Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 1: Adik-Kakak


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca😊


Asap dibuatnya


Dekat-dekat dada sesak jua


Api hendak mendewasa


Diurung-urung sebab kau korek api atas kodrat saja


Air dibuatnya


Menggigil di pagi buta


Menggigil di malam durja


Kau dimana dicari jua


***


''Kau adalah kedekatan yang meresahkan. Kau adalah kejauhan yang merindukan.''


( Lampung, )


***


Sang Pemilik Detik masih menurunkan cinta-Nya sampai di lima tahun kemudian. Kepada seisi rumah yang berdiri tak jauh dari sawah warga. Terpencil tempatnya. Salah satu rumah di antara pekarangan yang ramai karena beragam jenis tanaman berkepemilikan penduduk desa tumbuh di sana. Sekiranya satu kilometer jalan panjang itu patut ditempuh untuk menemui kehangatan sosialisasi antar tetangga. Setidaknya, tak hanya keluarga Najla yang menetap di sana. Dua belas rumah berdiri menjadi kawan antara pagi sampai sore yang diramaikan para petani di ladang, serta antara malam sampai pagi yang disibukkan dengan bisikan dedaunan pohon. 


Setumpuk buku dijatuhkan lah di atas tikar oleh Najla. Satu mata pelajaran saja teruntuk esok hari tak segan-segan dengan jumlah bukunya. Tak sekadar jumlah, karena ketebalannya pun tak main-main. Hampir-hampir membuat kelopak mata Gadis berhidung bangir itu melompat di sela-sela menjamah isi buku. Kesadaran bahwa cerdas bukanlah menjadi miliknya saat ini, membuat satu tahun terakhir itu lebih diwaspadakan serta diketatkan untuk tak sehari saja dilalui tanpa menjamah si jendela dunia. Daya pikir yang mulai serius perihal masa depan laksana berkecamuk memenuhi isi kepala tiap malam. Jangan sampai pijar lampu patromax yang redup itu pengibaratan jalan hidup sampai selamanya nanti. Diinginkan Najla semegah rembulan yang malam ini siap bertengger kembali. Di tanggal muda, tak setengah-setengah rembulan itu menampakkan diri.


''Teh, nanti abis salat sama ngaji beli obat nyamuk ya?''


''Tempat Wa Entin kan, Bu?''


''Iya. Masa atuh mau tempat Wa Jamal. Kejauhan atuh, Teh.''


Dinanti-nanti sajalah adzan Maghrib tiba. Seraya dimanfaatkannya waktu pendek itu sekadar menyesap lembut rumus-rumus Matematika ke dalam otak. Ibu kembali ke dapur, menutup rendaman kacang kedelai di dalam baskom untuk membuat tempe.


''Teteh!!!'' Dari dalam kamar depan Aini bersuara bagai merobek segala barang yang siap menghambat rambatannya.


''Jangan teriak-teriak atuh, De. Mau Maghrib bentar lagi teh.'' Perasaan jengkel dan wajarnya disatukan jua. Najla menggeleng-geleng kepala saja.


Dari sebuah tirai cokelat Aini menyembulkan kepalanya. Air muka gadis kecil itu dibuat tegang hanya saja menggemaskan. Dihampiri jua lah Najla olehnya. Menyodorkan sebuah buku cetak IPA kelas 4 Sekolah Dasar.


''Adek pu-''


Kalimatnya urung selesai sudah dibekap saja bibir mungil Aini oleh Najla. Seraya kakaknya itu menempelkan jari telunjuk pada permukaan bibirnya sendiri. Alangkah indah sebab Najla nyatanya mengisyaratkan kepada Aini agar diam sejenak. Kumandang adzan samar-samar menelusup lorong pendengaran jadilah sebabnya.


Aini dan Najla sama-sama membeku dalam bahasa suara. Selepasnya adzan itu keduanya mensyairkan dalam hati doa setelah adzan.

__ADS_1


''Ambil air wudhu dulu. Terus salat. Baru bilang ada apa, ya!''


''Adek mau bilang dulu sama Teteh. Sebentar. Salatnya nanti.''


''Gak boleh menunda salat, Aini.'' Wajah Ibu sudah basah dengan air wudhu.


''Sebentar aja, Ibu.''


Tak dihuraukan jua, dibiarkan saja Aini oleh Najla. Ia sudah ke belakang rumah mengambil air wudhu.


''Ya udah kalo gitu.''


''Oke. Teteh! Adek mau ngomong, sama Ibu udah dibolehin.''


Hampir Aini ke belakang rumah, pergelangan tangannya sudah dicekal jua oleh Ibu.


''Ibu teh belum selesai ngomong sama Adek,'' ujarnya. ''Kalau Adek mau nunda salat, nanti Ibu kasih tahu Bapak kalau Adek malas-malasan salatnya. Biar enggak dibeliin sepatu baru dan Allah bakal marah sama-''


''I-iya, Ibu. Ini Adek mau salat dulu.''


Segera dikemasi jua niat kalimat-kalimat yang hendak diserahkan Aini kepada Najla. Jikalau sudah dikatakan demikian, tiada satu kata lagi saja yang masih mengokohkan ego Aini sebagai anak kecil. Ia akan segera memberangkatkan apa-apa yang berurusan dengan agama. Titin, sang ibu hanya tersenyum menanggapi tingkah Aini.


***


''Adek isukan hapalannya dilancarin ya! Buat Teteh, Ibu kasih keringanan buat gak nambah jumlah hafalan dulu, tapi ayat-ayat yang sudah Teteh hafal jangan sampai hilang. Selesai UN Ibu tes daya tahan hafalan Teteh. Teteh besok udah mulai UN kan?''


*isukan\= besok


''Berhubung, besok Teteh mau mulai Ujian Nasional. Teteh bade minta restu ka Ibu. Tolong doakan Teteh lancar ngerjakan soalnya, bisa dapet hasil memuaskan, bisa lanjut SMA yang bagus. Teteh minta doanya ke Ibu, ya?''


Usai kalimat itu tersusun baik pada pengucapan, dicium jualah punggung tangan sang wanita pemilik surga di bawah telapak kaki itu. Pada sebuah ruang mungil dalam dadanya seketika meleleh. Berlanjut dilukiskan berupa titik bening yang berwujud nyata di mata. Di mata Ibu.


''Pasti. Pasti Ibu doakan dan selalu Ibu doakan untuk Teteh.  Sama Adek juga.''


Bagai budaya saja kalimat permohonan restu itu diserahkan tiap-tiap menghadapi ujian. Jikalau Bapak berada di sana, maka tak ayal kedua tangannya lah yang akan menepuk-nepuk pundak dua anak perempuannya itu. Sebuah cara bicara tanpa kata, yang bermakna semangat. Hanya saja, dua tahun terakhir ini ruang oksigen Bapak serta anak-istrinya dipisahkan. Di tanah sebrang energinya dikuras demi si lembar-lembar bernama uang.


''Jadi kangen Bapak,'' keluh Aini.


Tergurat jualah segaris senyum dari bibir Ibu. ''Iya, benar. Mau ngobrol sama Bapak?''


''Mau!!!'' Serempak daging tak bertulang milik Najla dan Aini itu berseru.


''Syaratnya Adek beliin dulu obat nyamuk tempat Wa Entin ya. Tinggal jalan, deket kok.''


''Tadi kan Ibu nyuruh Teteh atuh. Kok jadi Adek?'' Aini tak mau kalah.


''Teteh belajar. Besok kan mau ujian. Jadi Adek yang ke warung ya?''


Tersirat, bola mata serta air muka Najla bagai mengejek Aini. Seolah merdeka seraya berkata, ''Teteh belajar dulu ya, Bu. Adek kan yang disuruh ke warung?''

__ADS_1


''Iya.''


''Teteh mah!''


Najla berlalu seraya menjulurkan lidahnya kepada Aini. Merengeklah Aini memasang muka masam di hadapan Ibu. Berat langkah kakinya masih jua diseret-seret menuju warung Wa Entin. Baru sekadar sepuluh detik tiba di warung, lampu-lampu membungkus cahayanya. Kian kesallah Aini. Ia ke warung sendiri menahan-nahan kondisi hati yang mengerut takut. Kini kian berkembang besarlah takutnya. Jalanan hanya akan berisik dari para jangkrik, sementara manusia-manusianya sibuk di dalam rumah menghidupkan lilin atau dimar dari bahan bakar solar.


''Berapa, Wa?''


''Seribu lima ratus.''


''Ini. Pas Wa uangnya.'' Diserahkanlah selembar uang kertas bernilai seribu rupiah serta uang koin bernilai lima ratus rupiah.


''Enggak beli lilin sekalian atuh?''


''Enggak ah. Uangnya pas buat beli obat nyamuk ini. Nuhun, Wa.''


''Enya, geulis. Sami-sami. ''


*Nuhun\= Terima kasih


*Enya\= Iya


*Geulis\= Cantik


*Sami-sami\= Sama-sama


Tak lama kedua kaki Aini sudah kembali menapak di lantai rumahnya. Sebuah cahaya kecil dari sumbu dimar tampak rentan untuk tidak padam. Asapnya khas sehitam jelaga.  Mencium-cium langit rumah sampai nantinya akan berjejak kekalau lama jua ia menggeliatkan cahaya.


''Teteh semangat! Tadinya Aini mau minta tolong ajarin Aini PR IPA sama Teteh.''


Di samping Najla, Aini turut membuka bukunya. Ibu membakar ujung obat nyamuk sampai berapi lantas ditiup. Asapnya saja yang diminta untuk bertugas meminimalisir jumlah nyamuk yang ingin memangsa tiga insan dalam ruangan itu. Aini masih saja berceloteh-celoteh. Kelelahan bercakap tampaknya tengah ia senyapkan. APA jua niatnya jikalau bukan mengganggu NAjla. Menggoda, bermaksud tanpa keseriusan adanya. Niat menghubungi Jaya, si Bapak musnah sudah. Jaringan teramat bermalas-malasan dengan kondisi mati lampu. Lokasi yang cukup menjorok dari keramaian pun menjadi sebabnya.


''Besok kan Adek mau jadi pembaca Undang-Undang. Tapi Adek hafal dikit-dikit kok,  Ibu sama Teteh dengerin ya!''


''Jangan ganggu Teteh, Dek. Sini baca UNdang-Undangnya sama Ibu aja.'' Telapak tangan Ibu menepuk-nepuk tempat kosong di sampingnya. Badan sendok usai ia gunakan mengaduk teh, dibaringkannya lah di atas mulut gelas.


''Teteh harus denger juga! Teh dengerin Teh. Nanti kalo Adek salah, sama Teteh dikoreksi.''


''Adek-''


''Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia-''


Urung selesai sebuah hentakan keras menimpa gendang telinga Ibu dan Aini. Refleks kepala mereka berputar pada sumber hentakan.


''Teteh gak fokus, Dek! Adek punya PR juga kan? Kenapa enggak dikerjain atuh?''


''Ma-maaf, Teh.''


***

__ADS_1


Bersambuuung. Ini cerita pertama yang aku buat bukan tentang anak tunggal😂 maafkan kalau feel antara adik sama kakaknya gak dapet ya✌


Wassalamualaikum.


__ADS_2