
Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.
Masih di bawah
Naungan langit amatlah tinggi
Terbang kerap patah
Berlari kerap terperosok
Berjalan kerap jatuh
Tertatih lama sampai
***
''Perlombaan terbaik yang sesungguhnya adalah perlombaan saling ingin menjadi baik di mata Allah.''
(Lampung, )
***
Untuk pagi ini, dua lembar uang seratus ribuan sudah Ibu berikan kepada Najla. Dititipkannya jua kata-kata dan beberapa kalimat pada selembar kertas kecil agar tak sampai lupa lah apa saja yang perlu dibeli.
''Nah, ini daftar belanjaannya. Kacang kedelainya tinggal ambil aja di toko Pak Darno ya. Kemarin udah Ibu kasih uangnya, tapi kacangnya teh belum ada. Katanya hari ini udah ada.'' Kertas mungil berisi beberapa daftar belanjaan sudah berada di tangan Najla.
''Jadi cuma ambil kacang kedelai, beli seperempat bawang merah dan putih, tahu putih lima ribu, telur satu kilo, sama jagung manis satu bungkus?'' Bola matanya tak menghindar dari daftar belanjaan. Usainya mengatakan demikian, lantas naik lagi lah pandangannya menatap Ibu.
''Iya, Teh. Itu aja. Oya kalo uangnya masih sisa dan uang Teteh kurang buat fotokopi makalah, pake aja uang Ibu itu ya.''
''Siap, Ibu. Adek! Cepetan atuh udah jam 9 ini.''
''Cepetan, Dek!'' Ibu berseru jua menimpali perkataan Najla. Sambil berlalu jua kembali ke belakang, menjemur pakaian.
Sambil mengutak-atik ponsel, Najla terpaksa menunggu Aini. Dari kemarin tak sampai pudarlah bibirnya itu dalam senyuman. Tersebab sebuah gambar yang Aurel kirim di grup. Kali ini, jemarinya sibuk mengutarakan isi-isi pikiran pada grup baru yang hanya berisi tiga insan. Dirinya, Mina, dan Ismi. Tentang hari ini. Untuk hari ini. Untuk Aurel tentunya.
Usainya Najla berdiskusi di grup, hingga terjejal kembali lah ponselnya di tas selempangan, Aini urung menampakkan batang hidungnya. Masih mendekam diri di kamar, barangkali menghadap cermin.
Karena jengah, Najla bersandiwara. ''Ibu, Teteh berangkat ke pasar sendiri aja ya. Males nungguin Adek. Besok baru selesai dandan kayaknya mah.''
Mendengarnya, Aini bergerak cepat menaburkan bedak bayi di muka. Sekilas melihat penampilannya di cermin, lantas ia keluar dari kamarnya. Nyengir tanpa dosa. Berpakaian alakadarmya. Memakai bedak seperti biasanya. Astaga. Kali ini saja lah Najla dibuat ternganga karena waktu yang tersita tak sampai menunjukkan hasil yang begitu kentara. Sama saja, itu-itu saja dandanan Aini. Seperti anak kecil biasanya.
''Jadi, Teteh berjam-jam nunggu kamu tapi---''
''Ih. Ayo, Teh! Gak usah cerewet dulu.'' Aini menarik tangan Najla.
''Sebentar.''
''Naon atuh?''
Najla sedikit membungkukkan badannya. Jari jemari tergerak ke muka Aini, berlayarkan air muka yang menahan tawa.
''Bedak kamu belepotan, Sayang.''
Sudah hampir meledak emosi Aini, dikata sayang oleh Najla langsung mengempis lagi. Ia tersenyum lebar, dan langsung mengapit tangan Najla ke luar rumah. Pergi ke pasar mengendarai motor yang biasanya Ibu gunakan.
Perjalanan yang tak begitu panjang, menjadi amatlah panjang. Sebabnya perlu segunung kesabaran dan kehati-hatian dalam melaluinya. Terlebih lagi, Najla jarang menggunakan motor. Ia hampir-hampir kaku melakukannya. Namun kali ini, ia paksakan jua. Kekalau tak ada keberanian, tak akan pernah ada keberhasilan. Kapan bisanya kekalau masih saja berada dalam zona nyamannya mengendarai sepeda?
Di sana, di jalanan yang rindang daun pohon-pohonnya, serta merta menghambat tamparan matahari pagi. Tertambat pada daun-daun itu, barangkali suatu proses tengah bekerja. Senantiasa berdzikir kepada Allah dan berfotosintesis sebagaimana mestinya.
Aini duduk menyamping karena mengenakan rok. Kedua tangannya menggenggam kuat pinggang Najla. Di samping bawah motor, asapnya yang tak begitu kentara mengepul-ngepul dan perlahan hilang bersama sang bayu.
Alhasil, sekiranya dua puluh menit waktu tempuh, Aini bisa melepaskan genggamannya. Ia cukup lelah digonceng Najla. Ketakutan dibawa sang Kakak yang urung mahir tentu menjadi penyebabnya. Terlebih lagi, jalanan yang amat buruk dan jauh dari kata bagus, mulus, sampai batu-batu kecil nan tajam tergeletak di sana adanya. Kekalau tergilas ban motor, si pengendara tak pandai-pandai mengambil alih situasi, bisa jatuh jua lah.
''Aduk, Dek.'' Najla berbisik.
''Kenapa?'' Ia masih menatap datar sang Kakak usai turun dari motor.
__ADS_1
''Ini, lepas kunci helmnya teh gimana? Susah tau.''
''Adek mah gak bisa. Gak pernah pake helm Ibu. Gede, kayak capung kalo Adek pake mah.''
Masihlah jemari itu meraba-raba kunci helm. Ditekan, ditarik, masih tak jua berhasil.
''Mba, mau parkir kan motornya?''
''Eh i-iya, Om. Sebentar ambil kontaknya dulu.''
Ia bergegas mencabut kontak motor. Diberi kartu nomor tanda parkir oleh Pria yang disebutnya OM tadi. Seraya Pria itu menitahkan agar helmnya ditaruh di motor saja. Najla mengiyakan, kendati risaunya hati sudah tak bisa ia tahan-tahan jua. Hal sepele memang.
''Aduh gimana ini, Dek?''
''Ih lama Teteh mah. Cepetan atuh.''
''Enak aja cepet-cepet. Teteh gak bisa bukanya.''
''Bisa pake gak bisa buka. Kan lucu.''
''Bukannya bantuin malah ngomel-ngomel. Masa atuh helmnya harus Teteh bawa masuk ke pasar? Dipake aja terus gitu?''
''Teing ah.''
*Teing\= Entah.
Entah apa lagi yang jemarinya lakukan itu, dalam sekian menit kemudian masalah usai terpecahkan. Benda wajib dikenakan dalam berlalu lintas itu sudah bisa diangkat dan ditaruh di spion motor. Tanpa melulu minta untuk mengurung kepala Najla hingga harus diajaknya berkeliling seisi pasar.
Mulai disambanginya jua para penjaja bawang. Berkeliling di ruang lingkup pasar sayuran dan bahan pangan manusia. Satu persatu daftar belanjaan sudah terceklis dan masuk ke keranjang yang dibawanya. Untuk tugas terakhir, Najla memilih mengambil kacang kedelai usai mengambil motor di parkiran. Lokasi toko Pak Darno yang berada di tepi jalan membuatnya tak perlu memarkirkan motor kembali.
''Tumben Nduk, kamu yang ambil? Biasanya Ibu?'' tanya kuli tersebut sambil mengikat ujung karung dengan sehelai tali rafia.
''Iya. Ini sekalian mau nge-print makalah tugas akhir kelas 10, Pakde.''
Di balik tubuh Najla, tanpa diketahuinya Ashad berdiri di sana. Di samping Aini dan berbicara sedikit bervolumekan suara pelan. Sibuk saja Najla berbincang kecil jua dengan kuli tersebut. Hingga-hingga suara Aini dan Ashad tak sampai di telinga.
Biar dipintanya bantuan dari kuli toko agar meletakkan sekarung kecil kacang kedelai di tengah-tengah antara Aini dan Najla. Di depannya, tepat di belakang kepala motor menjadi tempat tas berisi belanjaan. Kuli tersebut memanggul sekarung kecil kacang kedelai di pundaknya. Dibawanya jua sampai motor Najla. Gadis itu mengikuti, seraya mencekal tangan Aini. Sedangkan Aini mengoceh-ngoceh tak jelas
''Teh, lepasin!''
''Kamu tuh kelamaan, Adek.''
''Teh, gak boleh pegang-pegang!''
''Nah iya, Pakde benar itu motornya.'' Najla malah menanggapi pertanyaan kuli tersebut.
''Teh!'' Aini menghadapkan mukanya di depan Najla. Seraya diangkatnya jua kedua tangan ke udara. Aini berada di hadapannya, tetapi sebuah tangan masih ia genggam. Tangan siapa ini? Hingga bola mata Najla cukup membelalak.
''Bukan makhram, Naj.'' Pemilik tangan itu berkata seraya menepis tangan Najla. Sudah kesal jua wajahnya.
''A-anu itu apa, ma-maaf. Najla teh gak sengaja. Tadi buru-buru.''
Sungguh tak sampai pikiran Najla untuk berpihak pada argumen bahwa kejadian tak disengaja itu sebuah bonus. Benar ia menaruh rasa pada Ashad, tetapi kini justru hatinya kalut. Ia takut walau tak disengaja. Ashad yang marah, pun terlebih lagi Allah yang marah.
Air muka Najla seolah dipertontonkan banyak pilihan hingga-hingga tak pandai memosisikan diri. Ingin membawa raga itu lepas dari depan Ashad, tersandung malu teramat jauh sebabnya.
''Serius. Aku minta maaf.'' Najla menekuk pandangannya. Jatuh tanpa menatap si tokoh yang ia mintai maaf. Tak ayal jua kedua tangannya saling merapat di depan dada. Sedikit bergetar.
Lain dari tenang, Ashad yang kini berpakaian baju kemeja hitam polos risau. Si daging tak bertulangnya laksana lupa cara berbicara. Sekadar jari jemari yang mengungkap kondisi hati, tak jauh-jauh dari perasaan bingung jua. Mengusap wajah, mengusap rambut, tengkuk, siku tangan, ah sampai akhirnya Najla menitikkan air mata Ashad masih tak bertindak jua.
''Maaf,'' ujar Najla. Berlalu bersama jemarinya yang sudah sedikit basah karena air mata yang ia seka barusan.
Bersalah. Bersalah. Bersalah.
***
Bersalah. Sebuah ruangan itu masih pengap untuk dirasa tenang. Sedikit ceroboh jua, di saat diri merasa dikejar waktu semua serba tak ternilai. Untuk sekadar membedakan tangan Aini atau bukan saja Najla tak mampu. Terburu-buru yang benar adanya kalau sifat demikian hadirnya dari syaitan. Ia rasa Ashad marah besar. Wajah lelaki itu mengusik saja di kepala, yang nantinya akan merah padam. Enggan melihat atau bahkan mendengar nama Najla saja, sungguh pasti sudah enggan. Berkesimpulan lah hati Najla ia tak mendapat kursi pandang yang baik lagi bagi lelaki itu. Hari-hari buruk sepertinya hadir di depan mata. Siap dipijakinya, bersama kepala yang tertunduk sahaja.
__ADS_1
''Teh! Lama banget sih abisin es dogernya?''
''Kenapa kamu gak bilang sama Teteh sih kalau itu bukan kamu, Dek? Kenapa?''
''Adek udah bilang tapi Teteh motong ucapan Adek terus. Salah Teteh itu mah.''
''Kamu tahu kan kalau itu dosa?''
''Tahu.''
''Jadi?''
''YA dosa.''
''Ih!!!'' Kelima jemari kanan Najla merapat. Badannya bangkit, dipintanya penjual es doger itu membungkus saja segelas esnya yang sama sekali tak sampai tersentuh seujung lidah. Ia jengah dan lelah, sampai-sampai percikan api dari dadanya tak bisa dicegah untuk tak mengepul sampai keluar. Berupa sikap si daging tak bertulang, atau jemari si peraba.
''Cepet kita pulang!'' Najla menarik tangan Aini.
Najla tersentil batinnya. Apa yang ia lakukan barusan? Menyakiti Aini? Bersegera hatinya istighfar. Terlebih menatap seorang gadis yang dari sisi penilaiannya baru kelas 3 SMA sudah berniqab. Indah. Sangat indah. Matanya yang teduh mampu menarik hati Najla untuk turut serta. Ya, turut serta berniqab. Hanya saja, kekalau masih dipandanginya dari cermin tubuhnya itu masih banyak sudut yang berdebu. Kekalau sudah main berniqab saja, ketakutan bisa melingkupi kekalau nantinya justru mencoreng makna muslimah berniqab karena ia yang masih banyak dosa. Hingga sebuah kebulatan yang menggebu-gebu di dadanya, ia termotivasi untuk terus bermuhasabah. Tiada henti. Pada waktunya, biarlah mampu membuat gadis itu berani seperti gadis yang baru saja ia lihat dan kagumi tadi.
Dalam satu bumi itu, tak sekadar satu hati saja yang masih dirundung asap-asap yang menyesakkan. Sebuah hati lagi yang sama-sama terjun pada skenario di luar alam sadar pun dirundung sesal. Lain arti, rasa bersalahnya bertumpu pada alasan telah menciptakan anakan sungai di mata Najla. Ia yang menjelma tak mampu menguasai diri di hadapan Najla menimbulkan tanya tersendiri. Kenapa? Mengapa? Bagaimana? Hal terparahnya, ia takut menyakiti Najla. Sebuah getaran asing yang singgah di ruang dadanya berhasil mengunci banyak sistem tubuh untuk merespons perkataan Najla tadi.
''Astaghfirullah. Semoga Najla teh gak apa-apa, ya Allah. Aamiin.''
Bangkitlah tubuhnya. Mengambil air wudhu di masjid pasar. Adzan Dzuhur di sekian menit ke depan siap menggema. Menggetarkan banyak hati yang memprioritaskan Allah, dan menulikan telinga bahi hati yang memprioritaskan dunia.
***
''Thanks ya untuk hari ini.''
''Seneng gak?'' Dava melepas kunci helm Aurel.
''Very happy.''
''Really?''
''Yes. Tentu.''
''Ya udah aku pulang, ya.''
Usai digantungnya helm itu di belakang motor, Dava berniat melepas diri dari hadapan Aurel. Pagi sampai sore ini sudah ia kikis waktu untuk kelopak-kelopak bunga yang harum baunya membingkai hati Aurel.
''Hati-hati ya!''
Ibu jemari Dava terangkat ke udara. Sebuah suara klakson motornya mengakhiri kepergian sore ini. Tak berlama-lama, Aurel bergegas masuk rumah. Matahari tak sampai lagi menampar helaian rambutnya yang hitam panjang itu. Pintu rumah menyeruak, pemandangan yang cukup ramai tetiba saja hadir kembali. Kejutan ketiga, usai didapatinya yang pertama dari Ayah, Bunda, dan Kak Natta, yang kedua Dava, dan kini yang ketiga dari ketiga sahabatnya.
''Barakallah fii umrik, Bule KW!'' Serempak mulut ketiganya berseru. Mata Najla yang masih sedikit lebam tersamarkan dengan binarnya yang turut bahagia untuk Aurel. Biarlah luka dirapatkan sendiri. Tak sampai dibagi-bagi pada orang terkasihnya.
''O M G!!!'' Aurel membekap mulutnya. Merangkul ketiga sahabatnya itu, mengabaikan nasi kuning di tangan Ismi. Kerinduan tetaplah kerinduan, nyatanya Aurel tak berlama-lama jua dalam puncak amarah. Benar tak sukanya karena diabaikan. Namun biarlah, sudah berlalu jua. Pun sudah diterimanya permohonan maaf dari mereka.
''Makasih banget ya.''
''Sama-sama. Sudah kamu orang jangan mendramatisir begitu. Cepat potong nasi tumpengnya!'' titah Ismi.
''Siappp!!!''
Sudah dibumbungkan doa dari muara hati Aurel. Dipotong-potongnya jua nasi kuning berbentuk kerucut itu, lantas ia serahkan kepada Najla, Ismi, dan Mina. Ayah dan Bunda izin pergi sejak kedatangan ketiga sahabatnya itu. Sedang Natta mengolahragakan tubuhnya di lapangan futsal. Kebiasaan tiap-tiap sore.
''Oya! Aku juga punya hadiah buat kalian.''
''Yang semalam?'' tanya Mina. Aurel tak acuh, berlalu ke kamar lantas kembali dengan tiga undangan di tangannya.
''Taraaaaa. Spesial untuk kalian. Pokoknya harus hadir dan lihat aku tampil menari menyambut kedatangan Pak Presiden.''
***
Terimakasih. Bagian ini terinspirasi dari lomba drama di Sekolah.
__ADS_1
wassalamualaikum😉koment+vote👌😊