatkan wajahnya dan mencium kening wanita yang sudah sah menjadi istrinya. Setelah mencium kening selesai, Jaka berbisik pada istrinya yang membuat Melati ingin tertawa.


"Si tembem sudah sembuh belum datang bulannya, Yang?"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2