
Dirga menata berkasnya, setelah keluar dari ruang kerjanya, setelah sidang terakhirnya ia lolos dan tinggal menunggu wisuda.
Dia memilih membantu ayahnya bekerja, memulai dari bawah sebagai karyawan. Karena dia tak mau di remehkan hanya bisa menggunakan kekuatan keluarga nya saja.
Saat ini masih jam makan siang, lelaki itu sedang menyusuri pandangan nya di depan parkiran gedung ada beberapa gerobak dorong menjual makanan.
Matanya menyipit gerobak pecel lele menjadi tujuan nya. "Pak minta satu porsi minum nya air mineral aja." Celetuk nya begitu mendekat.
"Siap mas." Sahut si penjual. Dan Dirga mendapatkan lirikan mata beberapa pembeli.
"Anak baru?" sapa seorang lelaki sebayanya. Dan dengan anggukan lalu tersenyum, " Dirga divisi marketing." Mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.
"Andika , divisi SDM." Sapa lelaki itu dengan ramah. "Kau tampan, makanya jadi bahan obrolan di grup. " Lanjutnya.
"Benarkah?" Dirga terkekeh kecil lalu mengambil pesanan nya dan makan lesehan sama seperti yang lainnya.
"Kamu baru lulus kuliah ya?"Pacar?" Tanya Andika di sela kegiatan mereka.
"Alhamdulillah, cumlaude dengan nilai memuaskan, Pacar belum, baru crush. Otw mau jadian istri.." Jawabnya sambil tersenyum.
"Wah bisa patah hati masal nih, sebab cowok idola sudah milik orang." Cerocos Andika, Dirga tertawa kecil.
Suasana di kantor Dirga tak sekaku awalnya, kini ia dapat teman satu lagi setelah teman di samping kubikel nya. "Rasanya waktu akan berlalu begitu cepat selama aku kerja banyak teman sekantor." Batin Dirga puas.
Di lain tempat Cicilia hanya terdiam mendapat amukan dari Papa nya. "Bagus. Sudah berasa paling pintar, hebat. Tapi di umbar murah. " Maki Danu Cahyono pada putrinya.
"Dia siapa? Lelaki yang kau ajak tidur? Beraninya kau memutuskan pertunangan tanpa memberitahu, kamu !" Danu Cahyono memegang kepalanya berdenyut.
__ADS_1
Safitri mendekat dan mengelus lengannya dan membimbing sang suami untuk duduk, "Tenang lah Pa. Darah tinggi ingat umur, jangan seperti ini." Bujuk Safitri.
"Anak mu! Yang kau manja ! Andai kamu tak sakit dan ... Sungguh tak berguna ! " Umpat Danu Cahyono duduk di sofa mewah miliknya.
"Kamu benar-benar keterlaluan! Demi mendapatkan kenikmatannya di goyang kamu selingkuh! Kurang apa dia,? Baik sama orang tua, sopan juga royal pantas nya kamu kerja kaya seperti itu aja daripada jadi anakku!!' Umpat Danu Cahyono.
"Papa, jangan keterlaluan! Dia pasti ada alasannya! Bahkan dia seperti itu juga salah kita, kita sudah mengorbankan dirinya beberapa kali. Papa jangan seperti ini!"
Safitri memukul lengan suaminya sambil menundukkan kepalanya. Matanya berkaca-kaca dan merasa kasian pada sang anak. Cicilia hanya diam menundukkan kepalanya, tak ada air mata, hatinya sudah kebas karena perlakuan sang ayah. "Apa benar dia Papa kandung aku?' Pikirkan tentang itu berkecamuk dalam pikiran Cicilia.
Pasal nya demi investasi Papanya mengajaknya bertemu dengan koleganya dan berakhir dengan pemerkosaan nya, dan menjadi istri siri di usia belia.
Untung nya dia tak memiliki anak dan ia sudah menjaga jarak dengan lawan jenisnya. Takut di rendahkan memilih bergaul dengan anak-anak cupu.
Dan berlanjut hingga sekarang ia menjadi kekasih anak investor sang Ayah. Dia seperti dijual oleh ayahnya. Bohong jika dia bilang ke Dirga jika itu adalah kebutuhan setiap orang jadi wajar melakukannya.
Mengambil buku diary nya duduk di depan meja belajar nya yang menjadi satu dengan kamarnya. Mencurahkan isi hati, " Aku resmi pisah dengan si penjahat kelamin."
"Bahagia ? Entahlah. Harapan aku hanya bersama dengan Kak Dirga. Ku rasa itu hal mustahil baginya aku kotoran. Tak layak di sentuh."
"Ku pikir itu hanya kebetulan dia mabuk bukan hal baru, dan juga aku ikhlas melakukannya dengan Kak Dirga. Setidaknya aku melakukan hal yang kuinginkan sebelum aku di lenyap kan."
"Pengecut itu tak mungkin membiarkan aku hidup tenang. Aku tahu semuanya sisi gelapnya, aku sudah mencatat semuanya di sini. Tuhan akan menemukan caranya untuk membalas orang-orang jahat."
"Aku harap jangan terlalu lama membuat penjahat itu enak-enak tanpa bertanggungjawab atas segala kejahatan nya."
Dengan sesekali Cicilia menghapus air matanya mengalir sendiri, tak ingin menangis namun itu turun sendiri dan tak bisa di hindari nya.
__ADS_1
"Tuhan jangan biarkan dia bebas dari perbuatannya, hukum setimpal dengan perbuatannya itu sangat tak adil jika ia bebas dari jeratan hukum. "
"Si brengsek itu tak boleh bersikap seperti itu seolah-olah ia kebal terhadap cekalan hukum."
Cicilia mengambil pil dan meminumnya dengan air sekali tenggak baru membersihkan diri dari jejak keringat nya. Setelah rutinitas skincare dia pun tidur mengistirahatkan tubuh nya yang sudah letih.
Tanpa diketahui oleh orang tuanya, Cicilia sudah terluka amat sangat, sangat dalam atas kesalahan sang ayah yang mengajaknya ke pertemuan bisnis.
Dengan trik licik lelaki itu dikelabui oleh partner kerja nya dan memanfaatkan Cicilia kecil dan berakhir pada pernikahan siri. Walau dia tak sering di kunjungi namun beban itu membuat shock Cicilia,.
Membuat gadis remaja itu cepat dewasa sebelum waktunya. Dan menyembunyikan lukanya dari orang sekitarnya. Tak tersentuh oleh orang sekitarnya saat sekolah, menjadi penyendiri dan berteman dengan para cupu atau rekannya yang juga introvert.
Hubungan antara dia dan tunangannya bukan lah hubungan baik, banyak sekali yang dia sembunyikan dari orang tua nya, karena dia tak mungkin dipercaya jika seandainya Cicilia bercerita tentang semuanya.
Biarlah waktu yang menunjukkan sebenarnya apa yang terjadi. Tak ada salahnya mengalah untuk menang itulah yang di pikirkan Cicilia. Mengalah bukan karena takut atau lemah, pada akhirnya si pelaku akan mendapatkan balasannya.
Pukulan keras dan telak itulah yang di harapkan Cicilia pada lelaki itu. Semuanya sudah dia tulis dalam buku hariannya, dan terpampang jelas runtutan kejadiannya.
Jika nantinya ia akan kehilangan kesempatan untuk berbicara secara langsung. Dan semuanya akan tahu dan ini juga akan membuat Ayahnya berpikir panjang karena itu bersumber dari keegoisan orang dewasa.
Yakni sang Ayah, yang berperan penting dalam kehidupan nya. Di sana di dalamnya laci itu banyak sekali bukti kesengsaraan Cicilia dan membuat mereka merasa bersalah.
Dan mungkin akan seumur hidupnya akan merasakan kepedihan yang tidak pernah berhenti. Menjadi hukuman penjara hati selamanya hingga akhirnya menutup matanya.
Cicilia tertidur pulas tanpa ada beban berat dalam hidup nya, Pulas tanpa riasan wajah begitu polos terlihat jelas di parasnya yang cantik.
Apabila apa yang diinginkan itu terwujud entahlah apa yang terjadi. Dia tak lagi memikirkan hal ini karena pada saat itu terjadi maka. ia sudah pergi meninggalkan mereka semua.
__ADS_1