Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 3: Menghindar


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca😊


Aku tergugu


Kau melangkah


Pandanglah dipandang dibuang saja


Aku bertahan


Birahi atau apa


Apa


Iya apa


Bukan tanya


Segenap hati tampaknya


***


''Dipandanglah jangan. Diingatpun jangan. Ada sebentuk malu dari seberkas masa lalu. Ada sebentuk rasa yang sewajarnya dijaga.''


(Lampung, 19 Oktober 2018)


***


''Teh jawab dulu atuh! Adek penasaran pisan.''


*Pisan\= Banget.


''Kenapa? Kan tadi udah Teteh jawab, dia itu namanya A' Ashad.''


Kaki dari keduanya itu enggan terjeda barang di satu tempat saja sedari tadi. Alam sadar Najla laksana membumbung dan urung kembali. Hingga sapu lidi itu masih saja dicekal kelima jemari kanannya. Melangkah-langkah saja menyusuri ruang-ruang di dalam rumah tiada tujuan.


Najla sudah menghindar dari Aini. Sayangnya Aini tak berputus asa untuk melepasnya begitu saja. Sepotong surat yang seujung kuku telah Aini pahami bagai cambuk untuk kedua kakinya terus saja mengejar Najla. Serta serentetan aksaranya bagai jawaban yang musti ia dapatkan kala itu jua. Tak bisa nanti, esok, apalagi lusa.


''Teh!''


Spontan, Najla membalikkan badannya. Hampir saja aksi tabrakannya dengan Aini berlangsung. Hanya keburu Aini menghentikan gerak kakinya.


''Apa lagi Adeknya Teteh yang Teteh sayang?''


''Adek pernah baca surat di kamar Teteh yang ada namanya A' Ashad itu. Adek juga udah tahu atuh kalo AA itu namanya A' Ashad. Maksud Adek, A' Ashad sahana Teteh?''


*Sahana\= Siapanya.


Sesaat saja kelopak mata Najla hampir meloncat dari persemayamannya. Pantaslah sedari tadi Aini bertanya tentang Ashad. Nyatanya sebentuk masa lampau sedikit terjamah melalui surat itu oleh si kecil Aini. Pertanyaan-pertanyaan pun hampir menikam isi kepala Najla. Dirasanya sudah aman surat itu, hanya saja kenapa Aini bisa menemukannya? Andaikata Aini benar-benar paham, sudah kacau jua relung hati Najla. Ruang atau benda apa saja yang sekiranya mampu membawa Najla sejenak hilang dari pandangan Aini, akan Najla lakulan saat ini jua.


''A' Ashad itu kabogoh Teteh?'' Raut mukanya datar bagai tiada makna. Kehati-hatian melontarkan kalimat tanya sudah bergelut kuat dari lidahnya.

__ADS_1


*Kabogoh: Pacar.


Bukan berdiri kaku berkat pertanyaan Aini, justru sikap, gaya, dan tingkah apa-apa jua lah yang refleks keluar Gadis berusia 16 tahun itu. Kelima jemari kirinya sudah digaruk-garukkan kepada permukaan atas kerudung, kendati rasa gatal tak dirasalah di sana. Entakan kedua kaki menerjemahkan ia ingin lari saja saat ini juga.


''Kabogoh-''


Kalimat yang hendak dipaparkan tertelan dahulu lah sejenak. Suara kelima jemari diketuk-ketukkan pada badan pintu berhasil mewujudkan alasan masuk akal.


''Ibu pulang!'' Aini berseru riang. Segera menarik diri dari hadapan Najla yang diam-diam mengelus dada pertanda lega. Satu ikatan yang tak mengenakkan pun terputus tanpa susah payah.


Seperti biasa, di luar pemandangan keranjang sisi kanan dan kiri motor Ibu sudah lengang oleh bungkusan-bungkusan kedelai yang telah menjelma tempe, berganti dua bungkus kantong plastik putih besar berisi kacang kedelai yang siap diolah juga. Najla keluar membawa segenap rasa kehati-hatian dalam berujar kepada Aini untuk membantu Ibu. Membawakan bahan mentahan untuk membuat tempe ke dapur. Satu garis lelah dari wajah Ibu menjadi sosok seribu semangat bagi Najla. Kian rajin membantu wanita istimewanya itu dalam hal apa saja. Sedangkan Aini, ia membantu masih sekadar karena mengikuti sikap sang kakak.


Sore pun larut. Sekresek besar biji kedelai itu telah berpindah tempat. Direndamkan dengan air  pada sebuah baskom. Insan-insan di ladang bergegas pulang bersama segenap rasa lelah yang berarti. Matahari di langit Barat kian menyipitkan ukurannya. Pelan-pelan melipat diri yang tentunya siap mengawali hari saat ini jua, yang antah-berantah di belahan bumi yang mana.


Meja ruang tengah digetar-getar seraya disambarkan suara dari ponsel. Bersinar jua layarnya. Sudah tertata sebuah nama di sana. Selepas salat isya didirikan oleh Ibu, Najla, dan Aini.


''HP-nya bunyi! Jangan-jangan-!'' Si kecil Aini tak sampai melepas mukenanya. Sudah diangkatkan jua sepasang kakinya itu menuju ruang tengah. Sedangkan Ibu dan Najla sekadar menggeleng-geleng kepala saja menonton tingkah Aini yang sudah paham siapa yang membuat ponsel itu berbunyi. Seorang Insan tercinta di Pulau Jawa yang mengorbankan waktu serta-merta tenaga demi keluarga tercinta.


''Bapak!!! Bapak baik-baik aja kan? Bapak udah makan, Pak? Hari ini Adek makan sama sayur bayam, yang masak Teteh, Pak. Bapak di sana makan sama apa?''


Terkekeh-kekeh jua Bapak di seberang sana. Hatinya menghangat mendengar kembali suara puteri bungsunya.


''Iya, Alhamdulillah baik. Eh Adek belum ngasih salam sama Bapak. Masa langsung ngomong aja.''


''Oh iya. Hehe. Assalamualaikum, Bapaknya Adek!''


Usai kalimat itu tercetuskan, satu gerakan cepat tangan Najla merampasnya.


''Waalaikumussalam. Iya, ini Bapaknya Adek sama Teteh. Jangan rebutan atuh.''


Berpindah tangan lagi ponsel itu ke tangan Aini. Sampai-sampai berpindah jua posisinya yang semula berdiri menjadi duduk pada salah satu kursi plastik. Seolah ia saja yang pantas berkuasa, serta yang menghabiskan perbincangan bersama Bapak. Ibu dan Najla lantas dibuatnya menjadi pendengar, serta penonton raut wajahnya yang bahagia bukan kepalang tanggung.


Hilir-mudik perbincangan yang dimayoritasi cetusan kalimat dari Aini bagaimana berkas-berkas kisah di sekolahnya beberapa hari ini. Tentang kawan, guru, pelajaran, samlai jajanan apa saja yang ia beli. Laksana tengah melapor kepada pimpinan tentang apa-apa saja yang terjadi.


''Adek sayang Bapak! Kalo pulang beliin Adek buah anggur lagi ya! Gentian Ibu sama Teteh pengen ngobrol. Adek mau belajar, biar pinter kata Bapak.'' Tawa kecil tersisip di akhir kalimat. Sebuah respons penyemangat suara dari seberang telepon itu pun terlantun. Aini menyerahkan ponsel yang sekadar ponsel tanpa aplikasi lagu, kamera, atau sejenisnya sosial media itu kepada Najla.


''Giliran pulsa Bapak udah mau abis, kamu kasihin Teteh sama Ibu. Awas aja besok Teteh duluan yang angkat telepon dari Bapak!''


''Wleee.'' Alih-alih runtutan kata perkatanya yang tiada terukur lagi panjangnya dilontarkan Aini. Terjulur sajalah lidahnya mengejek Najla.


''Bapak, kumaha damang? Ini Teteh sama Ibu, Pak.''


*Kumaha damang: Gimana baik.


''Alhamdulillah, damang. Teteh sareng Ibu damang?''


*Sareng\= Sama


''Damang, Pak.''


Ketenangan dan kelancaran percakapan amatlah bergantung pada kondisi sinyal. Laksana jantungnya saja jikalau dalam desah napas manusia. Sekadar empat menit lebih lima detik sajalah percakapan berlangsung. Hilir-mudik menggotong beberapa pembahasan, seraya tawa tak luput dari sana. Sampai akhirnya disudahi, tatlala Najla mengintip durasi telepon, nyatanya angka lima belas menit berada di sana. Benarlah, Aini yang malam ini memonopoli percakapan sampai sepuluh menit seorang diri. 

__ADS_1


***


Sepasang matanya masih saja menjamah bahasa asing yang butuh putaran cukup lama dalam kepala. Menerjemahkan satu-persatu kata, yang terkadang entah jua apa artinya. Pada relung hati, kendati demikian patutlah bersyukur. Sebab Najla tak terlalu membuat spasi ketidaktahuan sampai melebihi hitungan jari kaki dan tangan. Ia tak mahir berdialog Bahasa Inggris tetapi perihal membaca kutipan teks dalam bahasa Inggris, otaknya tak begitu kosong jua. Banyak pahamnya.


''Waktu tinggal sepuluh menit lagi, ya!'' Dikatakanlah oleh pengawas wanita berkerudung hijau itu usai melirik jarum pendek pada jam tangannha.


Penutup ujian pelajaran Bahasa Inggris. Menimbang-nimbang seraya merekahkan doa sebelum mengumpulkan lembar jawaban yang dilakukan Gadis bernama lengkap Najla Atifa itu.


Hari terakhir perjuangannya di masa Putih-Biru. Biarlah usai ia berusaha, lantas menjemputnya melalui doa serta perasaan tawakal. Menyerahkan diri tentang apa dan bagaimana hasilnya kepada Yang Mengatur Kehidupan.


Seperti biasa, sepulangnya Najla dari sekolahan, ia bersinggah ke masjid Al-Fatah dekat pasar tradisionl. Menyemaikan iman tuk kian diperkokohkan. Mengutuskan harapan dalam doa untuk dinyatakan. Terutama, laksana mendeskripsikan hatinya masih bersyukur dan mengingat kepada Sang Pemilik Kehidupan. Salat dzuhur usai ia dirikan.


Telapak kakinya memutar-mutar pedal sepeda lagi. Beruntunglah kini langit tak meriakkan panas sampai mampu menguras peluh. Ditelusurinya jalan aspal yang mulai bisa dihitung terdapat banyaknya lubang di sana. Membuat pergerakan sepedanya banyak meliuk-liuk menghindar.


Suara angin kecil mengembus pelan tak sampai di telinganya. Satu benda berujung tajam berhasil membuat lubang pada bannyak. Tiada terasa, lantas kian dikayuh kian beratlah kayuhannya. Kian bergoyang-goyang jua terasa dari ban belakang. Jemari Najla menarik rem sepeda.


''Aduh. Kayaknya bocor, deh.''


Benarlah. Hatinya mengeriput seketika. Sudah kondisi perut sedari berbisik, kerongkongan dilanda kemarau, ditambahlah pertanyaan porsi sabarnya kuat atau tidak karena ujian ban sepeda.


''Kenapa-''


''Kenapa?''


Kata yang sama lahir dari mulut yang berbeda. Kalimat Najla terbungkuslah seketika. Seseorang hendak menyamai perkataannya. Ia berbalik, didapatilah Ashad tengah menatap dengan sorot mata bertanya kepada Najla. Lelaki itu jua membawa sepeda. Memakai penutup kepala dengan helm sepeda.


''Enggak apa-apa, Ash.''


''Ban sepeda kamu bocor, Naj.''


''Ya terus kalau bocor kenapa?''


''Ya ditambal atau diganti atuh Najla.''


''Najla juga tahu. Makanya Najla mau cari tempat tambal ban. Assalamualaikum.''


''Waalaikumussalam.''


Tergesa-gesa langkahnya dibawa. Bagai seribu gerak kaki dalam hitungan menit ia kerahkan. Beberapa meter jauh dari Ashad, lelaki itu memanggilnya.


''Najla!''


Najla memutar kepala menyahut panggilan Ashad.


''Aku bantu! Kita tukeran sepeda!''


Sesuatu hendak mendobrak dada Najla. Mengepak tinggi setinggi-tingginya. Menyebarkan harum seluas-luasnya. Hanya saja dipaparkan angkuh dalam wajah. Ia menjauh. Meski senang. Ia menjauh. Allah tak suka makhluk-Nya berdua-duaan dengan lawan jenis bukan mukhrim.


***


Koment dan vote ya! Makasih😊

__ADS_1


Wassalamualaikum.


__ADS_2