
Ting.
Terdengar sebuah nada ponsel yang digunakan sebagai tanda kalau ponsel tersebut mendapat pesan masuk. Seorang pria yang nampak sibuk membereskan rumah bertingkat sendirian segera meraih ponsel itu dan membaca pesan tersebut. Pria itu mendengus saat mengetahui isi pesan yang ternyata hanya sebuah foto. Pria itu segera menekan simbol panggilan video ke nomer sang pengirim foto tersebut.
Tak butuh waktu lama, orang yang mengirim foto segera menerima panggilan tersebut.
Hallo, Sayang." Sapa suara perempuan dari ujuang sana, "Kok cemberut?" Ucap wanita itu saat melihat wajah sang pria di tekuk.
"Nggak ada kerjaan banget apa, Yang? Pakai kirim kirim foto pembalut segala." Sungut pria yang biasa dipanggil Jaka. Sementara di ujung sana sang perempuan terkekeh.
"Iya, Sayang. Nggak ada kerjaan jadi pengin ngerjain kamu." Jawab Melati dari balik kamera ponselnya.
"Menyebalkan! Datang bulannya sudah datang apa, Yang?" Tanya Jaka sembari beranjak menuju kamar dan berbaring disana.
"Besok kayaknya, Yang. Sekarang perutnya terasa sakit." Balas Melati yang juga nampak sedang duduk diatas ranjang di kamarnya.
"Sakit banget nggak, Yang?" Tanya Jaka dan Melati menggeleng.
"Nggak terlalu, Yang. Sudah biasa, jangan khawatir." Jawab Melati enteng.
"Ya tetep khawatir lah, Yang. Itu kan ada hubungannya sama si tembem. Barang kesayanganku itu." Ucap Jaka dan di seberang Sana Melati malah tergelak.
Melihat calon istrinya tergelak, Jaka malah mendengus merasa sebal. Namun tiba tiba dia mendapat ide untuk mengerjai sang kekasih. Jaka yang memang sedang tidak berbaju, mengarahkan kamera ke arah bulu ketiak dan seketika terdengar teriakan dari seberang sana.
"Sayang! Ih! Malah pamer ketiak!" Seru Melati.
"Siapa yang pamer? Orang aku lagi lihatin ketiak sendiri. Mana bau banget lagi. Ketiaknya sangat basah nih, Yang." Ucap Jaka pura pura mengeluh. Padahal hatinya sangat girang.
__ADS_1
"Paling sengaja kan? Biar aku resah? Jahat!" Seru Melati.
"Loh siapa yang sengaja, Sayang? Fitnah itu." Sangkal Jaka dusta.
"Udah sih, Yang. Kameranya pindah. Aku nggak tahan ini. Tega banget nyiksa calon istri. Mana mau datang bulan lagi." Cicit Melati dan Jaka hanya terkekeh mendengarnya.
"Yang nyiksa siapa,Sayang? Kalau nuduh tuh yah. Mana ada aku berani nyiksa calon istri sendiri. Aku nggak sejahat itu." Sangkal Jaka sambil menahan tawanya.
"Ya udah itu kameranya pindahin ke wajah kamu. Sayang, ih. Cepet pindahin!" Seru Melati.
"Ntar dulu, lagi nanggung ini." Dusta Jaka padahal dia sudah tidak tahan menahan tawanya.
"Alasan! Pasti sengaja itu. Pindahin sih, Yang? Ya ampun! Aku nggak tahan ini." Seru Melati. Jaka benar benar tak kuasa menahan tawanya.
"Nggak tahan kenapa, Sayang? Orang aku nggak ngapa ngapain kok, kamu nggak tahan? Aneh kamu, Yang." Ungkap Jaka terdengar serius. Padahal perutnya hampir tak kuat menahan tawanya.
"Tuh kan, tuh kan! Pasti sengaja itu. Pindah kameranya, Sayang! Ngapain sih, pake pamer ketiak segala?" Ucap Melati semakin terdengar kesal.
"Kalau nggak mau pindahin kamera ke wajah kamu, awas aja, aku nggak akan ngasih si tembem jika kamu pengin!" Ancam Melati terdengar sangat serius namun bagi Jaka, ancaman seperti itu tidak ada gunanya.
"Halah, pake ngancam segala kamu, Yang. Ntar kalau aku tunjukkin ketiak aku juga, kamu bakalan pasrah." Balas Jaka santai namum cukup membuat sebal perempuan dari ujung sana. Ucapan Jaka memang benar adanya. Karena Jaka tahu, cukup dengan memperlihatkan bulu ketiak, Melati akan sangat gelisah seperti sekarang ini.
"Sayang, ih! Pindahin kameranya!" Seru Melati namun Jaka tetap tak menurutinya.
"Ntar dulu, Sayang. Ini lagi nanggung." Jawab Jaka beralasan. Padahal dia lagi tidak melakukan apa apa.
"Lagi ngapain sih?" Tanya Melati.
__ADS_1
"Lagi pamer bulu ketiak." Jawab Jaka sambil terbahak.
"Jahat, jahat, jahat! Udah sih, yang. Jangan dipamerin mulu, bikin resah banget tahu nggak." Teriak Melati.
"Iya iya." Balas Jaka akhirnya mengalah. Dia kembali menatap kamera di iringi tertawa lebar. Dilihatnya dalam layar, Melati menunjukkan wajah kesalnya.
"Puas, puas, puas! Huu! Bahagia banget tuh ngerjain calon istri." Ucap Melati sebal dan Jaka masih terkekeh.
"Kamu lucu, Yang. Suka ngerjain, dikerjain balik, malah marah marah." Ucap Jaka masih dengan tertawanya.
"Ya ngerjainnya jangan pake bulu ketiak dong, Yang. bulu kesayanganku itu." Cicit Melati.
"Sama pemiliknya nggak sayang nih?" Tukas Jaka.
"Ya sayang lah, tapi lebih sayang bulu ketiakmu, Yang." Balas Melati sembari terkekeh. Dan Jaka hanya mendengus namun tak lama kemudian dia ikutan tertawa.
"Nggak terasa beberapa hari kita jadi suami istri ya, Yang." Ucap Jaka setelah tawanya mereda.
"Iya, Sayang. Aku sudah nggak sabar." Jawab Melati dengan senyum yang merekah.
"Nggak sabar? Nggak sabar ngapain, Yang? Nggak sabar main ranjang ya?" Tebak Jaka senyum senyum sendiri.
"Bukan Dong." Sangkal Melati.
"Terus? Nggak tahan kenapa?" Tanya Jaka penasaran. Dan Melati langsung menjawab.
"Tak sabar tiap hari mennghirup bau ketiakmu siang dan malam, Yang."
__ADS_1
"Astaga!"
...@@@@...