ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA

ASMARA PERJAKA DAN TIGA JANDA
Ada Yang Tertipu..


__ADS_3

"Apa! Bikin kue karena rasa syukur Jaka mau menemuinya?"


"Ini aku nggak salah denger, kan?"


"Tapi Jaka nggak terbiasa ngasih harapan?"


"Terus? Perempuan itu dapat kabar dari siapa?"


"Arggghhh!"


Berbagai pertanyaan kini benar benar memenuhi hati dan pikiran Melati, setelah kedua perempuan itu pergi. Tentu saja hatinya panas. Wanita mana coba yang hatinya akan tenang jika mendengar kabar seperti itu.


Melati yang sedari tadi mematung dan berdiri di dekat etalase, kini dia beranjak melangkahkan kakinya menuju kursi kasir. Membuka laci dan mengambil ponsel. Di carinya sebuah nama dipencetnya tombol memanggil.


"Kok nggak di angkat sih?" Gerutunya dan dia mencoba mengulangi panggilan kembali.


"Ini orangnya kemana sih?" Tanyanya gemas sendiri karena tak ada respon dari seseorang di seberang sana.


"Ya salam, ini, Jaka, lagi ngapain sih?" Dia terus bertanya tanya.


Sementara itu, di sudut yang lain. Dodit memandang bosnya dengan tatapan penuh heran. Di mata Dodit, baru kali ini melihat Melati seperti orang frustasi.


"Mba Mel, kenapa? Kayak orang frustasi gitu?" Akhirnya satu pertanyaan meluncur dari mulut pemuda itu karena rasa penasaran yang tidak bisa ditahan.


"Mba lagi sebel!" Jawab Melati dengan muka di tekuk namun Dodit malah terbahak mendengar jawaban bosnya.


"Kenapa sebel?" Tanya Dodit lagi.


"Kamu tadi lihat kan dua perempuan yang barusan belanja?" Tanya Melati Dan Dodit mengangguk sebagai jawabannya.


"Masa, tadi Mba denger, kalau dia mau bikin kue karena pacar mba akan datang menemui dia?" Ucap Melati menggebu gebu.


"Lah terus?"


"Ya aku sebel lah, Dit! Enak bener dia ngomong kayak gitu!" Gerutunya.


"Sabar, itu ujian, sabar. Kan, belum banyak yang tahu Bang Jaka sudah punya calon istri?" Nasehat Dodit sambil senyum senyum. Sedangkan Melati hanya mencebikkan bibirnya.


"Eh, Dit, ntar kalau kamu ke rumah Risma, pesenin Talam sama putri mandi lima puluh ribuan ya buat mingggu depan."


"Siap, Mba!" Balas Dodit semangat.


"Semangat bener kalau disuruh ke rumah Risma?" Cibir Melati dan Dodit hanya mesam mesem.

__ADS_1


"Semangat dong! Kan ketemu perempuan paling cantik di hatiku." Ucap Dodit sembari kedua alisnya naik turun bersama bibir yang senyum senyum.


"Ingat umur, Dodit!" Dodit malah terbahak melihat tingkah kakak sepupunya gemas sendiri.


"Mba Mel aneh, marahnya sama siapa, aku dijadiin pelampiasan, Terlalu!" Ucap Dodit.


"Tahu, Ah!"


Dan perdebatan keduanya terhenti karena ada pembeli datang. Dodit segera melayani sedangkan Melati masih berusaha menghubungi pacarnya yang tak kunjung tersambung juga.


Sementara itu orang yang dicari Melati sedang duduk santai setelah berbenah tempat yang akan di jadikan bengkel. Jaka tidak sendiri. Dua sahabatnya yang sekarang jarang berkumpul, terlihat sedang bersamanya. Keduanya yang lagi libur bekerja menyempatkan diri membantu Jaka.


"Kenapa nggak dari dulu aja sih, Jak, buka bengkelnya?" Tanya Rois.


"Iya, coba buka dari dulu, pasti udah gede bengkel kamu." Sambung Iwang.


"Yah. Namanya juga niatnya baru sekarang. Kalau niatnya dari dulu ya udah dari dulu kali." Jawab Jaka enteng.


"Paling juga ntar yang ke bengkel kebanyakan cewek." Terka Iwang.


"Hahaha ... Udah pasti itu. Hanya demi melihat babang Jaka." Sambung Rois.


"Bisa bisa bengkel Jaka viral." Ujar Iwang.


"Nggak apa apa viral, kan kita nanti juga ikut tenar, Wang. Kali aja kita juga dapat janda." Balas Rois dan keduanya tergelak bersamaan.


"Sejauh ini sih aman. Aku juga udah sering ngasih dia pengertian." Balas Jaka setelah menyeruput kopinya.


"Kalau cemburunya gede bisa bisa ntar kalian perang terus." Ucap Iwang lagi.


"Dua janda yang dulu nasibnya gimana, Jak? Udah nggak gangguin kamu kan?" Tanya Rois.


"Sampai saat ini sih enggak. Yah, semoga aja, mereka nggak gangguin lah." Ucap Jaka.


"Aku pikir kamu akan memilih salah satu diantara mereka berdua, Jak. Eh malah dapat janda yang lebih bagus kualitasnya." Ujar Iwang.


"Aku juga nggak nyangka. Dia janda. Tapi nggak kegatelan. Itu yang membuatku tertarik sama dia saat pertama bertemu." Ucap Jaka.


"Ya, nggak semua janda kayak gitu kali, Jak. Buktinya, calon binimu." Ujar Iwang.


"Tapi aku seringnya ketemu yang kayak gitu. Makanya aku beruntung ketemu Melati."


"Baguslah, Di jaga baik baik aja, Jak." Saran Rois.

__ADS_1


"Besok pas acara lamaran, kalian bisa ikut kan?" Tanya Jaka.


"Bisa lah."


"Jangan khawatir."


Dan ketiga pria yang sudah bersahabat sejak masih TK itu pun meneruskan obrolan ke yang lain juga. Saking asyiknya ngobrol, Jaka sampai mengabaikan dering ponsel yang dia letakkan di lantai atas. Hingga yang melakukan panggilan dibuat geram di dalam kiosnya.


"Ini orang kemana sih? Dari tadi di telfon nggak diangkat angkat." Gerutu Melati.


"Ya ampun, Mba. Datangi aja kerumahnya napa?" Usul Dodit.


"Kalau dia di rumah sudah pasti dia akan langsung angkat telfonku, Dodit!" Geram Melati. Dodit bukannya takut di pelototin Melati, malah tertawa kencang dia.


"Mba Risma kalau lagi marah, kayak mba Mel nggak yah?" Tanya Dodit meluncur begitu saja membuat Melati semakin geram.


"Risma lagi, Risma lagi!" Ucap Melati ketus.


"Ya masa aku harus nyebut cewek lain sih, Mbak? Sedangkan Mba Risma, satu satunya cewek yang selalu menari nari di pikiranku." Balas Dodit enteng.


"Dodit!" Bentak Melati dan Dodit malah semakin terbahak.


Sementara itu di sebuah rumah, tepatnya di dapur, seorang perempuan nampak sedang asyik mengolah bahan yang tadi dia beli.


Sambil berdendang senada dengan lagu yang dia putar lewat ponselnya, perempuan itu terlihat serius sekali membuat adonan kue yang akan dia bagikan sebagai rasa bahagia. Karena menurut kabar yang dia dengar langsung dari laki laki yang mengaku sahabat Jaka, sang pria idaman bersedia menemui dirinya dalam waktu dekat.


Sebagai wanita yang sudah lama mengagumi ketampanan Jaka, tentu saja kabar itu menjadi kabar yang paling dia tunggu.


Saking asyiknya dia berdendang dan membuat kue, sampai perempuan itu tak menyadari ada laki laki yang masuk ke dalam rumah yang sekaligus di jadikan tempat usaha bagi perempuan itu.


Nampaknya laki laki itu memang sudah terbiasa datang kesana. Dia bisa masuk kerumah yang selalu ramai oleh keluarga sang perempuan.


"Lagi ngapain, Ay?" Tanya laki laki itu dan seketika perempuan itu menoleh.


"Bikin kue, bang." Jawabnya.


Wuih, Mantap! Dalam rangka apa nih? Tumben bener? Ada yang ultah?" Tanya laki laki itu.


"Dalam rangka merayakan kebahagiaan atas kabar yang kemarin malam bang Tejo bilang." Jawab perempuan itu.


"Yang aku bilang?" Tanya laki laki bernama Tejo itu merasa bingung.


"Iya, masa abang lupa? Kan abang bilang sendiri kalau Jaka akan menemuiku?"

__ADS_1


Waduh.


...@@@@@...


__ADS_2