
"Astaga! Si tembem marah!"
Ungkapan terkejut Jaka saat melihat ponselnya ada pemberitahuan dari aplikasi chat berupa sembilan belas panggilan dan tiga puluh empat pesan chat dari satu nomer kontak yang dia beri nama si tembem. Tanpa pikir panjang, Jaka langsung melakukan panggilan ke nomer si tembem.
Sementara itu di kios pacar Jaka.
Kluntang kluntang kluntang.
Mendengar ponselnya berbunyi, Melati bukannya langsung mengangkatnya malah membiarkan saja ponsel itu terus berbunyi. Sedangkan Dodit yang melihat tingkah aneh kakak sepupunya hanya bisa geleng geleng kepala.
"Kenapa wanita seribet itu yah? Tadi telfonin terus, giliran ditelfon balik malah di biarin." Cibir Dodit.
"Diam kau!" Hardik Melati. Dodit hanya tertawa tanpa ada rasa takut.
Sesaat nada ponsel berhenti. Dan tak lama kemudian kembali ponsel itu berdering. Dengan wajah di tekuk, Melati mengkat telfonnya dan menggeser tombol hijau. Terus dia beranjak menuju tangga dan berbicara di sana.
"Hallo sayang." Sapa dari seberang sana.
"Hallo." Jawab Melati jutek.
"Astaga! Jutek banget sih?" Tanya Jaka lewat ponselnya.
"Nggak tuh, biasa aja." Jawab Melati ketus.
"Maaf, sayang. Tadi lagi beres beres tempat buat bengkel di bawah. Ponsel aku taruh dilantai atas." Terang Jaka.
"Oh!" Jawab Melati singkat.
"Udah?" Tanya Jaka.
"Apanya?" Tanya Melati.
"Telfonnya?" Tanya Jaka.
"Terserah!" Jawab Melati.
"Ya udah, aku matiin yah?" Tanya Jaka.
"Kok dimatiin sih?" Tanya Melati gemas.
"Lah tadi katanya udah?" Balas Jaka.
"Ih, orang lagi kangen malah udahan." Gerutu Melati.
"Hahaha ... kangennya pake jutek dan marah gitu?" Ledek Jaka.
"Ih, malah ketawa. pesanku sudah dibaca belum?" Tanya Melati.
__ADS_1
"Pesan yang mana?" Tanya Jaka pura pura tidak tahu.
"Astaga! Sayang!" Pekik Melati.
"Hahaha ... Iya, iya, udah baca, kenapa? Percaya?" Tanya Jaka.
"Enggak." Jawab Melati sembari senyum senyum.
"Enggak percaya tapi kenapa marah marah?" Tanya Jaka.
"Ya abis kesel, kamu di telfon dari tadi nggak di angkat angkat." Jawab Melati.
"Ya udah, maaf, tadi nggak sempet bilang." Balas Jaka.
"Sekarang lagi ngapain, Yang?" Tanya Melati.
"Nih lagi rebahan, sendirian. Ngantuk." Balas Jaka.
Ya udah. Bobo aja dulu. Tapi jangan lupa nanti sore." Ucap Melati.
"Baiklah, ya udah dulu yah." Ucap jaka.
"Oke."
Klik.
"Tadi aja cemberut mulu, sekarang senyum senyum nggak jelas." cibir Dodit.
"Biarin! Syirik aja!" Hardik Melati dan Dodit cuma mesam mesem.
Sementara itu di tempat lain, seorang pria bernama Tejo sedang gelisah di depan rumahnya. Demi mendapat jatah dari wanita bernama Ayu, dia terus memakai nama Jaka. Berbagai macam kebohongan telah dia lancarkan dan kali ini sepertinya yang nampak lebih parah. Apa lagi Ayu sudah bilang ke temen temen dan langganan salonnya kalau dia akan bertemu dengan Jaka lewat bantuan Tejo. Tentu saja pujian mengalir kagum mengalir pada diri Ayu. Menurut mereka, Ayu hebat jika bisa mendapatkan Jaka.
Ayu adalah salah satu tipe perempuan yang memiliki hasrat yang tinggi. Dulu sang suami menggugat cerai dia karena suaminya tak sanggup lagi memenuhi keinginan istrinya yang sangat melebihi batas normal. Hampir tiap hari tanpa kenal waktu, Ayu selalu meminta pada suaminya. Awalnya sang suami bahagia dan sanggup memenuhi keinginannnya. Namun lama kelamaan sang suami jengah.
Bagaimana tidak jengah, tanpa melihat keadan Ayu selalu menuntut suaminya jika lagi ingin. Bahkan saat suami sedang sibuk bekerja maka Ayu akan merengek dan memaksa sang suami pulang.
Suami Ayu dan Tejo adalah teman dekat. Suami Ayu sering sekali mengeluh tentang Ayu. Awalnya Tejo cuma jadi pendengar yang baik layaknya teman. Namun saat keputusan cerai di ambil suami Ayu, Tejo jadi penasaran. Dia mulai mendekati Ayu.
Berbagai cara Tejo gunakan agar Ayu bisa dia dapatkan dan itu sangat tidak mudah. Karena pada dasarnya Ayu bukan tipe tipe tukang selingkuh. Namun saat Ayu bercerita kalau dia menyukai seorang pria bernama Jaka di situ baru Tejo mempunyai jalan mudah. Tejo mau membantu Ayu mendekatkan Wanita itu dengan Jaka namun dengan syarat Tejo dapat jatah. Akhirnya dengan berbagai pertimbangan, Ayu pun tergoda dan terjadi lah cerita seperti itu.
"Apa aku harus menemui Jaka lagi? Tapi dengan alasan apa?" Gumam Tejo. Dia terus berpikir, hingga tiba tiba senyumnya terkembang.
"Aku harus menemui Jaka. Dia pasti mau menolongku." Ucap Tejo yakin.
Dan tak terasa, waktu terus bergulir, kini sore telah menyapa. Seperti yang sudah di rencanakan, Jaka kini akan menjemput Melati jalan jalan sekaligus mencari sesuatu yang di butuhkan untuk acara lamaran nanti.
Terlihat di sisi toko, Melati sudah siap dan sedang duduk manis menanti kedatangan sang kekasih.
__ADS_1
Tak butuh waktu lama, Terlihat motor Jaka sedang mendekati keberadaan calon tunangannya. San Jaka segera menghentikan laju motornya tepat di hadapan Melati.
"Tadi siapa sih yang ngomong gitu, Yang?" Tanya Jaka.
"Aku nggak kenal, Yang." Jawab Melati sembari berdiri dan memakai helm terus beranjak menaiki jok belakang motor Jaka.
"Kita nyari cincin dulu apa gimana nih?" Tanya Jaka.
"Jalan aja dulu. Itu nanti kita bisa bahas di jalan." Jawab Melati.
"Hadeh! Padahal di sini banyak toko emas, ngapain nyari cincinnya jauh jauh banget yah?" Gerutu Jaka.
"Ya ampun! Sekalian kencan! Nggak mau? Ya udah nggak jadi aja." Ucap Melati ketus.
"Iya, iya, kita pergi! Lagi kenapa sih, Yang? Dari siang marah marah mulu perasaan?" Tanya Jaka heran.
"Lagi kangen." jawab Melati ketus.
"Lah ini kan udah ketemu?" Tanya Jaka heran.
"Kangen tidur di rumah baru. Beberapa hari nggak di tengok. Pasti kotor banget sekarang." Jawab Melati.
"Ya udah, besok kita cek rumah kamu. Kita bersihin sama sama, okeh?" Tawar Jaka dan Melati hanya mengangguk.
"Ya udah kita berangkat sekarang."
Dan akhirnya motor pun melaju menuju kota. Melati selalu melingkarkan tangannya di pinggang Jaka tiap naik motor dan hal itu cukup membahagiakan mereka berdua.
Sementara di rumah, Bapak sama Emak terlihat sedang duduk santai di teras depan rumahnya melepas lelah. Mereka juga membahas masalah lamaran yang akan segera dilaksanakan anak keduanya.
Saat mereka sedang asyik ngobrol, tiba tiba ada seseorang masuk ke halaman rumah Jaka. Orang itu segera saja mendekat ke arah teras dimana orang tua Jaka berada.
"Permisi, Pak, Bu, Jakanya ada?" Sapa orang itu.
"Jaka lagi pergi. Kamu siapa?" tanya Emak.
"Saya teman Jaka bu, saya ada perlu sama dia." Jawab orang itu.
"Wah, sayang sekali, Jaka lagi pergi." Balas Emak lagi.
"Yah!" Ucap orang itu nampak kecewa, "Kira kira lama nggak, Bu, perginya?"
"Pergi sama calon istrinya ya pasti lama, Mas."
"Apa!"
...@@@@@...
__ADS_1