
"Aku sedang proses menjadi janda, Mas." Jawab Wulan sembari menatap Juna. Terlihat di sana ada senyum yang dipaksakan dari bibir perempuan itu.
"Waduh, maaf, aku nggak ada maksud.." Ucap Juna merasa tidak enak.
"Nggak apa apa, Orang itu kenyataannya." Balas Wulan masih dengan senyum yang entah apa artinya.
Mendadak suasana pun menjadi hening. Mereka berdua terdiam dan hanyut dalam pemikiran masing masing. Wulan tertunduk dan Juna matanya di lempar ke arah lain.
"Aku ke atas bentar ya, Mba?" Pamit Juna.
"Silah kan, Mas."
Dan seketika Juna langsung bergegas ke lantai dua. Dia hendak mengambil kasur busa yang biasa dia pakai untuk dibawa turun buat tidur Wulan.
Sebelum turun, Juna terduduk sesaat. Dia tidak habis pikir, di dalam kiosnya saat ini ada perempuan yang sebentar lagi menjadi janda. Entah apa alasannya tapi bagi Juna, perempuan itu sangat cantik.
"Kenapa sekarang banyak janda cantik sih? Ini lagi satu, cantik cantik mau jadi janda." Gumamnya dan dia menggelengkan kepalanya beberapa saat.
Juna segera turun dengan membawa kasur busa, bantal dan selimut yang biasa dia gunakan. Sementara Wulan hanya memperhatikan.
"Maaf, mas, jadi ngerepotin terus." Ucap Wulan begitu melihat juna turun dan menggelar kasur busa di salah satu pojok kiosnya. Juna hanya tersenyum simpul.
"Nggak apa apa." Juwab Juna.
"Itu selimutnya pake mas aja." Saran Wulan.
"Aku ada lagi di atas. Tenang aja." Kilah Juna. Padahal itu selimut satu satunya. Paling nanti saat kedinginan dia pakai sarung.
Setelah semuanya beres, Juna kembali duduk di tempat semula.
"Dari tadi kita ngobrol, tapi kok, aku belum tahu nama kamu, Mas?" Tanya Wulan dan seketika mereka saling melempar senyum.
"Oh iya, maaf. Namaku Juna. Panggil saja Juna." Jawab Juna setelah senyumnya surut.
"Kamu juga panggil aku Wulan saja, Mas. Mungkin kita seumuran." Saran Wulan.
"Iya. Malah aku lebih tua satu tahun dari kamu." Balas Juna.
"Benarkah? Wah." Ucap Wulan seperti orang yang terkejut. Dan Juna kembali menyunggingkan senyumnya.
__ADS_1
"Pasti kelak yang menjadi istrimu, sangat bahagia ya, Mas." Sambung Wulan.
"Kenapa?" Tanya Juna dengan dahi berkerut.
"Kamu baik. Dan kamu sangat pengertian." Ucap Wulan dan keduanya seketika tertawa ringan.
"Sayangnya belum ada yang bersedia menjadi istriku." Balas Juna dusta. Padahal jika dilihat ponselnya. Jumlah kontak yang tersimpan sembilan puluh persen adalah nama wanita yang mengejarnya.
Yah. Kata kata buayanya muncul tuh." Ucap Wulan dan kembali mereka terkekeh.
"Astaga! Buaya apaan sih, Lan?" Sangkal Juna.
"Iya deh percaya. Biar hati kamu senang." Balas Wulan dan mereka saling lempar senyum.
"Apa aku boleh tahu?" Tanya Juna ketika senyum mereka surut.
"Apa?" Tanya Wulan. Kini mereka sudah berani saling pandang dan tidak ada kecanggungan lagi.
"Katanya kamu proses menjadi janda? Kenapa?" Tanya Juna hati hati. Takut menyinggung perasaan perempuan di depannya.
"Karena udah nggak tahan, Mas." Jawab Wulan dengan raut wajah yang berbeda membuat Juna tidak berani melempar pertanyaan kembali. Namun tiba tiba.
"Aku mengajukan cerai karena suamiku malas cari nafkah." Juna sedikit terkejut namun dia tetap diam memandang wajah wanita yang melempar pandangannya ke arah lain, "Aku ... "
Namun kenyataan pahit harus dia telan saat usia pernikahan baru menginjak beberapa bulan. Suaminya jarang sekali memberi nafkah dan ternyata sang suami adalah anak bungsu yang sangat dimanja orangtuanya. Kerena didikan yang salah, sang suami sangat malas bekerja. Untuk bertahan hidup, Wulan justru dinafkahi sang mertua.
Wulan masih bersabar. Bahkan dia saat menikah terpaksa keluar dari pekerjaannya. Wulan memutar otak. Uang yang dia terima dari sang mertua, dia gunakan untuk mencoba membuka usaha. Namun sayang usahanya selalu gagal dalam hitungan bulan.
Yang paling parah, Wulan dua kali mengalami keguguran akibat stres yang berlebihan. Bagaimana tidak stres, suami kerja seenaknya. Sedangkan dia butuh pemasukan. Tidak mungkin selamanya mengandalkan uang dari mertua saja. Dan keguguran yang kedua membuat Wulan memutuskan mengambil langkah perceraian.
Betapa kaget kedua belah keluarga besar Wulan dan suaminya saat itu. Berbagai bujukan dan nasehat mengalir di telinga Wulan, namun perempuan itu sudah bertekad ingin pisah dari suaminya. Keluarga besar sang suami pun mengerti keadaannya. Mereka tahu benar bagaimana sifat suami Wulan saat itu hingga akhirnya mereka pun setuju melepaskan Wulan.
Wulan tersenyum getir sedangkan Juna terpaku bingung mau menanggapi apa.
"Maaf, jadi curhat." Cicit Wulan.
"Nggak apa apa." Balas Juna singkat dan sejenak kembali suasana hening. Juna melirik jam yang menempel di dinding.
"Sudah malam, sebaiknya kamu istirahat." Saran Juna.
__ADS_1
"Tapi besok aku kembalinya bagaimana?" Tanya Wulan.
"Bahas besok pagi aja. Aku juga agak lelah." Jawab Juna.
"Baiklah."
"Ya udah, aku ke atas dulu. Kalau butuh apa apa teriak aja. Berani kan? Tidur di sini?" Terang Juna.
"Berani."
"Ya udah."
Dan Juna pun segera berangjak ke lantai atas kembali. Setelah Juna tidak kelihatan, Wulan beranjak menuju kasur busa yang telah di siapkan. Wulan melangkah menahan perih. Setelah sampai, Dia langsung berbaring. Tak lama kemudian Wulan pun tertidur. Begitu juga dengan Arjuna.
Waktu terus bergulir. Hingga beberapa jam kemudian, tiba tiba Juna terbangun. Dia merasa tak tahan dan ingin pergi ke toilet. Segera saja dia bangkit menuju lantai bawah karena toilet ada di sana. Sekilas dia menatap Wulan yang nampak sudah terlelap dan bergegas dia masuk ke dalam toilet.
Setelah semuanya selesai, Juna hendak kembali ke atas. Namun langkahnya terhenti saat dia melihat selimut yang dipakai wulan tersingkap. Juna yang tak tega dan takut Wulan kedinginan, dia melangkahkan kakinya menuju tempat tidur Wulan dan membetulkan kembali selimut di tubuh calon janda itu.
Juna jongkok dan menaruh tangannya di sisi Wulan. Dia terpaku menatap wajah yang terpejam di hadapannya. Senyumnya terbesit.
"Bahkan saat tidur pun kamu terlihat cantik." Gumamnya.
Saat Juna asyik menikmati wajah Wulan tiba tiba tangan Wulan terangkat dan secara tak sadar Wulan mencengkram kaos Juna dan menariknya, tentu saja Juna kaget. Juna hendak mengangkat tangannya untuk melepas cengkraman itu namun tiba tiba kepala Wulan bergeser dan menaruh lehernya di tangan Juna yang menempel di kasur tepat di tepi leher Wulan.
Juna semakin kelabakan. Perlahan dia melepas cengkraman dengan tangan satunya. Setelah itu dia mencoba melepaskan tangan yang tertindih. Bukannya tangan terlepas tapi malah leher Wulan semakin mendekat di bahu Juna.
Juna yang posisinya sudah condong kedepan berusaha lebih keras lagi melepas lengannya secara perlahan. Dan sialnya tangan Wulan kembali mencengkram kerah Juna dan menariknya hingga wajah Juna tepat berada di dekat pipi Wulan. Saat Juna perlahan melepas cengkraman Wulan dengan tangan satunya tiba tiba cengkraman itu kembali terasa kencang dan menarik Juna lebih dekat hingga Juna terdongsok ke depan kemudian
Cup!
Mata Juna membelalak. Bi*birnya menempel di pipi calon janda itu.
...@@@@@...
Rejeki Jun rejeki. Lumayan dapat pipi. hihii.
Ini Arjuna
__ADS_1
Ini Wulan