
Jaka benar benar tak habis pikir dengan keluguan seorang Dodit. Jaka di buat kagum akan kejujuran pemuda dua puluh tahun itu. Jaka kembali teringat masa lalunya. Dia dulu pertama kali melakukan dengan perempuan benar benar belajar sendiri menggunakan naluri dan itu berhasil. Tapi melihat sikap Dodit yang begitu polos, benar benar membuatnya tak habis pikir. Kok ada laki laki selugu ini?
Meski Jaka pada akhirnya dapat seorang janda. Namun Jaka tetap mensyukurinya. Karena dari pengalaman yang dia dapat, Jaka merasa banyak perawan yang diragukan kesuciannya. Dan Jaka juga yakin Melati adalah janda yang menjaga nama baiknya.
"Kamu sih pernah pacaran nggak, Dit?" Tanya Jaka yang mulai penasaran dengan kehidupan Dodit.
"Pernah, Bang. Kenapa?" Jawab Dodit. Posisi mereka masih sama. Duduk dilantai bersandarkan etalase.
"Nggak kenapa, Dit. Pengin tahu aja." Balas Jaka. Padahal dia ingin menanyakan hal lain terutama sesuatu yang sedang mereka bahas namun Jaka mengurungkan niatnya. Dia merasa tak enak dan takut belangnya ketahuan juga. Karena bagaimanapun Jaka pernah melakukan saat pacaran dulu.
"Aku pacaran paling ya lurus aja gitu, Bang. Paling jauh cuma cium pipi. Itu aja membuat aku panas dingin." Jaka terhenyak mendengar pengakuan Dodit dan dia kembali tertawa namun di buat lirih sembari memegang perutnya.
"Yakin cuma cium pipi?" Tanya Jaka takjub.
"Yakin, Bang. Mungkin karena hal itu juga aku sering di putusin. Padahal kan, aku menjaga cewek ya, Bang. Eh malah pada nggak setia pacaran sama aku." Keluh Dodit dan Jaka manggut manggut sembari tersenyum.
"Berarti mereka bukan yang terbaik buat kamu, Dit. Dan mungkin, Risma adalah jawaban dari doa doa kamu selama ini. Apalagi kamu diam diam menyukainya." Ucap Jaka mencoba memberi kekuatan pada Dodit. Dan benar saja, seketika Dodit menyunggingkan senyum.
"Iya kali ya, Bang. Aku sering dikecewain karena sudah ada wanita terbaik untuk aku." Ucap Dodit yakin.
__ADS_1
"Nah itu. Buah dari kesabaran kamu." Dan Dodit manggut manggut dengan senyum yang masih tersungging.
"Oh iya, Bang. Ntar sih pas malam pertama, cara ngajaknya gimana ya?" Jaka kembali tercengang dengan pertanyaan yang Dodit lontarkan.
"Cara ngajak? Maksudnya, Dit?" Tanya Jaka kembali heran.
"Ya kan, setelah nikah otomatis ada malam pertama kan, Bang. Nah pas mau ngajak itu caranya gimana loh, Bang? Nggak mungkin kan kita langsung lepas baju trus menyerang dan plok plok plok plok gitu?" Ucap Dodit penuh semangat dan Jaka kembali terbahak bahak.
"Ya ampun Dodit! Ngapain harus ada kata kata plok plok sih?" Tanya Jaka masih terpingkal pingkal.
"Lah, kan setiap aku nonton vidoe, selalu ada suara plok plok plok gitu, Bang." Jawab Dodit dengan polosnya.
"Lah, gimana caranya kok, Bang? Cara ngajaknya? Apa langsung bilang, yuk malam pertama gitu, apa gimana?" Tanya Dodit lagi agak mendesak.
"Kamu sudah pernah nonton video, harusnya tahu dong, Dit. Cara mengawalinya gimana?" Ucap Jaka. Tawanya berangsur angsur menghilang.
"Tapi kan kalau di video itu cuma akting, Bang. Sedangkan aku sama Risma, itu kenyataan loh. Dan aku nggak ada pengalaman sama sekali. Bagaimana cara memulainya, obrolan apa kira kira yang pas agar bisa menjurus kesana?" Tutur Dodit.
Mendengar penuturan Dodit membuat Jaka berkali kali menggelengkan kepalanya. Dia sendiri bingung mau jawab apa. Meski Jaka sudah pernah mengalami dan melakukannya tapi tidak mungkin dia memberi tahu Dodit. Hal itu sama saja dengan dia membuka aibnya sendiri.
__ADS_1
"Itu semua berdasarkan insting kok, Dit. Apa lagi kamu laki laki. Pasti nanti naluri kamu akan membantu kamu, Dit. Kamu nggak perlu ragu dan khawatir. Semua laki laki punya insting yang kuat. Ntar pasti kamu tahu dan mengalir dengan sendirinya. Jadi jangan terlalu di pikirkan. Ntar kamu stres loh. Kamu fokus aja sama akad yang sebentad lagi terjadi. Itu yang paling penting yang harus kamu persiapkan lahir batin, dan setelahnya kamu sudah bebas." Ucap Jaka dengan petuahnya yang mungkin berguna buat Dodit.
"Gitu ya, Bang?" Dan Jaka hanya mengangguk, "Baiklah. Makasih ya, Bang atas ilmu dan sarannya."
"Sama sama, Dit. Intinya santai aja, Dit. Jangan grogi."
"Siap, Bang."
Dan sejenak obrolan mereka pun terhenti. Beberapa saat suasana hening. Dodit dan Jaka tenggelam dalam pikiran masing masing.
"Bang." Panggil Dodit lagi.
"Iya, Dit. kenapa?" Tanya Jaka.
"Dalam video kan ada bunyi plok plok plok gitu? Itu beneran bunyi orang berhubungan apa rekayasa video doang sih, Bang?"
"Astaga!"
......@@@@@......
__ADS_1