Atas Nama Cinta

Atas Nama Cinta
Bab 4: Ini Suratnya


__ADS_3

Bismillah. Assalamualaikum. Selamat membaca.


Temu ditemu saja


Kusut-kusut sampullah yang ada


Rona-rona jiwalah yng sebenarnya


Disimpulkan tak digamblangkan


Menatap pesan yang ku tuturkan


Kebahagiaan tak terbantahkan


***


''Ada keangkuhan dan ketidak pedulian. Bukan perihal tidak suka, melainkan karena tak ingin terlihat bahwa sebenarnya perasaan suka itu sudah ada.''


(Lampung, 22 Oktober 2018.)


***


Beberapa bungkus kedelai itu siap berproses untuk menjadi tempe. Uap kecilnya masih terembuskan di mulut baskom karena urung sepenuhnya dingin usai direbus tadi. Di belakang rumah, Ibu masih mencuci panci bekas rebusan kedelai. Sedangkan beberapa bungkus tempe itu telah tertata karena Najla yang membungkusnya sedangkan Aini yang mengipasi. Agar cepat dinginlah, meski sedari tadi masih saja uap panasnya berkeliaran. Menjadi kegiatan rutin bagi Kakak beradik itu kekalau bersua tanggal merah. Hari-hari gemerlap tawa dalam permainan bukanlah lorong pada perjalanan usia mereka terutama Aini. Gadis kecil itu lebih memonopoli hari libur bersama Ibu dan Najla. Mengekori ke mana saja kaki Najla dibawa.


''Udah, Dek. Udah gak kerasa panas kok kedelainya. Kamu makan dulu sana, bentar lagi jam setengah lima. Kamu harus ngaji.''


''Sama Teteh yuk!''


Najla menarik kerudung bagian belakangnya sendiri. Dirasa-rasa kian jatuh ke depan saja posisinya karena berlama-lama menunduk.


''Teteh kan bantuin Ibu atuh.''


''Ya udah Adek gak mau makan kalau Teteh juga gak makan!'' Aini mengerucutkan bibirnya.


''Makan dulu. Sana ambil sendiri.''


''Teteh juga harus makan!''

__ADS_1


''Teteh masih kenyang, Dek.''


''Halah bohong! Pokoknya Teteh makan juga! Adek ambilin makannya.''


Dibiarkanlah Aini pergi ke dapur. Jemari Najla masih saja cekatan membungkus kedelai-kedelai itu ke dalam plastik serta daun pisang. Sekian detik, Ibu datang jua. Tampak titik-titik air melekat dari kulit kedua tangannya. Lantas tak lagi sepasang tangan sajalah yang membungkus biji-biji kedelai itu. Dua pasang tangan yang dalam hitungan menit sudah bertambah-tambah hasilnya. Dua kali lebih cepat.


Irama langkah kecil yang terentak pelan dari dapur kian jelas saja suaranya. Najla mendongak, mendapi Aini membawa sepiring nasi beserta tumis daun singkong. Tampak memuncaklah makanan pokoknya. Tiada guyonan perihal Aini yang memang ingin makan satu piring bersama Najla.


***


Matahari telah meringkuk dari perputaran waktunya di Barat. Bulan menggelar cahayanya bak selimut bumi. Lampu-lampu rumah mulai dinyalakan. Membantu penglihatan para insan yang tak bisa berkutik di antara rimba kegelapan. Selemah dan tak seberdaya itulah namanya manusia.


Di antara lampu yang menyala pada rumah-rumah di dusun 8 Desa Cicurup itu nyatanya satu atap masih tak tampak kehidupan di dalamnya. Gelap yang bergumam. Nyata, di sisi kanan dinding rumah sebuah angka nol pada alat elektronik listrik PLN menjerit-jerit kehausan pulsa listrik. Kendati diam seribu bahasa, sudah terkantuk-kantuklah alatnya menanti sang empunya mengisi ulang perutnya. Sebuah benda bertubuh putih dengan cahaya kecil di ujung atasnya melambai-lambai sebarkam cahaya semampunya.


''Ibu, lampunya padam. Adek gak mau belajar ah! Masa di rumah temen-temen Adek lampunya hidup!'' Sebuah buku cetak IPA didorongnya pelan-pelan. Berliku-likulah daging bibirnya sebab dikerucutkan. Tangan wanita berusia empat puluhan di sampingnya itu tergerak membuka buku IPA Aini.


Sebatas suara yang terjamahkan oleh Najla dari aktivitas Adik dan Ibunya itu di ruang tengah. Ia masih meraba-rabakan jari serta merta otak sendiri pada suatu pencarian. Sesuatu telah tiada dari tempat persemayamannya. Kini berkacak pingganglah ia. Cahaya lilin masih menggeliat kecil di atas sebuah piring yang Najla pegang di sebelah tangannya.


''Aduh, suratnya teh di mana ya? Perasaan Najla taruh di laci meja. Kenapa gak ada?'' Jarinya mengurut-urut pelipis bagai upaya meringannya pusing yang melanda. Seraya masih menyebar luaskan pandangan kepada segala penjuru kamar kecil itu. Kekhawatiran jelaslah bertandang kala itu jua. Belitan benang jahit tak kunjung mengendur dari isi kepala. Kian tertarik. Kian keras. Kian terusik. Pikiran Najla dicabangkan kepada pemikiran buruk, kekalau selembar kertas biasa yang sebenarnya luar biasa maknanya itu berada pada genggaman Aini. Yang mengerikan, jatuh pada telapak tangan Ibu, dan sampai ke telinga Bapak. Biarlah laksana bumi akan jatuh menimpa tubuh kecil Najla.


''Ya Allah tolongin Najla.''


Kedua kakinya laksana melemah saja. Terduduklah pada kursi kayu sebagai pasangan meja belajar Najla. Sekadar meja dari potongan papan yang disusun tanpa tangan dari seniman kayu. Kepalanya dijatuhkan di atas meja, sesuatu terasa mengganjal dari permukaan meja ke tangannya.


''Loh! Alhamdulillah. Kamu aku cari-cari teh ternyata di sini? Hadeeh.''


Ruang dalam dadanya berdesir tenang kembali. Apa yang ditelisik sampai ke ruang-ruang sempit justru ditemukan di tempat terbuka. Kelalaian akibat terkaman isi kepala yang tak mampu sebaik air di telaga.


''Teh! Kamu ngapain di kamar? Adek kamu lagi belajar, Teh. Jangan berisik atuh ya!''


Satu tepukan diluncurkan jua ke bibirnya. Suara di luar kendali atas hasil dari syaraf spontanitasnya.


''Iya, maaf, Bu.''


Konsentrasi Najla kembali terkumpul kepada selembar surat yang kini terkapar di tangannya. Bercak-bercak di kasa lampu menari indah. Bau kertas lama tercium sudah. Dua tahun rupanya menjadi kategori waktu yang cukup lama untuk menuakan sebuah kertas. Hanya saja tintanya masih awet sehitam jelaga.


Untuk Ashad, salam dari Najla. Assalamualaikum.

__ADS_1


Waktu itu, sejak kelas 5 SD sepertinya Najla mulai suka sama Ash. Banyak hal yang Najla kagumi dari Ash. Tapi Najla gak bisa nyebutinnya satu-satu. Terlalu banyak.


Ash, kamu teh merasa gak sejak itu tiap kita di kelas, terus kamu tanya cara ngerjain tugas dari guru ke Najla, Najla teh gugup pisan. Kadang cara Najla ngomong jadi heunte karuan.


Ash, Najla pikir teh kita gak bakalan satu sekolah lagi. Tapi ternyata kita satu sekolah lagi, Ash. Hehe. Najla seneng tau. Nah sekarang Najla nulis surat ini pas Najla abis daftar ulang SMP, dan ketemu sama Ash.


Tapi, Najla tau. Allah melarang siapapun yang bukan mukhrim untuk saling mencintai di luar alasan karena saudara seiman. Padahal, kayaknya Najla lagi berada di luar alasan itu. Ash juga pasti tau tentang itu. Jadi, Najla simpan aja surat ini. Ash jangan sampek tau. Allah sama Malaikat aja yang tau ya!


Najla bakal diem-diem aja Ash. Ya udah, wassalamualaikum.


Sang penulis sekaligus pembaca surat itu mengusap-usapkan kedua tangannga ke wajah. Ditepuk-tepuk jualah pipinya, dibersamai perasaan geram karena tak kuasa menahan malu. Biarlah kini memang ia saja yang baru usai membaca guratan di masa silam itu. Kendati ketidak sangkaan masih meledakkan bomnya di dalam urat malu. Ruang hati bergemuruh. Ruang dalam kepalanya ingin mengamnesiakan gerak-gerik tangannya di kala itu. Lantas, kini ingin dibekapnya saja diri sendiri dengan selimut. Malu! Sungguh ia malu.


''Aaa kunaon Najla dulu selebay eta?'' Suaranya ditahan saja. Barang suaranya satu oktav lebih tinggi, teguran dari Ibu akan didapat lagi.


*Eta\= Itu.


Sepasang matanya menebarkan arti dengan menatap lilin yang tinggal separuh tubuh. Di atas sebuah piring di sisi meja. Gelimangan rasa yang tak mampu tertutupi masih ia artikan tetap SUKA. Kelas 5, kelas 6, kelas 7, kelas 8, kelas 9, dan sampai detik ini bagai tiada beda rasanya. Yang sulit dipahami, potongan kisah siang tadi saat bertemu Ashad sulit dicegah untuk tidak menarik-narik ujung bibirnya agar selalu tersenyum. Yang sulit ditemukan jawabannya, mengapa cinta tak bervokal pun beriramakan apa saja justru tak mampu mematikan rasa itu? Kian tumbuh subur saja pada hati yang cintanya selalu diusahakan mengutamakan Sang Pencipta, pada pikiran yang sebenarnya lengang dari kisah kedekatan.


Sejak SMP, Najla dan Ashad tidak satu kelas lagi. Sampai kini. Lantas di siang tadi, pertemuan itu ialah pertemuan singkat yang mengikis jarak jauh keduanya selama tiga tahun. Sekadar melihat dari jarak tak dekat. Najla sebisa mungkin menjauh, menjauh, dan menjauh. Dalam prinsipnya, sekuat apapun cinta kepada Allah, mampu luluh jua jikalau syaitan sudah bertindak melebihi kemampuan menggoda manusia. Najla bisa saja tergoda. Maka, ia lebih memilih menjaga.


''Astaghfirullah astaghfirullah astaghfirullah,'' bisiknya menggetarkan lonceng hati yang hampir tak terkuasai hanya karena satu adegan langka di hari ini.


''Teteh!!!''


Brak!


Terdorong keras jua pintu kamar berbahan triplek itu. Engselnya lupa tak ia sangkutkan, jadi terbuka begitu sajalah kala Aini mendorongnya dengan sekali keras. Cepat-cepat, ia menyelundupkan surat tersebut di balik kerudung. Daya pikirnya langsung bergerak. ''Tadi suratnya ada di meja, pasti abis dibaca si Adek waktu itu. Semoga dia gak inget.''


''Apa, Dek? Pake teriak-teriak segala.''


''Bapak barusan SMS, katanya beberapa bulan lagi pulang! Adek bakalan makan buah anggur lagi! Horeee! Teteh gak bakalan Adek kasih!''


Usai memberitakan kabar kepulangan Bapak, berlalulah Aini dari kamar Najla usai menjulurkan lidah. Tanda kemenangan bagai ia kuasai, akan menikmati buah anggur acap kali Bapak pulang kampung.


Najla bahagia saja melihat tingkah Aini. Meletakkan surat itu pada tempat yang dirasanya lebih aman, lantas berlalu ke kamar mandi. Cuci kaki, sikat gigi, dan berwudhu. Alam mimpi siap ia jelajahi setelah itu dan setelah membaca beberapa surat pendek serta doa mau tidur. Biarkan kisah hari ini tak mengusik hati. Hanyut ke ruang mimpi.


***

__ADS_1


Bersambuuunng. Komentarnya dong😊


Terima kasih. Wassalamualaikum.


__ADS_2