
Pikiran Axel menjadi kacau, yang ada diotaknya hanya Linda dan Sky.Malam ini juga dia harus menemui dirinya, walaupun ditolak dia tidak akan pernah menyerah. Akhirnya Axel membelokkan mobilnya menuju arah rumah Linda.
Awalnya dia merasa berdebar-debar dan sedikit takut, hatinya menjadi tak tenang. Dia keluar dari mobilnya dan duduk di kap mobil sambil membakar cigarette-nya untuk membuang kegelisahannya. Setelah membakar 2 batang cigarette barulah dia memberanikan dirinya untuk memencet bel rumah Linda.
Sekali...dua kali dan ketiga kalinya barulah keluar mba Mumun membukakan pintu untuk Axel. Betapa kagetnya dia melihat Axel datang lagi kerumah itu,melihat kehadiran Axel membuatnya khawatir, dia seperti ingin menyampaikan sesuatu namun tak tahu harus mulai darimana. Axel mendekatinya dan memegang bahunya.
"Ada apa mba katakan saja, Linda ada didalamkan?"tanyanya dan Axel langsung berjalan ke arah rumah itu.
"Tunggu tuan...jangan masuk dulu" mba Mumun langsung menghentikan Axel.
"Ada apa mba?apa om ada didalam?baiklah kebetulan sekali" Axel nampak percaya diri.
"Bukan itu tuan, maksud saya..ada dokter Pandu didalam" wajah Mumun langsung tampak menyedihkan.
"Apa??dari jam berapa dia disini?"tanya Axel mulai tak sabar
"Dari siang tuan, kan mereka baru saja mendaftarkan tuan Sky sekolah" Mumun.
"Aisshh...dari siang?dasar tak tahu diri, berani sekali dia ngapelin istri orang" Axel langsung tak terima, dia pun nekat langsung masuk ke rumah. Begitu dia masuk ke dalam rumah tampaklah pemandangan yang sangat hangat sekali namun mampu membuat hati Axel menangis.
Linda dan Pandu sedang mengajak Sky bermain ular tangga. Mereka bermain sambil bercanda-canda.
"Tidak...tidak...dia tidak boleh cengeng, Pandu bisa saja dekat dengan Linda namun jangan harap bisa bersanding dengannya sebab dia sudah menulis takdir Linda berada didalam genggamannya.
Axel membuang muka dan langsung keluar, namun belum sampai keluar Sky sudah memanggilnya.
"Om...om Axel" ucapnya lalu dia langsung berlari menghampiri Axel. Mendengar namanya dipanggil Axel langsung menoleh dan merentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan malaikat kecilnya, dia memeluk Sky dengan sangat erat sekali, seolah sudah ribuan tahun tak bertemu, dia menciuminya dan tak pernah melepaskan pelukannya .
"Axel" Linda langsung menoleh ke arah Pandu.
"Sky sudah akrab dengan pria itu?bukankah istrinya baru saja melahirkan?kenapa mereka bisa seakrab itu?" dokter Pandu duduk bersandar dan langsung melipat tangannya.
"Iya...mereka sudah sangat akrab, mereka sudah kenal beberapa bulan lalu"jawab Linda
"Aku sebentar ya kedepan dulu" Linda pun pamit pada dokter Pandu, dia khawatir dengan kehadiran Axel dirumahnya. Jika sampai ayahnya tahu tentu saja dia akan mengusir Axel.
Linda menarik tangan Axel keluar rumah.
__ADS_1
"Kenapa aku ditarik keluar sayang" tanyanya heran.
"Axel...kenapa kamu nekat datang kemari?papa bisa mengusirmu jika dia tahu kamu disini" Linda nampak cemas, sementara Pandu melihat mereka dari balik jendela.
"Sebaiknya kamu pergi sekarang, pulangkah sebelum papa keluar" pinta Linda.
"Aku tidak takut dengan ayahmu Linda, walaupun dia menghajarku aku tidak perduli bahkan jika dia ingin membunuhkupun aku rela" mata biru itu menatap Linda dengan tatapan sayang. Tangan Axel mengelus pipi Linda yang bening itu.
"Aku tidak ingin ada air mata lagi mengalir dari mata ini" lagi-lagi Axel membelai dengan sayang kelopak mata itu.
"Om...sayang ya sama mama aku?"tanya Sky
"Bukan hanya sayang tampan tetapi om cinta pada ibumu" jawab Axel.
"Tapi kan mama aku pacarnya dokter om, nanti kalau aku sakit tinggal diobatin deh" ujarnya polos.
"Mamamu boleh punya pacar dokter tetapi papa kamu adalah orang yang mempunyai rumah sakit dan yang membayar gaji dokter. Menurut kamu mamamu lebih pilih yang mana?"Axel
"Waah papa aku uangnya banyak ya om?" Sky
"Tapi papaku kemana om? dulu aku tidak pernah ketemu papa, kalau papa banyak uang kenapa aku tidak pernah dibeliin mainan dulu?aku dimarahin sama temen-temen aku, gak boleh main sama mereka karena aku tidak punya mainan"
Hati Axel bertambah sakit mendengar kata-kata anaknya. Dia mempunyai sangat banyak uang tetapi dia tidak tahu jika anaknya pernah menderita, dikucilkan karena tidak memiliki mainan. Ya Tuhan...apa-apaan hidup begini?
"Tenanglah tampan, mulai sekarang kamu bisa meminta mainan padaku apapun itu tanpa terkecuali. Om akan selalu memenuhi semua keinginan kamu, kamu tidak akan pernah kekurangan apapun lagi" Xel.
"Stop Axel....sekarang kamu pulanglah, aku mohon" Linda
"Kenapa aku harus segera pulang?agar kamu bisa berdua-duaan lagi? begitu maksudmu?"tanya Axel
"Kamu juga berdua dengan istrimu,lalu apa bedanya aku dan kamu?" Linda mulai tampak sedikit cemburu.
"Apa kamu cemburu?"tanya Axel dan semakin mendekat ke arah Linda
"Cemburu apa Xel?mana ada aku cemburu hihi..ngaco saja kamu"
"Untuk yang terakhir kali, aku minta padamu pulanglah...aku tidak ingin ada keributan antara kamu dan papa, kasihan Sky...dia akan bingung nantinya" Linda
__ADS_1
"Oke..oke...aku turuti maumu, sekali lagi ini karena Sky tapi lain kali aku tidak akan mendengarkanmu, karena kalian adalah milikku...milikku...camkan itu" Axel menatap lekat-lekat wajah Linda.
Ada kecemburuan tampak dari raut wajah Pandu saat melihat mereka bertiga, hati kecilnya mengatakan jika ada sesuatu diantara mereka.
Dia menatap tidak suka kepada Axel, saat Axel melihat dokter Pandu mata mereka beradu pandang seolah mereka saling menantang dan siap untuk berperang, dengan sengaja dia mencium bibir dokter Linda seolah dia ingin menegaskan jika wanita itu adalah miliknya.
Linda kaget dengan serangan dari Axel itu, apalagi dia mencium bibirnya didepan anaknya. Linda memarahi Axel karena perbuatannya namun Axel mengabaikan omelan Linda,karena dia merasa sudah menang dihadapan dokter Pandu.
Sky yang melihat mamanya dicium om-nya merasa sangat senang, dia tertawa sambil menutup bibirnya.
"Om cium-cium mama aku..."Sky langsung memeluk Axel. Hubungan mereka sudah tidak bisa diragukan lagi, naluri sebagai seorang ayah membuat Axel begitu menyayangi anak itu, begitupun dengan Sky yang tidak pernah mendapat sentuhan seorang ayah tentu sangat senang mendapat curahan cinta kasih dari Axel.
Linda langsung mengambil Sky dari gendongan Axel, sambil mendorong tubuh Axel keluar rumah. Papanya sedang berbicara dengan Pandu, jika sampai dia melihat Axel tentu dia akan meneriakinya. Takut keadaan akan menjadi kacau Linda dengan cepat menutup pintu gerbangnya.
"Pulanglah...papa sudah turun, salam untuk istri dan tante ya...selamat malam" Linda langsung berjalan masuk ke arah rumah. Axel hanya bisa melihat tubuh langsing itu hingga masuk ke dalam rumahnya. Linda mengira Axel akan segera pulang namun dia salah, ternyata Axel menunggu dokter Pandu didepan pintu gerbang. Dia akan membuat perhitungan dengannya sekalian dia ingin mengetahui ada hubungan apa antara dirinya dan dokter Linda.
*****
"Kasihan Hilda harus diangkat rahimnya, sebagai seorang wanita pasti dia merasa sudah tidak sempurna" Firda.
"Ya mau bagaimana lagi Fir, daripada nyawanya terancam lebih baik rahimnya yang dikorbankan. Masalahnya ini kasus plasenta akreta, dimana dinding rahim menempel sangat dalam sampai menembus otot rahim" Alma
Mereka sedang berbicara santai dikebun belakang sambil meminum teh. Mereka tidak tahu jika Hilda mendengarkan ucapan mereka. Dirinya sangat terkejut begitu mengetahui kenyataannya. Apa...dirinya tidak mempunyai rahim?dan itu artinya dia sudah tidak bisa hamil lagi?jika sudah seperti itu bagaimana bisa dirinya mempunyai anak dari suaminya??haaa..tidakkk..ini artinya dia bisa kapan saja dibuang jauh-jauh...dia tidak akan mendiamkan masalah ini.
Linda bisa merebut tahtanya karena dia mempunyai keturunan langsung dari Axel, lalu bagaimana dengan anaknya kelak???ini sungguh tidak adil untuknya. Dia harus menuntut Linda dan kalau bisa memenjarakannya selama mungkin.
"Tidak mungkin mom...aku tidak mungkin hidup tanpa rahim...tidak mungkin...tidak mungkiiinn...tidaakkkk" Linda mundur pelan-pelan dan langsung berlari kedalam mrnuju kamarnya dan menangis sejadi-jadinya, dia meratapi nasibnya yang tidak beruntung itu.
Alma dan Firda kaget melihat kehadiran Hilda. mereka sama sekali tidak mengetahui kahadiran Hilda disana, mereka nampak menyesal.
"Kita harus menenangkannya, untung gue gak ngomong panjang lebar tentang dia" Firda
"Aku juga tidak tahu jika dia ada dibelakang kita Da, ya sudah kita harus bisa menenangkan dia sekarang" kedua nenek-nenek itu pergi ke kamar Hilda berusaha menenangkannya, namun Hilda mengunci pintu kamarnya dari dalam.
*****
Met siang genks...maaf beberapa hari emak tidak bisa up, karena emak lagi ngejar setoranš¤doain emak sehat2 ya genks....peyuk cium untuk kalian semuašš
__ADS_1