
Setelah tiga bulan pernikahan.
Ting.
Terdengar nada dari sebuah ponsel mengisyaratkan kalau ponsel tersebut medapat pesan masuk. Seorang perempuan yang sedang berbaring miring menjulurkan tangannya dan meraih ponsel di atas meja dekat ranjang.
Ponsel dia nyalakan, terpampang nama Dodit ada dilayar. Dahinya berkerut saat membaca pesan tersebut kemudian dia langsung membalasnya. Setelahnya, dia kembali menaruh ponsel ke tempat semula.
Dari arah lain terlihat seorang pria keluar dari kamar mandi dan melenggang tanpa menggunakan apa apa. Badannya nampak segar dengan rambut basah. Pria itu membuka lemari dan mengambil pakaian yang akan dia kenakan.
"Mas!" Panggil Melati dari atas ranjangnya.
"Iya, sayang," Jawab Jaka sambil memakai boxernya.
"Kepalaku pusing banget," Mendengar sang istri mengeluh sakit, Jaka langsung terperanjat dan bergegas menghampiri istrinya.
"Kamu sakit, Sayang?" Tanya Jaka sambil mendaratkan punggung tangannya di kening sang istri.
"Nggak tahu, Mas. Pusing banget." Keluh Melati. Dia memejamkan matanya.
"Ya udah kamu istirahat saja, hari ini nggak usah ke kios, Aku bikinin teh hangat dulu, Sayang." Setelah sang istri mengangguk, Jaka segera keluar menuju dapur yang ada di lantai bawah. Dengan cekatan, Jaka mengambil sedikit air dengan panji kecil dan menaruhnya di atas kompor kemudian kompor nyalakan. Sambil menunggu air mendidih, Jaka mengambil gelas dan mengisinya dengan gula pasir secukupnya serta teh celup. Ketika air telah mendidih, Jaka langsung menuang air itu kedalam gelas dan mengaduknya agar gulanya larut terus di bawanya segelas teh hangat itu menuju kamar.
"Huwekk! Huweek!"
Jaka terkejut saat kakinya masuk ke dalam kamar, mendengar suara sang istri sedang muntah muntah di dalam kamar mandi.
__ADS_1
"Ya ampun, Sayang!" Ucap Jaka setelah menaruh teh hangat dan menyusul sang istri. Kini dia sudah berada di dekat Melati sambil memegangi bahu sang istri.
"Mual, Mas. Tapi nggak keluar apa apa." Adu Melati lemah.
"Ya udah, istirhat aja, yuk." Ucap Jaka langsung membopong sang istri menuju ranjang. Jaka pun mengambil teh manis begitu sang istri sudah terbaring di ranjang lagi. "Diminum, sayang."
Jaka menatap sang istri dengan wajah cemas. Setelah bebarapa bulan pernikahnnya, baru kali ini Jaka melihat Melati sakit yang sampai mual mual. Biasanya Melati cuma mengeluh pusing dan tidak enak badan, minum obat anti masuk angin terus sembuh. Tapi sekarang, sang istri terlihat begitu lemas.
"Hari ini kita nggak ke kios dulu, biar nanti Mas hubungi Dodit. Biar nanti dia yang jaga toko dulu sambil mengawasi dua karyawan baru kita."Usul Jaka.
"Dodit nggak bisa berangkat, Risma sakit katanya." Balas Melati lirih.
"Loh? Kok bisa barengan? Kapan Dodit ngomongnya?" Tanya Jaka heran.
"Tadi, tuh, baca aja pesannya." Jaka pun mengambil ponsel sang istri dan membaca pesan dari sepupunya.
Jaka pun bergegas memakai celana dan kaosnya serta mengambil selembar uang berwarna biru terus turun keluar rumah. Beruntung, di jalan depan rumah Jaka, banyak berderet pedagang kaki lima. Dan diantara mereka ada yang jualan bubur ayam yang enak. Jadi Jaka tidak perlu jauh jauh mencari. Tinggal nyebrang jalan sudah sampai.
"Eh, Bang cakep, mau bubur?" Tanya seorang ibu penjual bubur ayam yang usianya hampir sama dengan usia emak Jaka.
"Iya nih, Bu. Dua ya? Sambalnya pisah." Balas Jaka.
"Oke deh! Mba Mel nya mana? Biasanya dia yang beli?" Tanya penjual bubur sambil melayani.
"Ada di dalam, Bu. Lagi sakit dia, barusan abis mual mual," Ucap Jaka. Dia terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Mual mual?" Tanya penjual bubur dengan dahi berkerut.
"Iya, Bu."
"Jangan jangan Mba Mel hamil?" Terang saja Jaka langsung terkesiap mendengar ucapan penjual bubur ayam. Bulu kuduknya meremang, dan dadanya berdegup kencang.
"Yang bener, Bu?" Tanya Jaka antara percaya dan tidak percaya.
"Biasanya kayak gitu, Bang. Badan lemas, mual tapi saat muntah nggak ngeluarin apa apa, bisa saja itu tanda tanda kehamilan, coba deh bawa ke dokter." Ucapan penjual seketika mengingatkan Jaka dengan kejadian yang di alami Melati beberapa waktu lalu.
"Wah! Semoga beneran hamil ya Bu." Harap Jaka dengan hati was was namun ada rasa bahagia.
"Aamiin, nih." Balas penjual sambil menyerahkan dua bungkus bubur ayam.
Jaka pun menerimanya dan menyodorkan uang kemudian bergegas pergi.
"Ini kembaliannya, Bang!" Teriak penjual bubur.
"Buat Ibu aja." Balas Jaka dan dia bergegas kembali ke rumah untuk membari tahu kan apa yang baru saja dia dengar.
"Nih, Yang. Makan buburnya. Setelah ini, kita ke dokter, Yang." Ucap Jaka begitu sampai di dalam kamar.
"Loh? Ngapain ke dokter? Ntar juga enakan kalau istirahat." Balas Melati sambil bangkit dan duduk bersandar.
"Nggak, kita harus ke dokter, kita harus memastikan sakit kamu itu hanya sakit biasa atau beneran tanda tanda wanita hamil."
__ADS_1
"Apa!"
...@@@@@...