Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
57


__ADS_3

Hening sejenak mereka saling menatap satu sama lainnya. Saling melirik, Davis menegak badannya menunduk sambil meremasi kedua tangannya. Gugup saat berhadapan dengan orang yang berkaitan dengan sang kekasih.


"Maafkan aku. Aku sedikit terkejut mendengar penjelasan Galuh. Aku bahkan tak mendengarkan tentang siapa saja yang menjadi keluarga nya. "


"Jujur saya tak terima jika ada yang bicara soal dia dengan vulgar. Dia pilihan hati saya, kebetulan orang tua menjodohkan kita. Benar-benar berjodoh kan?"


Gurauannya Davis garing hanya mendapatkan tatapan mata Damian datar. "Silahkan kakak bicara jika ada yang hendak di sampaikan" Kata Davis menatap ke-dua orang di depannya.


"Dia adikku , jika kau serius dalam hubungan kalian lekas resmikan. Aku ingin kalian aman dalam ikatan secepatnya. Jangan gantung adikku." Tegas Damian Marley.


"Tentunya, dengan seijin keluarga aku akan datang meresmikan hubungan antara kita. Secara agama dulu apa boleh? Aku masih trainee juga dia. Kami memulai dari nol agar tak di remehkan kemampuan kami".


Penjelasannya Davis membuat Damian tersenyum menatap keduanya dengan puas. "Baguslah. Kami tunggu kedatangan mu. Makanlah. Aku tinggal dulu!" Damian memberi isyarat kepada rekannya dan berlalu.


Mereka hanya saling melirik dan makan dengan keheningan bahkan hingga ke kediaman Galuh keduanya saling menatap berdiam diri.


"Terimakasih atas semuanya, untuk hari inipun tidak akan ku lupakan." Ucap Galuh sambil melepaskan seat belt. Davis menahan nya.


"Maafkan aku, dan terimakasih sudah percaya pada aku." Ucap Davis langsung mengecup kening nya Galuh. Galuh mengelus pipinya Davis.


"Love you." Ucap Davis tanpa suara, Galuh hanya terdiam menatap wajah lelaki itu. Cup. Berulangkali Galuh mengecup bibir nya sekilas hanya ciuman ringan menempel bibir mereka. Lalu Galuh berpaling keluar dari mobilnya Davis. Davis ikut keluar dan bersandar pada pintu mobilnya.


Terkulai lemas menatap memuja ke punggungnya Galuh yang meninggalkan nya sendirian di pelataran rumah nya. Ayu wangi melihatnya dari atas dalam pelukannya sang suami.

__ADS_1


Interaksi antara mereka berdua terlihat jelas karena kaca mobil nya tidak gelap jadi terlihat jelas. "Kita akan punya menantu Sayang." Bisiknya serak.


"Rumah kita akan bertambah lagi, ramai ada anak-anak sedang main..." Ayu wangi menghayal tentang keadaan masa depan yang akan di lalui nya nantinya.


"Mhmm.. Aku setuju, tapi kita make up first.. " Ayu wangi mendesah nikmat kala bibir sang suami bergerilya di leher juga pundaknya belum lagi kedua tangannya menyusup ke dalam pakaiannya.


"Akh...! " Jerit tertahan Ayu wangi saat tubuh nya di angkat di baringkan ke ranjangnya. Saling melucuti dan mencumbui setiap jengkal tubuh masing-masing tanpa melepas pagutan. Rasa membuncah terbang keduanya ke nirwana membawa kenikmatan bersama.


Dirga keluar dari lift yang menghubungkan antara gedung dengan parkiran mobil. Matanya menyapu sekelilingnya yang sepi, hanya satu dua mobil yang terparkir berjarak jauh. Ia hafal dengan mobil-mobil itu adalah milik karyawan nya yang masih lembur.


Karena proyek baru ini menyita waktu mereka untuk memenangkan tender juga pelaksanaan kegiatan nya. Matanya menyipit memperhatikan obyek yang dilihat dari kejauhan.


Jelas sekali itu siluet wanita yang berlarian ada yang mengejar nya. Dirga melangkah ke arah mereka dan mempercepat jalannya bahkan berlari kecil. Matanya melebar kala melihat nya.


Wanita itu di hajar di sana dengan tendangan keras ke tubuhnya. Bruk. Dirga melompat dengan tendangan bebas melayang ke arah punggungnya. Orang itu membelakangi nya jadi tak melihatnya.


"Kau manusia pecundang beraninya kau dengan wanita!" Maki Dirga menarik wanita itu ke belakang punggungnya.


"Dia istri ku ! Wanita tak patuh pada suaminya harus di hukum!' Maki nya emosi. "Kau gila? Bodoh! Menghukum wanita pasti nya ada banyak cara beraninya kau main melukai fisiknya! Dasar banci!'


Makian Dirga menatap tajam lelaki itu tak terima dengan apa yang terjadi pada wanita itu, ia teringat akan sesuatu yang terjadi pada Cecilia. "Tenanglah aku akan melindungi mu!" Bisiknya menenangkan hati wanita itu.


Tubuhnya gemetaran menundukkan kepalanya, rambutnya berantakan dari sanggul rambut kecil itu jelas ia stafnya nya yang senior. Wajahnya pucat dan wajahnya lembam dengan bibir nya berdarah diujung nya bekas tamparan keras.

__ADS_1


"Brengsek berani dia menyakiti mu!" Desis Dirga menatap tajam orang dihadapannya dan tanpa di sadari Dirga mendapatkan serangan dadakan sebuah pukulan.


Namun dapat di tahan oleh kedua tangannya kemudian ia balik menyerang lagi Dirga berhasil membalikkan serangannya. Lelaki itu terdesak dan Dirga melihat tabung pemadam kebakaran di ambilnya lalu digunakan untuk menyerangnya.


Lelaki itu kesakitan dan mundur dari sana sambil menyumpahi. "Kau tak apa-apa?" Tanya Dirga pada wanita itu yang diam merintih kesakitan, pelan suaranya.


"Aku akan membantu mu ayo ke rumah sakit." Dirga menempatkan tas nya di atas tubuh wanita itu dan membopong nya berjalan ke mobilnya yang terparkir.


"Selamat kan anak ku dan bayi ku. Jangan sampai dia menyakiti nya." Bisik nya lirih. "Dimana kau tinggal?" Tanya Dirga menatap wajah pucat dan babak belur.


"Jl. Anggrek 366 rumahku.." Wanita itu hendak memejamkan matanya. "Jangan tidur usahakan tetap terjaga, tetap sama aku ya.. Kau harus bertahan demi anak-anak.."


Dirga menyemangati kala sudah berhasil memasukkan nya ke jok belakang dan membuat nya senyaman mungkin. Membawanya ke rumah sakit terdekat.


"Apa nama tempat favorit kalian jika berwisata? Kau dengan anak mu?" Tanya Dirga menatap nya lewat spion tengah. Mobil melaju kencang ke jalanan malam itu lengang entahlah mengapa demikian. Dirga ingin cepat sampai, dia tahu ini bukan waktu bertanya ini itu namun ia hanya ingin dia terjaga.


"Dia laki-laki atau perempuan ? Anakmu?" Pertanyaan random lagi-lagi di lontarkan Dirga, wanita itu menjawabnya dengan pelan seperti gumamam.


Mobil masuk ke dalam rumah sakit dan berhenti di depan UGD. "Tolong wanita ini.. Tolong.." Dirga berteriak minta tolong.


Para petugas medis berdatangan ke arahnya dan menolongnya. "Dia korban kekerasan suaminya, mohon lapor polisi dan saya minta visum untuk laporan. "


"Saya akan cari pengacara untuk membelanya dan menyelamatkan anaknya yang lain. Dia bilang anak-anak minta di selamat kan.' Jelas Dirga.

__ADS_1


Dokter mengangguk dan terkesiap kala memeriksa perutnya. "Sediakan alat USG..." Dokter itu berteriak memerintah pada perawat berikut lainnya.


Dirga menelepon seseorang," Segera kau ke rumah jl anggrek... Selamat kan anak kecil bernama Rasya dan pengasuh nya Asih. Cepat lah jika tidak ia bakal celaka di tangan bapaknya yang tak waras. Bawa orang cepat!'


__ADS_2