
Risma dan Dodit benar benar sedang di rundung sial. Keadaan benar benar membuat Pak RT dan dua orang lainnya berpikir kalau mereka sedang melakukan perbuatan yang sangat tidak pantas. Kini keduanya benar benar seperti tersangka yang tertangkap basah sedang melakukan kejahatan.
"Maaf, Pak Rt, tapi sungguh kami sedang tidak melakukan apa yang seperti bapak bapak pikirkan. Pemuda ini hanya menolong saya, Pak, tidak lebih." Ucap Risma dengan wajah yang begitu panik. Meski takut tapi dia tetap mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.
"Maaf, Mba Risma, saya tahu, anda adalah warga yang berkelakuan baik selama tinggal di sini. Namun jika melihat keadaannya seperti ini, belum tentu semua warga mau mengerti dengan apa yang anda jelaskan. Apalagi pemuda ini sering sekali mendatangi kediaman Mba Risma. Bukankah itu sangat mudah memancing asumsi publik, Mba." Terang Pak Rt sebijak mungkin.
Pak Rt dan dua warga yang kebetulan sedang bertugas ronda awalnya merasa heran karena melihat sesuatu yang tidak seperti biasanya di depan rumah Risma ada motor sampai malam hampir larut. Pak Rt mencoba meraba gerbang, ternyata gerbang cuma di kunci biasa jadi dengan mudah kunci itu dibukanya. Niat hati ingin mengingatkan Risma agar memasukkan motornya tapi yang mereka lihat adalah hal lain yang mengundang kecurigaan hingga akhirnya mau tidak mau sang pemilik rumah mereka sidang.
Dodit dan Risma benar benar bingung tak bisa menyangkal dengan kata kata lain lagi. Dari awal mereka sudah menjelaskan keadaannya sejujur jujurnya. Namun semua penjelasan tidak ada gunanya sama sekali. Apalagi beberapa tetangga tiba tiba ikut hadir karena mendengar ada keributan di sekitar tempat tinggal mereka.
"Demi nama baik anda berdua, lebih baik besok suruh orang tua kalian menemui saya di balai RT." Titah Pak Rt dan tentu saja Risma dan Dodit nampak sangat terkejut mendengarnya.
__ADS_1
"Waduh! Masa sampai segitunya, Pak?" Protes Dodit.
"Ini demi nama baik kalian dan nama baik komplek daerah sini juga. Apa kalian mau di sangka sebagai pasangan kumpul kebo? Meski kalian menyangkal tidak melakukan apa yang kami pikirkan namun tetap saja pikiran warga tetap tertuju pada hal tersebut. Disini Risma yang nama baiknya akan di pertaruhkan."
Mata Dodit seketika langsung menatap wanita yang sedang merasa ketakutan. Hatinya benar benar merasa tak tega melihat perempuan itu harus menahan malu sendirian. Apalagi statusnya sebagai janda, akan membuat nama Risma menjadi buruk gara gara kasus ini.
"Lalu, apa yang bapak inginkan dari kami? Apa yang harus kami lakukan?" Tanya Dodit dengan wajah sangat serius menatap tajam ke arah Pak Rt.
"Mana bisa begitu, Pak?" Tanya Dodit. Sedangkan Risma, dia hanya bisa menunduk. Bahkan matanya sudah basah oleh air mata yang perlahan mulai keluar.
"Ini jalan satu satunya yang terbaik buat kalian daripada warga mengusir kalian. Bukankah itu akan menjadi hal buruk buat masa depan kalian juga." Terang Pak Rt.
__ADS_1
"Jujur, Mba, kami sangat menyayangkan hal seperti harus terjadi pada Mba Risma. Mengingat nama Mba Risma dilingkungan sangat begitu baik. Meski keputusan ini berat, namun ini semua buat kebaikan bersama, termasuk nama baik Mba Risma juga." Lanjut Pak Rt dan warga yang mendengarkan pun nampak menyetujui keputusan pemimpinnya.
Risma masih terdiam dan tertunduk. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Hanya terdengar isakan tanpa mau kembali mengeluarkan beban pikirannya.
"Mba." Panggil Dodit lirih. Pemuda itu benar benar merasa bersalah. Meski keadaan yang sebenarnya mereka memang tidak bersalah sama sekali.
"Baiklah, Pak. Saya akan membicarakan hal ini dengan keluarga saya."
Seketika Dodit terkesiap mendengar keputusan Risma. Entah dia harus bahagia atau sedih, yang pastinya hatinya berdetak lebih dari yang biasanya.
...@@@@@...
__ADS_1